DIALEKTIKA


oleh Friedrich Engels

Mengembangkan sifat umum dialektika sebagai ilmu-pengetahuan mengenai antarketerkaitan-antarketerkaitan (inter-connections), berlawanan dengan metafisika.)

_________

Maka itu, hukum-hukum dialektika diabstraksikan dari sejarah alam dan masyarakat manusia. Karena hukum-hukum itu tidak lain yalah hukum-hukum yang paling umum dari kedua aspek perkembangan historikal, maupun dari pikiran itu sendiri. Dan, sebenarnyalah, hukum-hukum itu pada dasarnya dapat dipulangkan pada tiga buah hukum:

Hukum perubahan (transformasi) kuantitas menjadi kualitas dan vice versa;

Hukum penafsiran mengenai yang berlawanan (opposites);

Hukum negasi dari negasi.

Ketiga-tiganya dikembangkan oleh Hegel dalam gaya idealisnya sebagai sekedar hukum-hukum pikiran: yang pertama, dalam bagian pertama karyanya Logic, dalam Doktrin mengenai Keberadaan (Being); yang kedua mengisi seluruh bagian kedua dan bagian yang paling penting dari Logic, Doktrin mengenai Hakekat (Essence); akhirnya, yang ketiga merupakan hukum fundamental bagi rancang- bangun seluruh sistem itu. Kesalahannya terletak pada kenyataan bahwa hukum-hukum ini disisipkan pada alam dan sejarah sebagai hukum-hukum pikiran, dan tidak dideduksi dari situ. Inilah sumber dari seluruh pendekatan yang dipaksakan dan seringkali melampaui batas (keterlaluan); semesta-alam, mau-tidak-mau, mesti bersesuaian dengan sebuah sistem pikiran yang sendiri cuma produk dari suatu tahap tertentu dari evolusi pikiran manusia. Jika kita membalikkan semuanya itu, maka segala sesuatu menjadi sederhana, dan hukum-hukum dialektika yang tampak begitu luar-biasa misterius dalam filsafat idealis seketika menjadi sederhana dan jelas seperti siang-hari bolong.

Lagi pula, setiap orang, bahkan yang sedikit saja mengenal Hegel, akan menyadari bahwa dalam beratus pasase Hegel berkemampuan memberikan gambaran-gambaran individual yang paling jelas mengenai hukum-hukum dialektika dari alam dan sejarah.

Di sini kita tidak bermaksud menulis sebuah buku pedoman mengenai dialektika, melainkan hanya untuk menunjukkan bahwa hukum-hukum dialektika itu adalah hukum-hukum nyata mengenai perkembangan alam, dan karenanya berlaku juga bagi ilmu-pengetahuan alam teoretikal. Karenanya kita tidak dapat memasuki bagian dalam antar-keterkaitan hukum-hukum ini satu sama yang lainnya.

1. Hukum perubahan dari kuantitas menjadi kualitas dan vice versa. Untuk maksud kita, dapat kita ungkapkan ini dengan mengatakan bahwa dalam alam, dengan suatu cara yang secara tepat ditetapkan untuk setiap kasus individual, perubahan-perubahan kualitatif hanya dapat terjadi oleh penambahan kuantitatif atau pengurangan kuantitatif dari materi atau gerak (yang dinamakan energi).

Semua perbedaan kualitatif dalam alam berlandaskan pada perbedaan-perbedaan komposisi (susunan) kimiawi atau pada kuantitas- kuantitas atau bentuk-bentuk gerak (energi) yang berbeda-beda atau, sebagaimana hampir selalu halnya, pada kedua-duanya. Maka itu tidaklah mungkin mengubah kualitas sesuatu tanpa pertambahan atau pengurangan materi atau gerak, yaitu, tanpa perubahan sesuatu yang bersangkutan itu secara kuantitatif. Dalam bentuk ini, karenanya, azas misterius dari Hegel itu tampak tidak hanya sangat rasional, melainkan bahkan jelas sekali.

Nyaris tidak perlu dinyatakan lagi, bahwa berbagai keadaan benda-benda secara allotropik (allotropy=variasi sifat-sifat fisikal tanpa perubahan substansi) dan agregasional (terkumpul jadi satu), karena mereka bergantung pada berbagai pengelompokan molekul-molekul, bergantung pada jumlah-jumlah yang lebih banyak atau lebih sedikit dari gerak yang dikomunikasikan pada benda-benda itu.

Tetapi, bagaimana tentang perubahan bentuk atau gerak, atau yang disebut energi? Apabila kita mengubah panas menjadi gerak mekanikal atau vice versa, tidakkah kualitas diubah sedangkan kuantitasnya tetap sama? Benar sekali. Tetapi dengan perubahan bentuk atau gerak itu adalah seperti dengan kejahatan-kejahatan Heine; setiap orang jika sendirian bisa saja saleh, luhur-berbudi, karena untuk kejahatan-kejahatan selalu diperlukan dua orang.42) Perubahan bentuk atau gerak selalu merupakan suatu proses yang terjadi di antara sedikitnya dua benda, yang satu kehilangan sejumlah tertentu gerak dari suatu kualitas (misalnya, panas), sedangkan yang satu lagi memperoleh kuantitas gerak dari kualitas lain yang bersesuaian (gerak mekanikal, listrik, dekomposisi kimiawi). Di sini, karenanya, kuantitas dan kualitas saling bersesuaian satu sama lain. Sejauh ini belum ditemukan kemungkinan untuk mengubah suatu bentuk gerak menjadi satu bentuk gerak yang lain dalam sebuah benda tunggal yang terisolasi.

Di sini yang pertama-tama kita permasalahkan yalah benda-benda tidak-hidup (benda mati); hukum yang sama berlaku bagi benda-benda hidup, tetapi ia beropperasi dalam kondisi-kondisi yang sangat kompleks dan pada waktu sekarang pengukuran kuantitatif acapkali masih belum mungkin bagi kita.

Jika kita membayangkan sesuatu benda mati terpotong menjadi potongan-potongan lebih kecil dan lebih kecil lagi, mula-mula tidak terjadi perubahan kualitatif. Namun ini ada batasnya: jika kita berhasil, seperti dengan penguapan (evaporasi), dalam memperoleh molekul-molekul terpisah itu dalam keadaan bebas, maka benarlah bahwa kita lazimnya dapat membaginya lebih lanjut, namun hanya dengan suatu perubahan kualitas secara menyeluruh. Molekul itu didekomposisi ke dalam atom-atomnya yang terpisah-pisah, yang mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda dengan sifat-sifat molekul itu. Dalam hal molekul-molekul itu terdiri atas berbagai unsur kimiawi, atom-atom atau molekul-molekul unsur-unsur itu sendiri muncul sebagai gantinya molekul persenyawaan itu; dalam hal molekul-molekul unsur-unsur, tampillah/muncullah atom-atom bebas yang menimbulkan akibat-akibat/efek-efek kualitatif yang sangat berbeda-beda; atom-atom bebas dari oksigen yang lahir secara mudah dapat menghasilkan yang tidak pernah dapat dicapai oleh atom-atom dari oksigen atmosferik, yang terikat menjadi satu di dalam molekul itu.

Tetapi, molekul itu secara kualitatif juga berbeda dari massa benda yang padanya molekul itu termasuk. Ia dapat melakukan gerakan-gerakan secara bebas dari massa itu dan selagi yang tersebut belakangan itu tampak lembam, yaitu misalnya, vibrasi- vibrasi panas; melalui suatu perubahan posisi dan keterkaitan dengan molekul-molekul di sekitarnya ia dapat mengubah benda itu menjadi suatu allotrope atau suatu keadaan agregasi yang berbeda.

Dengan demikian kita melihat bahwa operasi pembagian yang semurninya kuantitatif itu mempunyai suat batas di mana ia menjadi terubah menjadi suatu perbedaan kualitatif: massa itu terdiri semata-mata atas molekul-molekul, tetapi ia sesuatu yang pada pokoknya berbeda dari molekul itu, tepat sebagaimana yang tersebut belakangan berbeda dari atom. Perbedaan inilah merupakan dasar bagi pemisahan mekanika, sebagai ilmu dari massa-massa ruang angkasa dan bumi, dari ilmu fisika, sebagai mekanika molekul-molekul, dan dari ilmu kimia, sebagai ilmu fisika atom-atom.

Di dalam ilmu mekanika, tidak terjadi kualitas-kualitas; paling-paling keadaan-keadaan seperti keseimbanghan (ekuilibrium), gerak, energi potensial, yang kesemuanya bergantung pada perpindahan/peralihan (transference) gerak yang dapat diukur dan sendirinya berkemampuan ekspresi (pernyataan) kuantitatif. Karenanya, sejauh perubahan kualitatif terjadi di sini, itu ditentukan oleh suatu perubahan kuantitatif yang bersesuaian.

Di dalam ilmu fisika, benda-benda diperlakukan sebagai yang secara kimiawi tidak dapat diubah atau tidak berbeda; kita berurusan dengan perubahan-perubahan keadaan-keadaan molekularnya dan dengan perubahan bentuk gerak, yang dalam semua kasus, sekurang-kurangnya pada satu dari kedua sisinya, membuat molekul itu beraksi. Di sini setiap perubahan adalah suatu transformasi kuantitas menjadi kualitas, suatu konsekuensi dari perubahan kuantitatif dari jumlah suatu atau lain bentuk gerak yang dikandung di dalam benda itu atau yang dikomunikasikan padanya.

“Demikianlah temperatur (suhu) air adalah, pertama-tama, sesuatu yang tidak ada artinya dalam hubungan likuiditasnya; betapapun dengan peningkatan atau pengurangan suhu air cair, tercapailah suatu titik di mana keadaan kohesi ini berubah dan air itu diubah menjadi uap atau es.” (Hegel, Enzyklopädie, Gesamtausgabe, Bd.VI, Hal.217.)

Demikian pula, suatu kekuatan arus minimum tertentu dipersyaratkan agar kawat platinum dari sebuah lampu pijar listrik menyala; dan setiap metal memiliki suhu pijar dan padunya, setiap cairan mempunyai titik beku dan didihnya yang tertentu pada suatu tekanan tertentu –sejauh alat kita memungkinkan kita mereproduksi suhu yang diperlukan; akhirnya, setiap gas juga mempunyai titik kritikalnya, di mana ia dapat dicairkan lewat tekanan dan pendinginan. Singkatnya, yang disebut konstan-konstan fisikal untuk sebagaian besar tidak lain dan tidak bukan adalah penandaan-penandaan (designations) titik-titik nodal di mana perubahan43) kuantitatif (berupa) pertambahan atau pengurangan gerak menghasilkan perubahan kualitatif dalam keadaan benda bersangkutan, di mana, karenanya, kuantitas diubah menjadi kualitas.

Namun, bidang di mana hukum alam yang ditemukan oleh Hegel itu merayakan kejayaannya yang paling penting yalah bidang ilmu kimia. Ilmu kimia dapat diistilahkan ilmu mengenai perubahan-perubahan kualitatif dari benda-benda sebagai hasil komposisi kuantitatif yang berubah. Hal itu sudah diketahui oleh Hegel sendiri. (Logik, Gesamtausgabe, III, hal. 433.) Seperti dalam hal oksigen: jika tiga atom bersatu ke dalam sebuah molekul, gantinya yang lazimnya dua buah, kita mendapatkan ozone, suatu benda yang amat sangat berbeda dari oksigen biasa dalam bau dan reaksi- reaksinya. Dan memang, berbagai proporsi yang di dalamnya oksigen berpadu dengan nitrogen atau sulfur, yang masing-masing menghasilkan suatu substansi yang secara kualitatif berbeda dari setiap lainnya! Betapa berbeda gas ketawa (nitrogen monokside N2O2) dari nitrik anhydride (nitrogen pentoxide, N2O5)! Yang pertama adalah suatu gas, yang kedua pada suhu-suhu normal adalah suatu substansi kristalin padat. Namun begitu, seluruh perbedaan dalam komposisi yalah bahwa yang kedua itu mengandung oksigen yang lima kali lipat lebih banyak daripada yang pertama, dan di antara keduanya itu terdapat tiga okside nitrogen lebih banyak (NO, N2O3, NO2), yang masing-masingnya secara kualitatif berbeda dari dua yang pertama dan satu sama lainnya.

Hal ini tampak lebih menyolok lagi dalam deretan gabungan-gabungan karbon homolog, terutama dari hidrokarbon-hidrokarbon yang lebih sederhana. Dari parafin-parafin normal, yang terendah jalah methani, CH4; di sini keempat kaitan atom karbon dijenuhi oleh empat atom hidrogen. Yang kedua, ethane, C2H6, mempunyai dua atom karbon yang tergabung dan keenam kaitan bebas itu dijenuhi dengan enam atom hidrogen. Dan begitulah seterusnya, dengan C3H8, C4H10, dan seterusnya, sesuai rumusan aljabar CnH2n+2, sehingga dengan setiap penambahan CH2 terbentuk sebuah benda yang secara kualitatif berbeda dari sebuah yang terdahulu. Tiga anggota paling rendah dari deretan itu adalah gas-gas, yang tertinggi yang dikenal, hexadecane, C16H34, adalah suatu benda padat dengan suatu titik didih 270°C. Tepat seperti itu pula yang berlaku bagi deretan alkohol-alkohol primer dengan formula CnH2n+2O, yang diderivasi (secara teoretikal) dari parafin-parafin, dan deretan asam-asam lemak monobasik (formula CnH2nO2). Perbedaan kualitatif yang dapat ditimbulkan oleh penambahan kuantitatif C3H6, diajarkan oleh pengalaman jika kita minum Ethyl Alkohol, C2H6O, dalam bentuk cair (yang dapat diminum) tanpa penambahan alkohol-alkohol lainnya, dan pada suatu kesempatan lain minum ethyl alkohol yang sama itu, tetapi dengan menambahkan sedikit saja amyl alkohol, C5H12O, yang menjadi pembentuk utama dari minyak pelebur (fusel) yang mengerikan itu. Kepala seseorang pasti akan menyadari akan hal itu di pagi esok harinya, suatu siksaan yang sangat; sehingga seseorang bahkan dapat mengatakan bahwa kemabokan itu, dan perasaan “keesokan pagi” berikutnya itu, adalah juga kuantitas yang diubah menjadi kualitas, di satu pihak dari ethyl alkohol dan di lain pihak dari tambahan C3H6 ini.

Di dalam deretan ini kita menjumpai hukum Hegelian itu dalam bentuk yang lain lagi.. Anggota-anggota yang lebih rendah hanya memperkenankan suatu saling-pengaturan tunggal dari atom-atom. Namun, jika jumlah atom-atom yang digabung menjadi sebuah molekul mencapai suatu ukuran yang secara tetap ditentukan bagi setiap deretan, maka pengelompokan atom-atom itu di dalam molekul dapat terjadi dalam lebih dari satu cara; sehingga dua atau lebih substansi isomerik dapat dibentuk, yang mempunyai jumlah-jumlah sama dari atom-atom C, H dan O di dalam molekul itu, tetapi bagaimanapun secara kualitatif berbeda satu sama lainnya. Kita bahkan dapat memperhitungkan berapa banyak isomer-isomer seperti itu dimungkinkan bagi setiap anggota dari deretan itu. Demikianlah, dalam deretan-deretan parafin, bagi C4H10 terdapat dua, bagi C5H12 terdapat tiga; di antara anggota-anggota lebih tinggi, jumlah isomer yang mungkin bertambah dengan sangat cepat. Karenanya, sekali lagi, adalah jumlah kuantitatif atom-atom itu di dalam molekul yang menentukan kemungkinan itu dan, sejauh yang telah dibuktikan, juga keberadaan sesungguhnya dari isomer-isomer yang secara kualitatif berbeda seperti itu.

Masih ada lagi. Dari analogi substansi-substansi yang kita kenal/ketahui dalam setiap dari deretan-deretan ini, kita dapat menarik kesimpulan-kesimpulan mengenai sifat-sifat fisikal dari anggota-anggota yang masih belum dikenal/diketahui dari deretan-deretan ini dan, sedikitnya bagi anggota-anggota yang segera menyusul anggota-anggota yang diketahui, memprediksikan sifat-sifatnya, titik didihnya, dan sebagainya, secara agak pasti.

Akhirnya, hukum Hegelian kesahihannya tidak hanya bagi substansi-substansi gabungan, melainkan juga bagi unsur-unsur kimiawi itu sendiri. Kini kita mengetahui bahwa

“sifat-sifat kimiawi unsur-unsur adalah suatu fungsi periodikal dari bobot-bobot atomiknya” (Roscoe-Schorlemmer, Ausführliches Lehrbuch der Chemie, II, hal.823),

dan bahwa, karenanya, kualitas mereka ditentukan oleh kuantitas berat atomik mereka. Dan pengujian atas hal ini telah dilakukan dengan gemilang. Mendeleyev telah membuktikan bahwa berbagai celah terdapat/terjadi dalam deretan-deretan unsur-unsur bersangkutan yang diatur menurut berat-berat atomik yang menandakan bahwa di sini unsur-unsur baru masih harus ditemukan. Jauh sebelumnya telah diuraikannya sifat-sifat kimiawi umum dari salah-satu dari unsur-unsur yang belum diketahui ini, yang disebutnya eka-aluminium,44) karena itu menyusul sesudah aluminium di dalam deretan-deretan yang dimulai dengan yang tersebut belakangan, dan ia memprediksikan perkiraan berat khusus dan atomik maupun volume atomiknya. Beberapa tahun kemudian, Lecoq de Bois-baudran benar-benar menemukan unsur ini, dan prediksi-prediksi Mendeleyev cocok benar dengan hanya kelainan-kelainan sangat kecil. Eka-aluminium dinyatakan dalam gallium (ibid., hal. 828). Dengan cara penerapan–secara tidak sadar–hukum Hegel mengenai transformasi kuantitas menjadi kualitas, Mendeleyev mencapai suatu hasil ilmiah yang luar biasa, yang tidaklah berlebih- lebihan jika disamakan dengan hasil Leverrier dalam memperhitungkan orbit planet yang hingga saat itu belum dikenal, yaitu planet Neptune.

Di dalam ilmu biologi, seperti halnya dalam sejarah masyarakat manusia, hukum-hukum yang sama berlaku pula pada setiap langkah, namun kita lebih suka berurusan dengan contoh-contoh dari ilmu- ilmu pasti, karena di sini kuantitas-kuantitas dapat diukur dan dilacak secara cermat.

Barangkali orang terhormat yang sama yang hingga kini telah menolak transformasi kuantitas menjadi kualitas sebagai mistisisme dan transendentalisme yang tidak masuk akal, kini akan menyatakan bahwa itu benar-benar sesuatu yang sangat gamblang, tidak berarti, dan biasa-biasa saja, yang telah lama mereka gunakan, dan dengan begitu mereka tidak mendapatkan pelajaran apapun yang baru. Tetapi dengan–untuk pertama kalinya–telah dirumuskan suatu hukum perkembangan umum dari alam, masyarakat dan pikiran, dalam bentuknya yang kesahihannya bersifat universal, itu untuk selamanya akan merupakan suatu langkah yang bermakna historikal. Dan apabila tuan-tuan ini selama bertahun-tahun telah menyebabkan ditransformasikannya kuantitas dan kualitas hingga tercampur aduknya satu sama yang lainnya, tanpa mengetahui apa yang sedang mereka lakukan itu, maka mereka mesti menghibur diri mereka sendiri dengan Monsieur Joudain-nya Molière yang sepanjang hidupnya mengucapkan prosa tanpa sedikitpun mengerti yang dikatakannya.45)

KATA-PENGANTAR LAMA PADA [ANTI]-DÜHRING. TENTANG DIALEKTIKA
oleh Friedrich Engels

Karya berikut ini sama sekali tidak berasal dari suatu “dorongan kalbu”. Sebaliknya, temanku Liebknecht dapat bersaksi akan usahanya yang keras untuk membujuk diriku mengarahkan sorotan kritik pada teori paling baru Herr Dühring mengenai sosialisme. Sekali kuputuskan untuk melakukan hal itu, aku tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyelidiki teori ini, yang mengklaim merupakan buah praktikal terakhir dari suatu sistem filosofikal baru, dalam kaitannya dengan sistem ini, dan dengan demikian memeriksa sistem itu sendiri. Karenanya aku terpaksa mengikuti Herr Dühring ke dalam wilayah yang sangat luas, di mana ia berbicara mengenai segala hal yang mungkin dan mengenai hal-hal lain pula. Itulah menjadi asal-usul serentetan karangan yang muncul dalam Vorwärts Leipzig dari awal tahun 1877 dan seterusnya dan disajikan di sini sebagai suatu kesatuan yang berangkaian.

Apabila, karena sifat hal-ikhwalnya, kritik atas sebuah sistem, yang begitu sangat tidak berarti sekalipun segala puji-pujian diri, disajikan dengan begitu terinci, maka ada dua keadaan boleh disebutkan sebagai permaafan. Di satu pihak kritik ini memberikan kesempatan padaku untuk menguraikan—dalam bentuk positif—pandanganku di berbagai bidang mengenai masalah-masalah kontroversial yang dewasa ini mempunyai makna ilmiah yang sangat umum atau praktikal. Dan, sekali sedikitpun tidak terpikirkan olehku sebuah sistem lain sebagai sebuah alternatif pada sistem Herr Dühring, diharapkan bahwa, sekalipun beraneka-ragam bahan yang telah kuperiksa, para pembaca tidak akan luput melihat antar-kaitan yang juga terkandung dalam pandangan-pandangan yang telah kuajukan.

Di pihak lain, Herr Dühring yang “pencipta-sistem” sama sekali bukanlah sebuah gejala terisolasi dalam Jerman masa-kini. Sudah beberapa lamanya di negeri itu, sistem-sistem filosofikal, terutama natural-filosofikal telah bermunculan berlusin-lusin bagaikan jamur di musim hujan, belum lagi kita sebutkan sistem-sistem baru yang tak terhitung banyaknya mengenai politik, ekonomi, dsb. Presis seperti di negara modern, dianggap bahwa setiap warganegara berkemampuan menjatuhkan keputusan akan segala permasalahan yang mengenainya ia dipanggil untuk memberikan suaranya; dan presis seperti itu dalam ekonomi dianggaplah bahwa setiap pembeli adalah seorang ahli mengenai semua barang-dagangan yang bertepatan dibelinya untuk kepentingannya sendiri—anggapan-anggapan serupa itulah kini mesti diputuskan dalam ilmu-pengetahuan. Setiap orang dapat menulis mengenai segala hal dan “kebebasan ilmu” justru terdiri atas orang-orang yang dengan sengaja menulis mengenai hal-hal yang tidak mereka pelajari dan mengemukakannya sebagai satu-satunya metode yang benar-benar ilmiah. Namun Herr Dühring adalah salah satu tipe paling karakteristik dari ilmu-semu yang penuh-sok ini, yang di Jerman dewasa ini di mana-mana mendesakkan dirinya ke depan dan menenggelamkan segala sesuatu dengan omong-kosong muluk-muluk yang gegap-gempita. Omong-kosong sublim dalam puitri, dalam filsafat, dalam ekonomi, dalam historiografi; omong-kosong muluk-muluk yang mengklaim suatu keunggulan dan kedalaman pemikiran dalam membedakannya dari omong-kosong pasaran yang sederhana dari bangsa-bangsa lain; omong-kosong muluk-muluk, produk massal paling karakteristik dari industri intelektual Jerman—murah tapi buruk—persis seperti barang-barang buatan-Jerman lainnya, hanya ia, malangnya, tidak dipamerkan bersama-sama di Philadelphia.26) Bahkan sosialisme Jerman akhir-akhir ini, teristimewa sejak contoh bagus dari Herr Dühring, telah gemar melakukan sejumlah besar omong-kosong muluk-muluk; kenyataan bahwa gerakan praktikal Sosial-Demokratik begitu pelit memmbiarkan dirinya disesatkan oleh omong-kosong muluk-muluk ini merupakan sebuah bukti lagi mengenai keadaan kesehatan yang luar biasa dari klas pekerja kita di sebuah negeri di mana, kecuali ilmu-pengetahuan alam, hampir segala sesuatu pada waktu sekarang sedang berpenyakitan.

Ketika Nägeli, dalam pidatonya pada pertemuan para sarjana ilmu- alam di Munich, menyarakan gagasan bahwa pengetahuan manusia tidak akan pernah memperoleh watak kemaha-tahuan,27) ia pasti tidak mengetahui mengenai prestasi-prestasi Herr Dühring. Prestasi-prestasi ini telah memaksa diriku mengikutinya ke dalam sejumlah bidang di mana aku paling-paling dapat bergerak dalam kapasitas seorang diletante (pemerhati tetapi belum ahli). Ini terutama berlaku bagi berbagai cabang ilmu-pengetahuan alam, di mana hingga kini seringkali dianggap sebagai kepongahan bagi seseorang “awam” untuk ikut mengatakan sesuatu. Namun, aku sedikit banyak diberanikan, oleh sebuah ungkapan yang diucapkan—juga di Munich—oleh Herr Virchow dan di tempat lain didiskusikan secara lebih terinci, bahwa di luar bidang keahliannya sendiri, setiap sarjana alam hanyhalah seorang setengah-pemula,28) vulgo: awam. Tepat sebagaimana seorang ahli seperti itu dapat dan mesti memberanikan diri kadang-kadang melanggar bidang-bidang bertetangga, dan diberi kelonggaran di sana oleh para ahli bersangkutan dalam hal kekurang-cermatan kekurang-cermatan kecil dan kecanggungan dalam pengungkapan, maka telah kuberanikan diriku mengutib/menyitat proses-proses alamiah dan hukum-hukum alam sebagai contoh-contoh untuk membuktikan pandangan-pandangan teoretikalku secara umum, dan aku berharap bahwa diriku memperoleh kelonggaran-kelonggaran serupa.*) Hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu pengetahuan alam modern memaksakan diri pada setiap orang yang berurusan dengan masalah-masalah teoretikal dengan kekuatan tak-terelakkan yang sama yang mendorong ilmuwan alam dewasa ini mau-tak-mau pada kesimpulan-kesimpulan teoretikal umum. Dan di sini terjadilah suatu kompensasi tertentu. Apabila para ahli teori merupakan setengah-pemula di bidang ilmu pengetahuan alam, maka para sarjana alam dewasa ini sesungguhnya sama setengah-pemulanya di bidang teori, dalam bidang yang hingga kini disebut filsafat.

Dalam setiap kurun, dan karenanya juga dalam kurun kita, pikiran teoretikal merupakan sebuah produk historikal, yang pada waktu-waktu berlainan mengambil bentuk-bentuk yang sangat berbeda dan, dengan begitu, isi/kandungan yang sangat berbeda pula. Ilmu mengenai pikiran karenanya, seperti semua ilmu lainnya, adalah suatu ilmu-pengetahuan historikal, ilmu-pengetahuan mengenai perkembangan historikal pikiran manusia. Dan ini juga penting sekali bagi penerapan pikiran secara praktikal di bidang-bidang empirikal. Karena, pertama-tama, teori hukum-hukum pikiran sama sekali bukanlah sebuah “kebenaran abadi” yang ditegakkan sekali dan untuk selamanya, sebagaimana penalaran filistine memba-yangkannya dengan kata “logika.” Logika formal itu sendiri telah menjadi medan kontroversi yang sengit dari zaman Aristoteles hingga sekarang. Dan dialektika sejauh ini telah diteliti secara cukup mendalam hanya oleh dua pemikir, Aristoteles dan Hegel. Adalah justru dialektika itu yang merupakan bentuk pemikiran yang paling penting bagi ilmu pengetahuan-alam masa kini, karena hanya dialektika itulah menawarkan analogi bagi, dan dengan demikian metode penjelasan dari proses-proses evolusioner yang terjadi dalam alam, antar-kaitan antar-kaitan pada umumnya, dan transisi-transisi dari satu bidang penelitian ke bidang penelitian lainnya.

Kedua, suatu pengenalan dengan jalannya evolusi pikiran manusia secara historikal, dengan pandangan-pandangan mengenai antar-kaitan antar-kaitan umumnya di dunia eksternal yang diungkapkan pada berbagai waktu, diperlukan/disyaratkan oleh ilmu-pengetahun alam secara teoretikal karena alasan tambahan bahwa ia memenuhi sebuah kaidah mengenai teori-teori yang dikemukakan oleh ilmu itu sendiri. Namun, di sini kurangnya pengenalan sejarah filsafat cukup sering dan secara mencolok dipamerkan. Proposisi-proposisi yang diajukan dalam filsafat berabad-abad yang lalu, yang acapkali telah lama dikesampingkan secara filosofikal, seringkali dikemukakan oleh para ilmuwan alam yang berteori sebagai kearifan baru-“gres” dan bahkan telah menjadi mode untuk beberapa waktu lamanya. Memang suatu prestasi besar dari teori mekanikal tentang panas yang telah memperkuat azas mengenai konservasi energi dengan pengajuan bukti-bukti segar dan pengedepanannya kembali secara menonjol; tetapi mungkinkah azas ini muncul ke permukaan sebagai sesuatu yang mutlak baru jika para ahli fisika yang terhormat itu teringat kembali bahwa hal itu telah sudah dirumuskan oleh Descartes? Karena fisika dan kimia sekali lagi beroperasi nyaris secara ekslusif dengan molekul-molekul dan atom-atom, maka mau tidak mau filsafat atomik Yunani kuno telah tampil kembali ke depan. Namun betapa dangkalnya itu diperlakukan oleh yang terbaik di antara mereka! Demikianlah Kekulé berkata pada kita (Ziele und Leistungen der Chemie) bahwa Democritus, yang semestinya Leucippus, yang melahirkannya, dan ia berkukuh bahwa Dalton ialah yang paling pertama menyatakan keberadaan (eksistensi) atom-atom elementer yang secara kualitatif berbeda-beda dan adalah yang pertama pula menjulukkan pada atom-atom itu berat-bobot berbeda-beda yang menjadi sifat berbagai unsur. Padahal, setiap orang dapat membaca dalam Diogenes Laertius (X, §§ 43-44 dan 61)28) bahwa Epicurus sudah menyatakan pada atom- atom itu perbedaan-perbedaan—tidak saja mengenai kebesaran (magnitude) dan bentuk, melainkan juga mengenai “berat,” yaitu, ia dengan caranya sendiri sudah mengenal berat atomik dan volume atomik.

Tahun 1848, yang sebenarnya tidak membawa apapun hingga suatu ketuntasan di Jerman, di Jerman sana hanya menghasilkan sebuah revolusi di bidang filsafat. Dengan terjun ke dalam bidang yang praktikal, dengan mendirikan permulaan-permulaan industri modern dan pengecohan, dengan memprakarsai kemajuan perkasa yang dialami ilmu-pengetahuan alam di Jerman dan yang dilantik oleh para pengkhotbah keliling yang seperti-karikatur, yaitu Vogt, Büchner, dan sebagainya, bangsa Jerman itu dengan tegas membalikkan dirinya dari filsafat klasik Jerman yang telah tersesat di padang pasir Hegelianisme-Lama Berlin. Hegelianisme-Lama Berlin memang layak menerima (perlakuan)itu. Tetapi suatu bangsa (nasion) yang berniat mencapai puncak-puncak ilmu-pengetahuan tidak mungkin berhasil tanpa pikiran teoretikal. Tidak hanya Hegelianisme, tetapi juga dialektika dibuang ke laut—dan itu justru pada saat sifat dialektikal dari proses-proses alamiah tanpa dapat ditahan memaksakan dirinya pada pikiran, manakala—karenanya—hanya dialektika dapat membantu ilmu-pengetahuan alam dalam menyeberangi bergunung-gunung teori—maka itu timbullah suatu kelengangan tak-berdaya dalam metafisika-lama. Yang berlaku di kalangan umum sejak itu yalah, di satu pihak, refleksi-refleksi hambar akan Schopenhauer, yang digayakan bagi kesesuaian kaum filistin, dan kemudian bahkan bagi Hartmann; dan di pihak lainnya, materialisme vulgar pengkhotbah-keliling dari seorang Vogt dan seorang Büchner. Di universitas-universitas, varitas-varitas eklektisisme yang paling beraneka-ragam bersaing satu sama lain dan hanya memiliki satu kesamaan, yaitu, bahwa kesemuanya itu hanya diramu dari sisa-sisa filsafat-filsafat lama dan bahwa kesemuanya itu sama-sama metafisikal. Segala yang diselamatkan dari sisa-sisa filsafat klasik adalah suatu neo-Kantianisme tertentu, yang kata-akhirnya yalah “benda-dalam-dirinya-sendiri” (thing-in-itself) yang selama-lamanya tidak-dapat-diketahui, yaitu, sekeping dari Kant yang paling tidak layak dilestarikan. Hasil akhirnya yalah inkoherensi (kengawuran/kekacauan) dan kebingungan pikiran teoretikal yang kini berkuasa.

Orang nyaris tidak dapat memungut sebuah buku teori mengenai ilmu-pengetahuan alam tanpa memperoleh kesan bahwa para sarjana alam itu sendiri merasa betapa mereka itu dikuasai oleh kekacauan dan kebingungan itu, dan bahwa apa yang dinamakan filsafat yang kini beredar, sama sekali tidak menawarkan suatu jalan keluar kepada mereka. Dan di sini memang benar-benar tidak ada jalan keluar, tidak ada kemungkinan untuk mencapai kejelasan, kecuali dengan berbalik, dengan suatu atau lain bentuk, dari pemikiran metafisika kepada pemikiran dialektikal.

Balik pada pemikiran dialektikal ini dapat berlangsung dalam berbagai cara. Ia dapat terjadi secara spontan, semata-mata karena kekuatan penemuan-penemuan ilmu-alam itu sendiri, yang menolak untuk membiarkan dirinya dipaksa ke dalam alas metafisika Procrustean lama. Tetapi itu suatu proses berkepanjangan yang menyita banyak tenaga, yang selama itu disertai sejumlah sangat banyak pergesekan tak-perlu yang mesti ditanggulangi. Sampai batas yang jauh proses itu sudah berlangsung, terutama dalam biologi. Ia dapat sangat dipersingkat jika para ahli teori di bidang ilmu-pengetahuan alam lebih mengakrabkan diri mereka dengan filsafat dialektikal dalam bentuk-bentuk yang telah ada secara historikal. Di antara bentuk-bentuk ini terdapat dua buah yang mungkin istimewa bermanfaat bagi ilmu-pengetahuan alam modern.

Yang pertama ialah filsafat Yunani. Di sini pikiran dialektikal masih tampil dalam kesederhanaannya yang murni, masih belum terganggu oleh rintangan-rintangan penuh pukauan yang dipasang oleh metafisika abad ke tujuhbelas dan ke delapanbelas—Bacon dan Locke di Inggris, Wolff di Jerman—dengan jalannya sendiri, dan yang dengan itu membendung kemajuannya sendiri, dari suatu pemahaman mengenai yang bagian pada suatu pemahaman mengenai yang menyeluruh, pada suatu wawasan mengenai antar-keterkaitan umum benda-benda. Di antara orang-orang Yunani—hanya karena mereka belum cukup maju untuk membedah, menelaah alam—alam masih dipandang sebagai suatu keutuhan, pada umumnya. Keterkaitan universal dari gejala-gejala alam tidak terbukti dalam hal partikular-partikular; bagi orang-orang Yunani ia adalah hasil dari kontemplasi langsung. Di sinilah letak ketidak-sepadannya (kekurangan) filsafat Yunani, yang karenanya, ia kemudian mesti mengalah pada gaya-gaya pandangan lain mengenai dunia. Tetapi di sini juga letak keunggulannya di atas semua lawan metafisikal mereka berikutnya. Apabila metafisika Yunani benar dalam hal partikular-partikular, maka dalam hal metafisika orang-orang Yunani itu benar pada umumnya. Itulah sebabnya mengapa kita dalam filsafat diharuskan, seperti juga di begitu banyak bidang lainnya, untuk kembali dan kembali lagi pada prestasi-prestasi orang-orang kecil yang bakat-bakat universal dan kegiatannya memastikan kepadanya suatu tempat di dalam sejarah perkembangan manusia yang tidak akan pernah dapat diklaim oleh orang-orang lain. Namun, sebab lainnya yalah, bahwa aneka bentuk filsafat Yunani dalam embrionya mengandung, dalam keadaan awal kelahirannya, hampir semua cara pandangan mengenai dunia di masa-masa kemudian. Karena itu, ilmu-pengetahuan alam teoretikal juga dipaksa untuk kembali pada orang-orang Yunani apabila ia berhasrat menjejaki kembali sejarah asal-usul dan perkembangan azas-azas umum yang dipakainya dewasa ini. Dan wawasan ini semakin mendesakkan dirinya ke depan. Telah menjadi semakin langka contoh-contoh mengenai para sarjana ilmu-alam yang, sambil sendiri menggarap fragmen-fragmen filsafat Yunani, misalnya atomika, seperti dengan kebenaran-kebenaran abadi, memandang rendah orang-orang Yunani dengan kecongkakan Baconian, karena orang-orang Yunani itu tidak memiliki ilmu-pengetahuan alam empirikal. Bagi wawasan ini saja jauh lebih baik untuk melangkah pada suatu pengenalan yang sungguh-sungguh akan filsafat Yunani.

Bentuk dialektika yang kedua, yaitu yang paling dekat pada para naturalis Jerman, yalah filsafat Jerman klasik, dari Kant hingga Hegel. Di sini sudah dilakukan suatu permulaan, yaitu bahwa telah menjadi mode untuk kembali pada Kant, bahkan terpisah dari neo-Kantianisme yang disebut di muka. Sejak pengungkapan bahwa Kant adalah pengarang dari dua hipotesis yang brilyan, tanpa mana ilmu-pengetahuan alam teoretikal dewasa ini jelas-jelas tidak dapat maju—teori, yang tadinya dijulukkan pada Laplace, mengenai asal-usul sistem matahari dan teori mengenai penghambatan peredaran (rotasi) bumi oleh pasang-surut—Kant kembali dihormati oleh kalangan sarjana ilmu-alam, sebagaimana yang memang layak diterima oleh Kant. Namun mempelajarai dialektika dalam karya-karya Kant akan merupakan suatu tugas yang sia-sia bersusah-payah dan berganjaran-kecil, karena kini telah terdapat, dalam karya-karya “Hegel,” suatu kompendum yang serba-lengkap mengenai dialektika, sekalipun itu dikembangkan dari suatu titik-keberangkatan yang sama sekali salah.

Setelah—di satu pihak—reaksi terhadap “filsafat alam” melepas dayanya dan merosot menjadi sekedar cercaan—suatu reaksi yang terutama dibenarkan oleh titik-keberangkatan yang salah ini dan degenerasi tak-berdaya dari Hegelianisme Berlin; dan sesudah, di pihak lain, ilmu-pengetahuan alam secara teramat mencolok ditinggalkan dalam keterpurukan oleh metafisika eklektik dewasa ini sehubungan dengan persyaratan-persyaratan teoretikalnya, barangkali ada kemungkinan untuk sekali lagi menyebut nama Hegel di depan para sarjana ilmu-alam tanpa meman-cing tarian St.Vitus yang dengan begitu mengasyikkan diperagakan oleh Herr Dühring.

Pertama-tama sekali mesti ditegaskan bahwa masalahnya di sini sama sekali bukanlah hal mempertahankan titik-berangkat Hegel: bahwa jiwa, pikiran, ide, adalah primer dan bahwa dunia real hanyalah sebuah salinan (copy) dari ide itu. Feuerbach sudah meninggalkan hal itu. Kita semua sependapat, bahwa di setiap bidang ilmu-pengetahuan, dalam ilmu-pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan historikal, orang mesti mulai dari “faktum-faktum” (fakta) tertentu, dalam ilmu-pengetahuan alam, karenanya, dari berbagai bentuk material dan berbagai bentuk gerak materi;*) bahwa karena itu, juga dalam ilmu-pengetahuan alam antar- keterkaitan antar-keterkaitan tidak boleh dibangun ke dalam fakta, melainkan mesti ditemukan di dalamnya, dan manakala ditemukan, mesti diverifikasi sejauh mungkin lewat eksperimen.

Ia juga bukan masalah mempertahankan isi dogmatik dari sistem Hegelian sebagaimana itu dikhotbahkan oleh para Hegelian Berlin dari aliran yang lebih tua dan aliran yang lebih muda. Maka itu, dengan jatuhnya titik-berangkat idealis, sistem yang dibangun di atasnya, khususnya filsafat alam Hegelian, juga ikut jatuh. Namun mesti diingatkan, bahwa polemik para sarjana ilmu-pengetahuan alam terhadap Hegel, sejauh mereka memang memahami Hegel secara tepat, semata-mata ditujukan terhadap kedua hal ini: yaitu, titik-berangkat idealis itu, dan konstruksi (rancang-bangun) sistem itu yang sewenang-wenang dan mengingkari fakta.Setelah semua ini dijadikan pertimbangan, masih tersisalah dialektika Hegel. Adalah jasa Marx bahwa, berlawanan dengan Eníyovo yang cuma sedang-sedang, congkak, rewel, yang kini berbicara besar di Jerman yang berkebudayaan,28) ia yang pertama kali mengedepankan kembali metode dialektikal yang telah dilupakan, kaitannya dengan dialektika Hegelian dan perbedaannya dari yang tersebut belakangan itu, dan sekaligus telah menerapkan metode ini dalam Capital pada/atas faktum-faktum suatu ilmu-pengetahuan empirikal, ekonomi politik. Dan ia melakukannya sedemikian berhasil sehingga, bahkan di Jerman, aliran ekonomi yang lebih baru melampaui sistem perdagangan-bebas yang vulgar hanya dengan menyalin dari Marx (dan seringkali secara tidak tepat), dengan berdalih (berpura-pura) mengritiknya.

Dalam dialektika Hegel masih berlaku inversi yang sama dari semua antar-keterkaitan seperti dalam semua cabang lainnya dalam sistemnya. Tetapi, sebagaimana dikatakan Marx: “Mistifikasi yang diderita dialektika dalam tangan Hegel, sedikitpun tidak menghalanginya untuk menjadi yang paling pertama menyajikan bentuk keberlakuannya (bekerjanya) secara umum secara komprehensif dan sadar. Dengan Hegel dialektika itu berdiri di atas kepalanya. Ia mesti dibalikkan agar berdiri secara benar, apabila orang hendak menemukan inti-rasional di dalam kulit mistikalnya.”29)

Namun, di dalam ilmu-pengetahuan alam sendiri, kita cukup sering berjumpa dengan teori-teori di mana hubungan yang sesungguhnya diberdirikan di atas kepalanya, refleksinya diambil dari bentuk aslinya dan yang karena itu perlu/mesti dibalikkan agar berdiri secara benar (di atas kakinya). Teori-teori seperti itu cukup sering berdominasi selama waktu panjang. Manakala selama hampir dua abad panas itu dipandang sebagai suatu substansi istimewa yang misterius, dan bukannya suatu bentuk gerak dari materi biasa, itu justru merupakan satu kasus seperti itu dan teori mekaninal mengenai panas melaksanakan pembalikan itu tadi. Namun begitu, fisika yang didominasi oleh teori kalorik menemukan serangkaian hukum yang sangat penting mengenai panas dan membuka jalan, khususnya melalui Fourier30) dan Sadi Carnot, bagi konsepsi yang benar, yang kini untuk bagiannya mesti membalikkan secara tepat hukum-hukum yang ditemukan oleh pendahulunya, untuk menerjemahkannya ke dalam bahasanya sendiri.*) Demikian pula, di dalam ilmu-kimia (chemistry), teori flogistika (phlogistics) pertama-tama memberikan bahannya, dengan seratus tahun kerja-eksperimental, dengan bantuan itu Lavoisier berhasil menemukan—di dalam oksigen yang diperoleh Priestley—antipode sesungguhnya dari flogiston yang fantastik itu dan dengan demikian dapat membuang ke laut seluruh teori flogistika. Tetapi ini sama sekali tidak menyingkirkan hasil-hasil eksperimental mengenai ilmu-pengetahuan flogistika. Bahkan sebaliknya daripada itu. Mereka itu bertahan, hanya formulasinya yang dibalikkan, diterjemahkan dari flogistika ke dalam bahasa kimiah yang kini berlaku dan dengan demikian mempertahankan kesahihannya.

Hubungan dialektika Hegelian dengan dialektika rasional adalah sama seperti hubungan teori kalorik dengan teori mekanikal mengenai panas dan hubungan teori flogistika dengan teori Lavoisier.

ILMU-PENGETAHUAN ALAM DALAM DUNIA SPIRITUAL
oleh Friedrich Engels

Dialektika yang telah menemukan jalannya ke dalam kesadaran umum dinyatakan dalam pepatah tua, bahwa yang ekstrem-ekstrem itu bertemu. Bersesuaian dengan ini kita mestinya nyaris tidak akan salah dalam mencari derajat paling ekstrem dari fantasi, kepercayaan, dan ketahyulan, tidak dalam gaya kecenderungan ilmu-pengetahuan alam yang, seperti filsafat Jerman mengenai alam, mencoba memaksakan dunia objektif ke dalam kerangka-kerja pikiran subjektifnya, melainkan lebih pada kecenderungan sebaliknya, yang, dengan lebih mengutamakan pengalaman semata-mata, memperlakukan pikiran dengan penghinaanb penuh keangkuhan dan benar-benar telah sampai pada keekstreman kekosongan pikiran yang paling jauh. Aliran ini merajalela di Inggris. Bapaknya, Francis Bacon yang sangat dipuja-punja, sudah mengajukan tuntutan agar metode induktifnya, metode empirikalnya yang baru itu dijalankan demi untuk mencapai, di atas segala-galanya, lewat cara-caranya: kehidupan yang lebih panjang, peremajaan—hingga batas tertentu, perubahan sikap dan ciri-ciri tubuh, transformasi tubuh yang satu menjadi tubuh yang lain, produksi spesies baru, kekuasaan atas udara dan produksi badai-badai. Ia mengeluh bahwa penelitian-penelitian seperti itu telah ditinggalkan, dan dalam sejarah alamnya ia memberikan resep-resep definitif untuk membuat emas dan melaksanakan berbagai keajaiban. Secara sama, Isaac Newton dalam usianya yang tua teramat menyibukkan dirinya dengan menguraikan Wahyu St. John (Santo Johanes) Maka tidaklah mengherankan apabila pada tahun-tahun belakangan ini empirisisme Inggris dalam sosok sejumlah wakil-wakilnya—dan bukannya yang terburuk dari mereka—seperti terjatuh menjadi korban tidak tertolong lagi dari ocehan-roh dan penglihatan-roh yang diimport dari Amerika.

Sarjana ilmu-alam pertama yang termasuk di sini yalah ahli zoologi dan botani terkemuka, Alfred Russel Wallace, yang serempak dengan Darwin mengajukan teori mengenai perubahan spesies lewat seleksi alamiah. Dalam buku kecilnya, On Miracles and Modern Spiritualism, London, Burns, 1875, ia mengisahkan bahwa pengalaman-pengalaman pertamanya di cabang pengetahuan alam ini berasal dari tahun 1844, ketika ia mengikuti ceramah-ceramah Spencer Hall mengenai mesmerisme dan sebagai hasilnya melakukan eksperimen-eksperimen serupa dengan murid-muridnya.

“Aku sangat tertarik pada subjek itu dan mengikutinya dengan penuh semangat.”(hal.119)

Ia tidak saja menghasilkan tidur magnetik dibarengi gejala kekakuan artikular dan hilangnya sensasi lokal, ia juga menguatkan kebenaran peta tengkorak Gall, karena dengan menyentuh salah- satu organ Gall, maka kegiatan yang bersesuaian ditimbulkan pada pasien yang dimagnetisasi dan diperagakan dengan gerakan-gerakan yang sepadan dan hidup. Selanjutnya, dibuktikannya bahwa pasiennya, hanya dengan disentuh saja, ikut merasakan semua sensasi sang operator; ia membuatnya mabok dengan segelas air seketika ia mengatakan pada pasien itu bahwa dalam gelas itu adalah brandi. Ia dapat menjadikan salah seorang dari orang-orang muda itu sedemikian tololnya, bahkan dalam keadaan sadar, sehingga pemuda itu tidak mengetahui lagi namanya sendiri, suatu prestasi—namun—yang mampu dicapai oleh guru-guru sekolah lainnya tanpa mesmerisme segala. Dan begitulah seterusnya.

Nah, kejadiannya ialah bahwa aku juga menyaksikan Spencer Hall ini pada musim dingin tahun 1843-44 di Manchester. Ia adalah seorang penglenik yang sangat sedang-sedang saja, yang mengelilingi negeri dengan pengayoman sejumlah pendeta dan melakukan peragaan-peragaan magnetiko-frenologikal dengan seorang wanita muda untuk dengan itu membuktikan keberadaannya Tuhan, kekekalan roh, dan ketidak-benaran materialisme yang sedang dikhotbahkan pada waktu itu oleh kaum Owen di semua kota-besar. Wanita itu dipulaskan dalam tidur magnetik dan kemudian, seketika operator itu menyentuh bagian-bagian dari tengkorak sesuai salah satu organ-organ Hall, wanita itu secara berlimpah memperagakan gerak-gerik dan sikap-sikap teatrikal dan demonstratif yang mencerminkan kegiatan organ bersangkutan; misalnya, untuk organ filoprogenitif ia membelai-belai dan menciumi seorang bayi imajiner, dsb. Lebih dari itu, Tuan Hall yang baik itu telah memperkaya geografi tengkorak Hall dengan sebuah pulau baru: Barataria32): tepat di puncak tengkorak (batok kepala) telah ditemukannya sebvuah organ pemujaan (venerasi), dengan disentuhnya titik itu, wanita dalam hipnose itu berlutut, merangkapkan kedua tangannya dalam berdioa, dan kepada para penonton yang filistin dan terpukau itu melukiskan suatu malaikat yang tenggelam dalam pemujaan. Itulah klimaks dan kesudahan peragaan itu. Eksistensi Tuhan telah dibuktikan.

Pengaruhnya atas diriku dan salah seorang kenalanku adalah sama seperti pengaruhnya atas Tuan Wallace; gejala-gejala itu menarik buat kami dan kami berusaha mencari tahu hingga seberapa jauh kami dapat mereproduksikannya. Seorang anak laki-laki yang sadar sesadar-sadarnya menawarkan dirinya sebagai subjek. Dengan menatap ke dalam matanya, atau dengan membelai-belainya, membuatnya tapnpa sedikitpun kesulitan ke dalam keadaan hipnotik. Namun, karena kami tidak begitu percaya seperti Tuan Wallace dan bekerja (melakukan itu) dengan kurang bersemangat, kami mencapai hasil-hasil yang sangat berbeda. Kecuali kekakuan otot-otot dan hilangnya sensasi, yang mudah dihasilkan, kami juga menemukan siuatu keadaan kepasivan kemauan secara total yang dibarengi suatu hiper-kepekaan yang aneh dari sensasi. Pasien itu, ketika dibangkitkan dari letharginya itu dengan rangsangan eksternal, memperagakan kelincahan yang jauh lebih besar daripada dalam keadaan sadar. Tiada jejak sesuatupun hubungan misterius dengan operator: siapapun dapat dengan sama mudahnya membuat yang tidur itu menjadi aktif. Untuk membuat organ-organ kranial (tengkorak) Gall itu beroperasi adalah sesuatu yang sangat mudah sekali bagi kami; kami bahkan melakukan yang lebih jauh, kami tidak hanya dapat saling menggantikan organ-organ itu yang satu dengan yang lainnya, atau membuat tempat mereka di mana saja dalam seluruh tubuh, melainkan kita juga membuat sejumlah organ-organ lain semau kami, organ-organ untuk menyanyi, bersiul, berseruling, menari, bertinju, menjahit, memasang batu, mengisap tembakau, dsb. dan kami dapat membuat tempat keberadaannya (kedudukannya) di mana saja menurut kehendak kami. Wallacde membuat pasien-pasiennya mabok dengan minum air, sedangkan kami menemukan di ibu-jari kaki sebuah organ kemabokan (titik mabok) yang cuma perlu disentuh untuk menghasilkan pelakonan komedi kemabokan yang paling bagus. Namun, harus dipahami betul, tiada satu pun organ menunjukkan tanda aksi sampai pasien itu dibikin mengerti mengenai apa yang diharapkan dari dirinya; anak laki-laki itu segera menyempurnakan dirinya dengan berlatih sedemikian rupa, sehingga sekedar indikasi saja sudah mencukupi. Organ-organ yang diproduksi dengan cara itu kemudian mempertahankan kesahihannya untuk kesempatan-kesempatan ditidurkan lagi di kemudian hari, selama organ-organ itu tidak diubah dengan cara yang sama. Pasien itu memang memiliki ingatan rangkap, yang ksatu untuk keadaan sadar dan yang kedua yang sangat terpisah untuk keadaan hipnotik itu. Mengenai kepasivan kemauan dan ketundukannya secara mutlak pada kemauan seorang ketiga, ini kehilangan semua tampilan keajaibannya jika kita memperhatikan bahwa seluruh keadaan itu dimulai dengan penundukan kemauan pasien itu pada kemauan sang operator, dan tidak dapat dihasilkan tanpa itu. Seorang magnetor magikal yang paling perkasa di dunia akan kehabisan dayanya pada saat pasiennya menertawakannya.

Sementara kami dengan skeptisisme kami yang tak-keruanan dengan demikian menemukan bahwa landasan perklenikan magnetiko-frenologikal terletak pada serangkaian gejala yang untuk sebagai besar hanya berbeda dalam derajatnya dari gejala-gejala keadaan sadar dan tidak memerlukan interpretasi mistikal, “semangat” Tuan Wallace membawa dirinya pada serentetan penipuan-diri, dan demi itu ia menguatkan peta tengkorak Gall dalam segala perinciannya dan menekankan suatu hubungan misterius antara operator dan pasien.*) Dalam seluruh kisah Tuan Wallace itu, yang kesungguhannya mencapai derajat naïveté’ (naivitas, kepandiran), menjadilah jelas bahwa ia tidak lebih perduli untuk menyelidiki latar-belakang sebenarnya dari perklenikan itu daripada dalam mereproduksi semua gejala itu dengan mempertarohkan apapun. Hanya kerangka pikiran inilah yang diperlukan seseorang yang aslinya seorang sarjana untuk dengan cepat sekali diubah menjadi seorang ahli dengan jalan penipuan-diri yang sederhana dan gampang. Tuan Wallace berakhir dengan kepercayaan pada keajaiban-keajaiban magnetiko-frenologikal dan dengan begitu sudah dengan satu kaki berdiri di dunia roh-roh.

Ia menarik kaki yang satunya lagi ke situ pada tahun 1865. Sekembalinya dari perantauannya di daerah-daerah tropik selama duabelas tahun, eksperimen-eksperimen dalam “permainan-meja” (sejenis jailangkung dsb. Pent.) memperkenalkannya pada masyarakat berbagai “medium”. Betapa pesat kemajuannya, dan betapa lengkap kemahirannya mengenai subjekt itu, dibuktikan oleh buku-kecil tersebut di atas. Ia mengharap kita menganggapnya sebagai kebenaran: bukan saja semua yang dikatakan sebagai keajaiban-keajaiban (mukjijat-mukjijat) Home, kakak-beradik Davenport, dan para “medium” lainnya, yang kesemuanya kurang-lebih memperagakan diri mereka untuk uang dan yang untuk bagian terbesar telah sering ditelanjangi sebagai penipu-penipu, namun juga berderet-deret riwayat roh-roh yang dikatakan otentik dari zaman-zaman dulu. Pithones-pithones dari orakel Yunani, tukang-tukang sihir dari Abad-abad Pertengahan, kesemuanya itu “medium-medium,” dan Iamblichus dalam bukunya De divinatione sudah secara sangat cermat melukiskan

“gejala-gejala spiritualisme modern yang paling mencengangkan”.(hal.229)

Sebuah contoh saja untuk memperlihatkan betapa sembrono Tuan Wallace memperlakukan pebuktian secara ilmiah dan otentikasi keajaiban-keajaiban ini. Jelas merupakan suatu asumsi yang kuat bahwa kita mesti percaya bahwa roh-roh tersebut di atas akan memperkenankan diri mereka difoto, dan kit a jelas mempunyai hak untuk menuntut bahwa foto-foto roh seperti itu diotentikasikan dengan cara yang paling sahih sebelum kita menerimanya sebagai murni. Nah, Tuan Wallace berkisah pada halaman 187, bahwa pada bulan Maret 1872, seorang medium terkemuka, Nyonya Guppy, yang dilahirkan Nicholls, telah membuat foto dirinya bersama suaminya dan seorang anak laki-laki kecil di tempat Tuan Hudson di Notting Hill, dan di atas dua foto yang berbeda dapat dilihat sosok seorang wanita jangkung, mengenakan jubah kain putih indah menerawang, dengan air-muka yang agak-ketimuran, berdiri di belakangnya (Nyonya Guppy) dengan suatu sikap bagaikan memberkahinya.

“Nah, di sini, satu dari dua hal yang secara mutlak pasti.**) Di sini, ada kehadiran suatu makhluk hidup, intelijen namun tidak kasat-mata, atau Tuan, dan Nyonya Guppy, sang juru-foto, dan seseorang ke empat, telah merancang sebuah penipuan jahat, dan berkukuh pada hal itu hingga sekarang. Mengenal baik Tuan dan Nyonya Guppy, sebagaimana aku mengenal mereka, aku merasakan suatu keyakinan mutlak bahwa mereka tidak-berkemampuan melakukan penipuan jenis ini seperti halnya setiap pencari kebenaran yang sungguh-sungguh di bidang ilmu-pengetahuan alam.” (Hal. 188)

Maka itu, “atau” penipuan, “atau” foto roh. Benar sekali. Dan, apabila penipuan, maka roh itu “atau” sudah ada di atas lembar-lembar fotografik itu, “atau” keempat orang itu mestinya sudah bersangkutan/terlibat, atau tiga orang jika kita kesampingkan Tuan Guppy tua sebagai orang yang sudah lemah-pikiran atau dikorbankan, yang meninggal di bulan Januari 1875 dalam usia 84 tahun (yang diperlukan hanyalah menyuruh Tuan Guppy itu ke balik layar-belakang Spanyol itu). Bahwa seorang juru-foto bisa mendapatkan seorang “model” untuk roh itu tanpa sedikitpun kesulitan tidaklah perlu dipersoalkan di sini. Namun, juru-foto Hudson itu, tidak lama kemudian, secara umum telah dituntut karena kebiasaannya memalsukan foto-foto roh, sehingga Tuan Wallace demi peringanan menyatakan:

“Satu hal sudah jelas; apabila terjadi suatu penipuan, itu segera telah diketahui/terditeksi oleh para spiritualis itu sendiri.” (Hal. 189)

Karenanya, foto-foto itu tidak dapat diandalkan. Tinggal sekarang Nyonya Guppy itu, dan baginya cuma ada “keyakinan mutlak” dari sahabat kita Wallace, hanya itu dan tiada apa-apa lagi.—Tiada apa-apa lagi? Oh, tidak! Kejujuran mutlak Nyonya Guppy itu dibuktikan oleh pernyataannya bahwa pada suatu petang, di awal bulan Juni 1871, dirinya telah dibawa melalui udara dalam suatu keadaan tidak-sadar dari rumahnya di Highbury Hill Park ke Lamb’s Conduit Street no. 69–yaitu tiga mil Inggris lintas-udara—dan diturunkan di rumah no. 69 itu, ke atas meja di tengah-tengah suatu séance (acara) spiritualistik. Pintu- pintu masuk ruangan itu terkunci, dan sekalipun Nyonya Guppy termasuk salah seorang wanita paling gemuk di London, yang tentu saja banyak artinya, permunculannya yang tiba-tiba itu sama sekali tidak meninggalkan lubang sekecil apapun pada pintu-pintu atau di atap rumah itu. (Dilaporkan dalam Echo, London, 8 Juni 1871.) Dan apabila masih ada orang yang tidak mempercayai keaslian foto roh itu, maka tiada pertolongan baginya.

Ahli terkemuka yang kedua di antara para sarjana ilmu-alam Inggris adalah Tuan William Crookes, penemu unsur kimiawi thallium dan dari radiometer33) (di Jerman juga disebut “Lichtmühle”). Tuan Crookes mulai menyelidiki manifestasi-manifestasi spioritualistik pada sekitar tahun 1871, dan untuk maksud ini mengunakan sejumlah alat fisikal dan mekanikal, pengimbang-pengimbang pegas, bateri-bateri listrik, dsb. Apakah ia dalam pekerjaannya itu membawa serta alat utama yang diperlukan, yaitu pikiran kritikal yang skeptikal, atau apakah ia hingga akhirnya menjaga agar pikiran itu selalu dalam keadaan tangguh bekerja, akan kita lihat berikut ini. Betapapun, dalam waktu yang tidak sangat lama, Tuan Crookes sama terjeratnya seperti Tuan Wallace.

“Selama beberapa tahun,” demikian ia berkisah, “seorang wanita muda, Nona Florence Cook, telah memperagakan kemampuan-sebagai-medium yang luar-biasa, yang akhir-akhir ini memuncak dalam memproduksi sesosok (suatu wujud) wanita penuh yang mengaku spiritual asal-usulnya, dan yang tampil bertelanjang-kaki dan mengenakan jubah-jubah putih berkibar selagi ia terbaring dalam pesona, dengan pakaian berwarna gelap dan terikat rapi dalam sebuah lemari atau di kamar sebelah.”34)

Roh ini, yang menyebut namanya Katie, dan yang sangat mirip Nona Cook, pada suatu petang secara tiba-tiba dipeluk pada pinggangnya oleh Tuan Volckman—suami yang sekarang dari Nyonya Guppy—dan dipegang kencang-kencang untuk mengetahui apakah ia benar-benar bukan Nona Cook dalam edisi lain. Roh itu ternyata seorang gadis yang sangat kekar-kuat, ia mempertahankan diri dengan gigih, orang- orang yang hadir di situ campur-tangan, gas dimatikan, dan ketika, sesudah sedikit pergumulan, ketenangan dipulihkan kembali dan ruangan itu diterangi kembali, roh itu telah menghilang dan Nona Cook terbaring dalam ikatannya dan dalam keadaan tidak sadar di tempatnya di sudut sana. Betapapun, Tuan Volckman katanya hingga saat ini berkukuh bahwa ia telah menyambar Nona Cook dan bukan tubuh lainnya. Untuk membuktikan hal itu secara ilmiah, Tuan Varley, seorang ahli listrik terkenal, pada kesempatan suatu eksperimen baru, mengatur agar arus dari sebuah bateri mengalir melalui medium itu, Nona Cook, sedemikian rupa agar ia tidak dapat memainkan peranan roh itu tanpa menginterupsi arus itu. Betapapun, roh itu muncul juga. Karenanya, ia itu memang suatu makhluk yang berbeda dari Nona Cook. Untuk membuktikan hal ini lebih lanjut menjadi tugas Tuan Crookes. Langkahnya yang pertama yalah mendapatkan kepercayaan dari wanita spiritualistik itu.

Kepercayaan ini, demikianlah ia sendiri berkata pada dirinya sendiri di dalam Spiritualist, 5 Juni 1874, _berangsur-angsur meningkat sedemikian rupa hingga ia menolak memberikan suatu séance kecuali aku yang membuat penyelenggaraannya.—gejala- gejala itu sangat meningkat kekuatannya dan datanglah bukti-bukti secara berlimpah yang tidak mungkin diperoleh dengan cara lainnya. Ia seringkali berkonsultasi denganku mengenai orang-orang yang hadir pada séance-séance itu dan tempat-tempat yang mesti diberikan kepada mereka, karena akhir-akhir ini ia telah menjadi sangat gelisah disebabkan saran-saran buruk tertentu agar, kecuali metode-metode penyelidikan lain yang lebih ilmiah, kekuatan juga mesti dipergunakan.”35) [cetak miring oleh Engels]

Wanita roh itu sangat menghargai kepercayaan itu, kepercayaan yang sama-sama baik dan ilmiah. Ia bahkan membuat penampilannya—yang tidak merupakan kejutan lagi bagi kita—di rumah Tuan Crookes, bermain-main dengan anak-anak Tuan Crookes dan menceri-takan kepada mereka “anekdot-anekdot dari petualangannya di India,” mengisahkan kepada Tuan Crookes suatu cerita mengenai “beberapa dari pengalaman getir dalam kehidupannya di masa lalu,” memperkenankan Tuan Crookes memegang lengannya agar Tuan Crookes dapat meyakini akan kenyataan materialitasnya, memperkenankan Tuan Crookes memeriksa denyut-nadinya dan menghitung jumlah respirasi (pernafasan)-nya per menit, dan akhirnya membiarkan dirinya difoto dengan berdiri di samping Tuan Crookes.

“Sosok ini,” kata Tuan Wallace, “setelah menampakkan diri, diraba, diajak berbicara, dan difoto, menghilang sama-sekali dari sebuah ruangan kecil yang tidak mempunyai jalan keluar lain kecuali sebuah kamar sebelah yang penuh dengan penonton” (hal.183)

— yang bukan merupakan suatu kejadian yang luar biasa, karena para penonton itu cukup sopan dengan menunjukkan kepercayaan yang sama kuatnya pada Tuan Crookes—karena di rumahnyalah kejadian itu berlangsung—seperti besarnya kepercayaan Tuan Crookes itu pada roh itu.

Malangnya, “gejala-gejala yang sepenuhnya diotentikasi” itu tidak langsung dipercaya bahkan oleh para spiritualis. Di atas telah kita medlihat bagaimana Tuan Volckman yang sangat spiritualistik itu memperkenankan dirinya melakukan sergapan yang sangat material sifatnya. Dan sekarang seorang pendeta, seorang anggota dari komite “Asosiasi Nasional para Spiritualis Inggris,” telah hadir juga pada sebuah séance bersama Nona Cook, dan ia tanpa kesulitan sedikitpun menegakkan kenyataan bahwa pintu ruangan yang dilewati roh itu ketika datang dan menghilang berkomunikasi dengan dunia luar lewat sebuah pintu kedua. Kelakuan Tuan Crookes yang juga hadir, memberikan “pukulan terakhir yang mematikan kepercayaanku bahwa mungkin ada ‘sesuatu dalam’ manifestasi-manifestasi penampilan itu.” (Mystic London, oleh Rev.C.Maurice Davkies, London, Tinsley Brothers [310].) Dan di atas semua itu, di Amerika Serikat telah terbongkar bagaimana “Katie-Katie” menjadi “dimaterialisasikan”. Sepasang suami-isteri bernama Holmes mengadakan séanceséance di Philadelphia, di mana juga muncul seorang “Katie” dan menerima hadiah-hadiah secara berlimpah-limpah dari para orang yang percaya. Namun, seorang skeptik menolak untuk berhenti sebelum ia dapat menjejaki Katie tersebut, yang, dalam pada itu, sudah pernah mogok karena kurangnya upah yang diterimanya; sang skeptik itu memergoki Katie tersebut di sebuah rumah-pondokan sebagai seorang wanita muda yang tak-disangsikan lagi berdaging dan bertulang, dan memiliki semua hadiah yang telah diberikan kepada roh tadi.

Sementara itu, Daratan Kontinental juga memiliki para pengelihat-roh yang ilmiah. Sebuah perkumpulan ilmiah di St. Petersburg—aku tidak mengetahui secara pasti apakah itu Universitas atau bahkan Akademi itu sendiri—memerintahkan pada Konsul Negara, Aksakov, dan ahli-kimia, Butlerov, untuk memeriksa dasar dari gejala-gejala spiritualistik itu, namun tampaknya tidak banyak yang dihasilkan oleh perintah itu.36) Di pihak lain—kalau kita mempercayai pengumuman-pengumuman yang disertai ramainya bunyi genderang-genderang dari para spiritualis—Jerman kini juga mengajukan orangnya dalam diri Profesor Zöllner di Leipzig.

Selama bertahun-tahun, sebagaimana sudah sangat diketahui, Profesor Zöllner telah bekerja keras mengenai “dimensi ke-empat” dari ruang, dan telah menemukan bahwa banyak hal yang tidak mungkin dalam suatu ruang berdimensi-tiga, adalah hal sepele dalam suatu ruang yang berdimensi-empat. Begitulah, dalam jenis ruang tersebut belakangan itu, sebuah bulatan metal yang tertutup dapat diputar-balik bagaikan sebuah sarung-tangan, tanpa membuat sebuah lubang padanya; demikian pula sebuah simpul dapat dibuat dengan seutas tali yang tidak berujung-berpangkal atau dengan seutas tali yang kedua ujungnya terikat, dan dua cincin terpisah dapat disaling-terkaitkan tanpa membuka salah-satu dari kedua cincin itu, dan masih banyak lagi hal-hal luar biasa seperti itu. Kini, menurut laporan-laporan terakhir yang bermegah-megah dari dunia roh, Profesor Zöllner telah berhubungan dengan seorang atau lebih medium agar dengan bantuan mereka dapat menentukan lebih banyak perincian mengenai lokalitas dimensi keempat itu. Hasilnya menurut kata ternyata sungguh mengejutkan. Setelah acara itu, lengan kursi yang menjadi sandaran lengannya sementara tangannya tidak pernah meninggalkan meja, didapati berbelit dengan lengannya, seutas tali yang kedua ujungnya terikat pada meja itu didapatkan terikat menjadi empat simpul, dan begitu seterusnya. Singkatnya, semua keajaiban dari dimensi keempat menurut katanya telah diperagakan oleh roh-roh itu dengan cara yang sangat mudah sekali. Haruslah diingat: relata refero, aku tidak dapat menjamin ketepatan buletin roh itu, dan kalau ada dikandung ketidak-cermatan, Tuan Zöllner semestinya berterima kasih karena aku telah memberikan kesempatan untuk melakukan pembetulan. Namun, jika buletin itu mereproduksi pengalaman-pengalaman Tuan Zöllner itu tanpa pemalsuan, maka itu jelas berarti suatu kurun baru dalam ilmu spiritualisme maupun dalam ilmu matematika. Roh-roh itu membuktikan keberadaan dimensi keempat, tepat sebagaimana dimensi keempat itu memastikan keberadaan roh-roh itu. Dan sekali hal ini ditegakkan, suatu bidang yang luar-biasa luasnya, yang seluruhnya baru, menjadi terbuka bagi ilmu-pengetahuan. Semua matematika dan ilmu-pengetahuan alam sebelumnya hanya akan merupakan sebuah sekolah kpersiapan bagi matematika dari dimensi keempat dan yang lebih tinggi lagi, dan bagi mekanika, fisika, kimia, dan fisiolo-gi roh-roh yang menghuni dimensi-dimensi lebih tinggi ini. Tidak-kah Tuan Crookes secara ilmiah telah menentukan berapa banyak bobot telah hilang dari meja-meja dan benda-benda prabotan lainnya dalam perlintasan barang-barang itu ke dalam dimensi keempat—demikianlah tentunya kita diizinkan menamakan semua itu—dan tidakkah Tuan Wallace menyatakan telah terbukti bahwa api di sana itu tidak menciderai/mencelakakan tubuh manusia? Dan kini kita bahkan mengetahui fisiologi tubuh-tubuh roh itu! Mereka itu bernafas, mereka mempunyai denyut nadi, jadi juga paru-paru, jantung, dan suatu perlengkapan peredaran, dan karena itu pula sekurang-kurang secara mengagumkan diperlengkapi seperti tubuh-tubuh kita dalam hal organ-organ tubuh lainnya. Karena bernafas menyaratkan karbohidrat-karbohidrat yang menjalani pembakaran di dalam paru-paru, dan karbohidrat-karbohidrat ini hanya dapat disuplai dari luar; maka perut, usus, dan pelengkap-pelengkapnya—dan apabila kita sudah memastikan sebanyak ini, yang selebihnya menyusullah tanpa sedikitpun kesulitan. Namun, keberadaan organ-organ seperti itu berarti kemungkinan menjadinya organ-organ itu mangsa penyakit, dan karenanya mungkin akan tiba ksaatnya bahwa Herr Virchow akan mesti menyusun suatu patologi selluler dari dunia roh itu. Dan, karena kebanyakan dari roh-roh ini adalah wanita-wanita muda yang sangat cakap, yang dalam hal apapun tidak dapat dibedakan dari wanita-wanita cantik duniawi, kecuali oleh kecantikan mereka yang adi-duniawi, tidak akan makan waktu yang sangat lama ksebelum mereka akan berhubungan dengan “kaum pria yang merasakan gairahnya cinta”37); dan karena, sebagaimana dibuktikan oleh Tuan Crookes dari pukulan denyut-nadi, “jantung wanita itu tidaklah absen,” seleksi alamiah juga telah membukakan baginya prospek dari suatu dimensi keempat, suatu dimensi dimana ia tidak perlu takut akan dikacaukan (dicampur-adukkan) dengan Sosial-Demokrasi yang jahat.38)

Cukuplah. Di sini telah menjadi nyata-nyata terbukti mengenai jalan paling pasti dari ilmu-alam ke pada mistisisme. Yaitu bukannya teorisasi filsafat alam secara berlebih-lebihan, tetapi empirisisme yang paling dangkal yang dengan angkuh menolak dan mencurigai segala pikiran. Bukan keharusan a priori yang membuk-tikan keberadaan roh-roh, tetapi pantauan-pantauan empirikal dari tuan-tuan Wallace, Crookes, dan kawan-kawan. Jika kita mempercayai observasi-observasi spektrum-analisis Crookes, yang menghasilkan penemuan thallium metal, atau penemuan-penemuan zoologikal yang kaya oleh Wallace di Semenanjung Malaya, kita diminta untuk memberikan kepercayaan serupa pada pengalaman-pengalaman dan penemuan-penemuan spiritualistik dari kedua ilmuwan ini. Dan apabila kita menyatakan pendapat bahwa—ternyata—hanya sedikit sekali perbedaan antara keduanya itu, yaitu, apabila kita dapat memeriksa yang satu namun yang lainnya tidak, maka penglihat-penglihat roh itu menukas bahwa tidak demikianlah masalahnya, dan bahwa mereka bersedia memberikan kesempatan kepada kita untuk juga memeriksa (verifikasi) gejala-gejala roh itu.

Sebenarnyalah, dialektika tidak dapat dihina tanpa ada hukumannya untuk itu. Betapapun besarnya kebencian seseorang terhadap semua pikiran teoretikal, seseoranmg tidak dapat menempatkan dua fakta alam dalam hubungan satu sama lain, atau memahami keterkaitan yang terdapat di antara kedua fakta itu, tanpa pikiran teoretikal. Masalahnya ialah, apakah pemikiran orang itu benar atau tidak, dan membenci teori jelas jalan paling pasti untuk berpikir secara naturalistik, dan karenanya secara tidak tepat. Tetapi, menurut sebuah hukum dialektika yang tua dan sangat terkenal, pikiran secara tidak tepat, jika dilakukan hingga kesimpulan logikalnya, secara tidak terelakkan akan sampai pada kebalikan (yang berlawanan dengan) titik-keberangkatannya. Karena itu, kebencian emnpirikal terhadap dialektika dihukum dengan terbawanya beberapa dari kaum empirisis yang paling sadar ke dalam yang paling gersang dari semua ketahyulan, yaitu ke dalam spiritualisme modern.

Sama halnya dengan matematika. Para ahli matematika metafisikal biasa berkoar dengan kebanggaan luar-biasa mengenai mutlak tidak dapat disanggahnya hasil-hasil ilmu mereka. Tetapi hasil-hasil itu juga mencakup/meliputi kebesaran-kebesaran imajiner, yang dengan begitu memperoleh suatu realitas tertentu. Manakala seseorang telah menjadi terbiasa untuk menjulukkan sesuatu jenis realitas di luar pikiran kita kepada Ö -1, atau pada dimensi keempat, maka tidak menjadi soal yang sangat penting jika seseorang itu melangkah selangkah lebih jauh dan juga menerima dunia roh dari para medium. Seperti dikatakan Ketteler tentang Döllinger:

“Orang itu telah membela begitu banyak omong-kosong selama hidupnya, ia sebenarnya dapat sekalian menerima juga infalibilitas (ketidak-mungkinan-untuk-melakukan-kesalahan)!”39)

Sebenarnya, sekedar empirisisme saja tidak dapat menyanggah kaum spiritualis. Pertama-tama, gejala-gejala “lebih tinggi” selalu menampakkan diri hanya apabila “sang penyelidik” bersangkutan sudah begitu jauh dalam kerjanya sehingga ia kini hanya melihat yang dituju atau yang mau dilihatnya—sebagaimana dilukiskan oleh Tuan Crookes sendiri dengan kepandiran sepolosnya. Kedua, kaum spiritualis sama sekali tidak peduli bahwa beratus-ratus yang dikatakan sebagai fakta telah dibongkar sebagai penipuan dan losinan orang yang mengaku-ngaku sebagai medium telah ditelanjangi sebagai penipu-penipu biasa. Selama setiap yang dinamakan keajaiban/mukjijat satu-demi-satu belum dibuktikan ketidak-benarannya, mereka masih mempunyai cukup ruang untuk berjalan terus, sebagaimana memang dikatakan dengan cukup jelas oleh Wallace sehubungan dengan foto-foto roh yang dipalsukan itu. Keberadaan kepalsuan-kepalsuan itu membuktikan kemurnian yang murni-murni.

Maka empirisisme sendiri terpaksa menolak para penglihat-roh yang mengaku-ngaku itu, bukannya lewat eksperimen-eksperimen empirikal, melainkan dengan pertimbangan-pertimbangan teoretikal, dan terpaksa pula berkata, bersama Huxley:

Kebaikan satu-satunya yang dapat kulihat dalam demonstrasi kebenaran spiritualisme yalah membekali sebuah alasan tambahan terhadap bunuh-diri. Lebih baik hidup sebagai penyapu-perempatan-jalanan daripada mati dan disuruh mengoceh ngalor-ngidul tak-keruan oleh seorang medium yang ditanggap dengan satu guinea per séance!

Catatan:

*) Sebagaimana sudah dikatakan, para pasien itu menyempurnakan diri mereka lewat latihan. Karenanya sangat mungkin bahwa pada waktu penundukan kemauan itu telah menjadi kebiasaan, maka hubungan antara para partisipan menjadi lebih akrab, gejala- gejala individual diintensifkan dan secara lemah bahkan dicerminkan dalam keadaan sadar. (Catatan Engels)

**) Dunia roh/spiritual mengungguli gramatika (tata-bahasa). Pernah seorang pelawak membuat roh ahli gramatika Lindley Murray bersaksi. Atas pertanyaan apakah ia berada di sana, ia menjawab: “I are,” Mediumnya adalah seorang dari Amerika.

DIALEKTIKA
oleh Friedrich Engels

(Mengembangkan sifat umum dialektika sebagai ilmu-pengetahuan mengenai antarketerkaitan-antarketerkaitan (inter-connections), berlawanan dengan metafisika.)

_________

Maka itu, hukum-hukum dialektika diabstraksikan dari sejarah alam dan masyarakat manusia. Karena hukum-hukum itu tidak lain yalah hukum-hukum yang paling umum dari kedua aspek perkembangan historikal, maupun dari pikiran itu sendiri. Dan, sebenarnyalah, hukum-hukum itu pada dasarnya dapat dipulangkan pada tiga buah hukum:

Hukum perubahan (transformasi) kuantitas menjadi kualitas dan vice versa;

Hukum penafsiran mengenai yang berlawanan (opposites);

Hukum negasi dari negasi.

Ketiga-tiganya dikembangkan oleh Hegel dalam gaya idealisnya sebagai sekedar hukum-hukum pikiran: yang pertama, dalam bagian pertama karyanya Logic, dalam Doktrin mengenai Keberadaan (Being); yang kedua mengisi seluruh bagian kedua dan bagian yang paling penting dari Logic, Doktrin mengenai Hakekat (Essence); akhirnya, yang ketiga merupakan hukum fundamental bagi rancang- bangun seluruh sistem itu. Kesalahannya terletak pada kenyataan bahwa hukum-hukum ini disisipkan pada alam dan sejarah sebagai hukum-hukum pikiran, dan tidak dideduksi dari situ. Inilah sumber dari seluruh pendekatan yang dipaksakan dan seringkali melampaui batas (keterlaluan); semesta-alam, mau-tidak-mau, mesti bersesuaian dengan sebuah sistem pikiran yang sendiri cuma produk dari suatu tahap tertentu dari evolusi pikiran manusia. Jika kita membalikkan semuanya itu, maka segala sesuatu menjadi sederhana, dan hukum-hukum dialektika yang tampak begitu luar-biasa misterius dalam filsafat idealis seketika menjadi sederhana dan jelas seperti siang-hari bolong.

Lagi pula, setiap orang, bahkan yang sedikit saja mengenal Hegel, akan menyadari bahwa dalam beratus pasase Hegel berkemampuan memberikan gambaran-gambaran individual yang paling jelas mengenai hukum-hukum dialektika dari alam dan sejarah.

Di sini kita tidak bermaksud menulis sebuah buku pedoman mengenai dialektika, melainkan hanya untuk menunjukkan bahwa hukum-hukum dialektika itu adalah hukum-hukum nyata mengenai perkembangan alam, dan karenanya berlaku juga bagi ilmu-pengetahuan alam teoretikal. Karenanya kita tidak dapat memasuki bagian dalam antar-keterkaitan hukum-hukum ini satu sama yang lainnya.

1. Hukum perubahan dari kuantitas menjadi kualitas dan vice versa. Untuk maksud kita, dapat kita ungkapkan ini dengan mengatakan bahwa dalam alam, dengan suatu cara yang secara tepat ditetapkan untuk setiap kasus individual, perubahan-perubahan kualitatif hanya dapat terjadi oleh penambahan kuantitatif atau pengurangan kuantitatif dari materi atau gerak (yang dinamakan energi).

Semua perbedaan kualitatif dalam alam berlandaskan pada perbedaan-perbedaan komposisi (susunan) kimiawi atau pada kuantitas- kuantitas atau bentuk-bentuk gerak (energi) yang berbeda-beda atau, sebagaimana hampir selalu halnya, pada kedua-duanya. Maka itu tidaklah mungkin mengubah kualitas sesuatu tanpa pertambahan atau pengurangan materi atau gerak, yaitu, tanpa perubahan sesuatu yang bersangkutan itu secara kuantitatif. Dalam bentuk ini, karenanya, azas misterius dari Hegel itu tampak tidak hanya sangat rasional, melainkan bahkan jelas sekali.

Nyaris tidak perlu dinyatakan lagi, bahwa berbagai keadaan benda-benda secara allotropik (allotropy=variasi sifat-sifat fisikal tanpa perubahan substansi) dan agregasional (terkumpul jadi satu), karena mereka bergantung pada berbagai pengelompokan molekul-molekul, bergantung pada jumlah-jumlah yang lebih banyak atau lebih sedikit dari gerak yang dikomunikasikan pada benda-benda itu.

Tetapi, bagaimana tentang perubahan bentuk atau gerak, atau yang disebut energi? Apabila kita mengubah panas menjadi gerak mekanikal atau vice versa, tidakkah kualitas diubah sedangkan kuantitasnya tetap sama? Benar sekali. Tetapi dengan perubahan bentuk atau gerak itu adalah seperti dengan kejahatan-kejahatan Heine; setiap orang jika sendirian bisa saja saleh, luhur-berbudi, karena untuk kejahatan-kejahatan selalu diperlukan dua orang.42) Perubahan bentuk atau gerak selalu merupakan suatu proses yang terjadi di antara sedikitnya dua benda, yang satu kehilangan sejumlah tertentu gerak dari suatu kualitas (misalnya, panas), sedangkan yang satu lagi memperoleh kuantitas gerak dari kualitas lain yang bersesuaian (gerak mekanikal, listrik, dekomposisi kimiawi). Di sini, karenanya, kuantitas dan kualitas saling bersesuaian satu sama lain. Sejauh ini belum ditemukan kemungkinan untuk mengubah suatu bentuk gerak menjadi satu bentuk gerak yang lain dalam sebuah benda tunggal yang terisolasi.

Di sini yang pertama-tama kita permasalahkan yalah benda-benda tidak-hidup (benda mati); hukum yang sama berlaku bagi benda-benda hidup, tetapi ia beropperasi dalam kondisi-kondisi yang sangat kompleks dan pada waktu sekarang pengukuran kuantitatif acapkali masih belum mungkin bagi kita.

Jika kita membayangkan sesuatu benda mati terpotong menjadi potongan-potongan lebih kecil dan lebih kecil lagi, mula-mula tidak terjadi perubahan kualitatif. Namun ini ada batasnya: jika kita berhasil, seperti dengan penguapan (evaporasi), dalam memperoleh molekul-molekul terpisah itu dalam keadaan bebas, maka benarlah bahwa kita lazimnya dapat membaginya lebih lanjut, namun hanya dengan suatu perubahan kualitas secara menyeluruh. Molekul itu didekomposisi ke dalam atom-atomnya yang terpisah-pisah, yang mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda dengan sifat-sifat molekul itu. Dalam hal molekul-molekul itu terdiri atas berbagai unsur kimiawi, atom-atom atau molekul-molekul unsur-unsur itu sendiri muncul sebagai gantinya molekul persenyawaan itu; dalam hal molekul-molekul unsur-unsur, tampillah/muncullah atom-atom bebas yang menimbulkan akibat-akibat/efek-efek kualitatif yang sangat berbeda-beda; atom-atom bebas dari oksigen yang lahir secara mudah dapat menghasilkan yang tidak pernah dapat dicapai oleh atom-atom dari oksigen atmosferik, yang terikat menjadi satu di dalam molekul itu.

Tetapi, molekul itu secara kualitatif juga berbeda dari massa benda yang padanya molekul itu termasuk. Ia dapat melakukan gerakan-gerakan secara bebas dari massa itu dan selagi yang tersebut belakangan itu tampak lembam, yaitu misalnya, vibrasi- vibrasi panas; melalui suatu perubahan posisi dan keterkaitan dengan molekul-molekul di sekitarnya ia dapat mengubah benda itu menjadi suatu allotrope atau suatu keadaan agregasi yang berbeda.

Dengan demikian kita melihat bahwa operasi pembagian yang semurninya kuantitatif itu mempunyai suat batas di mana ia menjadi terubah menjadi suatu perbedaan kualitatif: massa itu terdiri semata-mata atas molekul-molekul, tetapi ia sesuatu yang pada pokoknya berbeda dari molekul itu, tepat sebagaimana yang tersebut belakangan berbeda dari atom. Perbedaan inilah merupakan dasar bagi pemisahan mekanika, sebagai ilmu dari massa-massa ruang angkasa dan bumi, dari ilmu fisika, sebagai mekanika molekul-molekul, dan dari ilmu kimia, sebagai ilmu fisika atom-atom.

Di dalam ilmu mekanika, tidak terjadi kualitas-kualitas; paling-paling keadaan-keadaan seperti keseimbanghan (ekuilibrium), gerak, energi potensial, yang kesemuanya bergantung pada perpindahan/peralihan (transference) gerak yang dapat diukur dan sendirinya berkemampuan ekspresi (pernyataan) kuantitatif. Karenanya, sejauh perubahan kualitatif terjadi di sini, itu ditentukan oleh suatu perubahan kuantitatif yang bersesuaian.

Di dalam ilmu fisika, benda-benda diperlakukan sebagai yang secara kimiawi tidak dapat diubah atau tidak berbeda; kita berurusan dengan perubahan-perubahan keadaan-keadaan molekularnya dan dengan perubahan bentuk gerak, yang dalam semua kasus, sekurang-kurangnya pada satu dari kedua sisinya, membuat molekul itu beraksi. Di sini setiap perubahan adalah suatu transformasi kuantitas menjadi kualitas, suatu konsekuensi dari perubahan kuantitatif dari jumlah suatu atau lain bentuk gerak yang dikandung di dalam benda itu atau yang dikomunikasikan padanya.

“Demikianlah temperatur (suhu) air adalah, pertama-tama, sesuatu yang tidak ada artinya dalam hubungan likuiditasnya; betapapun dengan peningkatan atau pengurangan suhu air cair, tercapailah suatu titik di mana keadaan kohesi ini berubah dan air itu diubah menjadi uap atau es.” (Hegel, Enzyklopädie, Gesamtausgabe, Bd.VI, Hal.217.)

Demikian pula, suatu kekuatan arus minimum tertentu dipersyaratkan agar kawat platinum dari sebuah lampu pijar listrik menyala; dan setiap metal memiliki suhu pijar dan padunya, setiap cairan mempunyai titik beku dan didihnya yang tertentu pada suatu tekanan tertentu—sejauh alat kita memungkinkan kita mereproduksi suhu yang diperlukan; akhirnya, setiap gas juga mempunyai titik kritikalnya, di mana ia dapat dicairkan lewat tekanan dan pendinginan. Singkatnya, yang disebut konstan-konstan fisikal untuk sebagaian besar tidak lain dan tidak bukan adalah penandaan-penandaan (designations) titik-titik nodal di mana perubahan43) kuantitatif (berupa) pertambahan atau pengurangan gerak menghasilkan perubahan kualitatif dalam keadaan benda bersangkutan, di mana, karenanya, kuantitas diubah menjadi kualitas.

Namun, bidang di mana hukum alam yang ditemukan oleh Hegel itu merayakan kejayaannya yang paling penting yalah bidang ilmu kimia. Ilmu kimia dapat diistilahkan ilmu mengenai perubahan-perubahan kualitatif dari benda-benda sebagai hasil komposisi kuantitatif yang berubah. Hal itu sudah diketahui oleh Hegel sendiri. (Logik, Gesamtausgabe, III, hal. 433.) Seperti dalam hal oksigen: jika tiga atom bersatu ke dalam sebuah molekul, gantinya yang lazimnya dua buah, kita mendapatkan ozone, suatu benda yang amat sangat berbeda dari oksigen biasa dalam bau dan reaksi- reaksinya. Dan memang, berbagai proporsi yang di dalamnya oksigen berpadu dengan nitrogen atau sulfur, yang masing-masing menghasilkan suatu substansi yang secara kualitatif berbeda dari setiap lainnya! Betapa berbeda gas ketawa (nitrogen monokside N2O2) dari nitrik anhydride (nitrogen pentoxide, N2O5)! Yang pertama adalah suatu gas, yang kedua pada suhu-suhu normal adalah suatu substansi kristalin padat. Namun begitu, seluruh perbedaan dalam komposisi yalah bahwa yang kedua itu mengandung oksigen yang lima kali lipat lebih banyak daripada yang pertama, dan di antara keduanya itu terdapat tiga okside nitrogen lebih banyak (NO, N2O3, NO2), yang masing-masingnya secara kualitatif berbeda dari dua yang pertama dan satu sama lainnya.

Hal ini tampak lebih menyolok lagi dalam deretan gabungan-gabungan karbon homolog, terutama dari hidrokarbon-hidrokarbon yang lebih sederhana. Dari parafin-parafin normal, yang terendah jalah methani, CH4; di sini keempat kaitan atom karbon dijenuhi oleh empat atom hidrogen. Yang kedua, ethane, C2H6, mempunyai dua atom karbon yang tergabung dan keenam kaitan bebas itu dijenuhi dengan enam atom hidrogen. Dan begitulah seterusnya, dengan C3H8, C4H10, dan seterusnya, sesuai rumusan aljabar CnH2n+2, sehingga dengan setiap penambahan CH2 terbentuk sebuah benda yang secara kualitatif berbeda dari sebuah yang terdahulu. Tiga anggota paling rendah dari deretan itu adalah gas-gas, yang tertinggi yang dikenal, hexadecane, C16H34, adalah suatu benda padat dengan suatu titik didih 270°C. Tepat seperti itu pula yang berlaku bagi deretan alkohol-alkohol primer dengan formula CnH2n+2O, yang diderivasi (secara teoretikal) dari parafin-parafin, dan deretan asam-asam lemak monobasik (formula CnH2nO2). Perbedaan kualitatif yang dapat ditimbulkan oleh penambahan kuantitatif C3H6, diajarkan oleh pengalaman jika kita minum Ethyl Alkohol, C2H6O, dalam bentuk cair (yang dapat diminum) tanpa penambahan alkohol-alkohol lainnya, dan pada suatu kesempatan lain minum ethyl alkohol yang sama itu, tetapi dengan menambahkan sedikit saja amyl alkohol, C5H12O, yang menjadi pembentuk utama dari minyak pelebur (fusel) yang mengerikan itu. Kepala seseorang pasti akan menyadari akan hal itu di pagi esok harinya, suatu siksaan yang sangat; sehingga seseorang bahkan dapat mengatakan bahwa kemabokan itu, dan perasaan “keesokan pagi” berikutnya itu, adalah juga kuantitas yang diubah menjadi kualitas, di satu pihak dari ethyl alkohol dan di lain pihak dari tambahan C3H6 ini.

Di dalam deretan ini kita menjumpai hukum Hegelian itu dalam bentuk yang lain lagi.. Anggota-anggota yang lebih rendah hanya memperkenankan suatu saling-pengaturan tunggal dari atom-atom. Namun, jika jumlah atom-atom yang digabung menjadi sebuah molekul mencapai suatu ukuran yang secara tetap ditentukan bagi setiap deretan, maka pengelompokan atom-atom itu di dalam molekul dapat terjadi dalam lebih dari satu cara; sehingga dua atau lebih substansi isomerik dapat dibentuk, yang mempunyai jumlah-jumlah sama dari atom-atom C, H dan O di dalam molekul itu, tetapi bagaimanapun secara kualitatif berbeda satu sama lainnya. Kita bahkan dapat memperhitungkan berapa banyak isomer-isomer seperti itu dimungkinkan bagi setiap anggota dari deretan itu. Demikianlah, dalam deretan-deretan parafin, bagi C4H10 terdapat dua, bagi C5H12 terdapat tiga; di antara anggota-anggota lebih tinggi, jumlah isomer yang mungkin bertambah dengan sangat cepat. Karenanya, sekali lagi, adalah jumlah kuantitatif atom-atom itu di dalam molekul yang menentukan kemungkinan itu dan, sejauh yang telah dibuktikan, juga keberadaan sesungguhnya dari isomer-isomer yang secara kualitatif berbeda seperti itu.

Masih ada lagi. Dari analogi substansi-substansi yang kita kenal/ketahui dalam setiap dari deretan-deretan ini, kita dapat menarik kesimpulan-kesimpulan mengenai sifat-sifat fisikal dari anggota-anggota yang masih belum dikenal/diketahui dari deretan-deretan ini dan, sedikitnya bagi anggota-anggota yang segera menyusul anggota-anggota yang diketahui, memprediksikan sifat-sifatnya, titik didihnya, dan sebagainya, secara agak pasti.

Akhirnya, hukum Hegelian kesahihannya tidak hanya bagi substansi-substansi gabungan, melainkan juga bagi unsur-unsur kimiawi itu sendiri. Kini kita mengetahui bahwa

“sifat-sifat kimiawi unsur-unsur adalah suatu fungsi periodikal dari bobot-bobot atomiknya” (Roscoe-Schorlemmer, Ausführliches Lehrbuch der Chemie, II, hal.823),

dan bahwa, karenanya, kualitas mereka ditentukan oleh kuantitas berat atomik mereka. Dan pengujian atas hal ini telah dilakukan dengan gemilang. Mendeleyev telah membuktikan bahwa berbagai celah terdapat/terjadi dalam deretan-deretan unsur-unsur bersangkutan yang diatur menurut berat-berat atomik yang menandakan bahwa di sini unsur-unsur baru masih harus ditemukan. Jauh sebelumnya telah diuraikannya sifat-sifat kimiawi umum dari salah-satu dari unsur-unsur yang belum diketahui ini, yang disebutnya eka-aluminium,44) karena itu menyusul sesudah aluminium di dalam deretan-deretan yang dimulai dengan yang tersebut belakangan, dan ia memprediksikan perkiraan berat khusus dan atomik maupun volume atomiknya. Beberapa tahun kemudian, Lecoq de Bois-baudran benar-benar menemukan unsur ini, dan prediksi-prediksi Mendeleyev cocok benar dengan hanya kelainan-kelainan sangat kecil. Eka-aluminium dinyatakan dalam gallium (ibid., hal. 828). Dengan cara penerapan—secara tidak sadar—hukum Hegel mengenai transformasi kuantitas menjadi kualitas, Mendeleyev mencapai suatu hasil ilmiah yang luar biasa, yang tidaklah berlebih- lebihan jika disamakan dengan hasil Leverrier dalam memperhitungkan orbit planet yang hingga saat itu belum dikenal, yaitu planet Neptune.

Di dalam ilmu biologi, seperti halnya dalam sejarah masyarakat manusia, hukum-hukum yang sama berlaku pula pada setiap langkah, namun kita lebih suka berurusan dengan contoh-contoh dari ilmu- ilmu pasti, karena di sini kuantitas-kuantitas dapat diukur dan dilacak secara cermat.

Barangkali orang terhormat yang sama yang hingga kini telah menolak transformasi kuantitas menjadi kualitas sebagai mistisisme dan transendentalisme yang tidak masuk akal, kini akan menyatakan bahwa itu benar-benar sesuatu yang sangat gamblang, tidak berarti, dan biasa-biasa saja, yang telah lama mereka gunakan, dan dengan begitu mereka tidak mendapatkan pelajaran apapun yang baru. Tetapi dengan—untuk pertama kalinya—telah dirumuskan suatu hukum perkembangan umum dari alam, masyarakat dan pikiran, dalam bentuknya yang kesahihannya bersifat universal, itu untuk selamanya akan merupakan suatu langkah yang bermakna historikal. Dan apabila tuan-tuan ini selama bertahun-tahun telah menyebabkan ditransformasikannya kuantitas dan kualitas hingga tercampur aduknya satu sama yang lainnya, tanpa mengetahui apa yang sedang mereka lakukan itu, maka mereka mesti menghibur diri mereka sendiri dengan Monsieur Joudain-nya Molière yang sepanjang hidupnya mengucapkan prosa tanpa sedikitpun mengerti yang dikatakannya.45)

Alih bahasa: Ira

BENTUK-BENTUK DASAR DARI GERAK
oleh Friedrich Engels

Gerak dalam arti yang paling umum, difahami sebagai gaya keberadaan, atribut yang inheren, dari materi, mencakup/meliputi semua perubahan dan proses yang berlangsung dalam jagat raya, dari sekedar perubahan/pergantian tempat hingga sampai pada pikiran. Penyelidikan mengenai sifat gerak sudah dengan sendirinya mesti dimulai dari bentuk-bentuk gerak ini yang paling sederhana, paling rendah dan belajar menangkap semua itu sebelum ia dapat mencapai sesuatu sebagai penjelasan mengenai bentuk-bentuk yang lebih tinggi dan lebih rumit. Karenanya, dalam evolusi historikal ilmu-ilmu pengetahuan alam kita melihat bagaimana yang paling pertama-tama sekali dikembangkan adalah teori mengenai perubahan tempat yang paling sederhana, mekanika dari benda-benda langit dan massa-massa bumi; ia kemudian disusul oleh teori mengenai gerak molekular, fisika, dan segera kemudian, nyaris bersama-sama dan di beberapa tempat mendahuluinya, ilmu pengertahuan mengenai gerak atom-atom, kimia. Hanya setelah berbagai cabang pengetahuan mengenai bentuk-bentuk gerak yang menguasai alam tidak-hidup itu telah mencapai suatu derajat perkembangan yang tinggi, baru dapatlah penjelasan mengenai proses-proses gerak yang mewakili proses kehidupan itu ditangani dengan berhasil. Ini maju secara proporsional dengan kemajuan mengenai mekanika, fisika dan kimia. Akibatnya, sementara mekanika telah cukup lama secara sepadan mampu merujukkan efek-efek penungkil-penungkil tulang yang digerakkan oleh kontraksi otot dalam tubuh hewan pada hukum-hukum yang berlaku juga dalam alam tidak-hidup, substansiasi fisiko-kimiawi gejala-gejala lain dari kehidupan masih sangat berada pada awal perkembangannya. Karenanya di sini, dalam penyelidikan sifat gerak, kita terpaksa memasukkan bentuk-bentuk organik dari gerak itu,. Kita terpaksa membatasi diri kita—sesuai dengan keadaan ilmu-pengetahuan—pada bentuk-bentuk gerak dari alam tidak-hidup.

Semua gerak bertautan dengan sesuatu perubahan/pergantian/perpindahan tempat, apakah itu perubahan tempat benda-benda angkasa, massa-massa bumi, molekul-molekul, atom-atom, atau partikel-partikel ether. Semakin tinggi bentuk gerak itu, semakin kecil perubahan tempat itu. Ia sama sekali tdiak menguras habis sifat dari gerak bersangkutan, melainkan adalah tidak terpisahkan dari gerak itu. Ia, karenanya, mesti diselidiki sebelum kita menyelidiki apapun lainnya.

Keseluruhan alam yang terbuka bagi kita merupakan sebuah sistem, suatu totalitas yang saling-berkait dari benda-benda, dan dengan bgenda-benda kita mengartikan di sini semua keberadaan (eksistensi) material yang terentang dari bintang-bintang hingga atom-atom, bahkan sampai pada partikel-partikel ether, sejauh diakui keberadaan yang tersebut terakhir itu. Dalam kenyataan bahwa benda-benda ini saling-berkaitan sudah tercakup (pengertian) bahwa mereka bereaksi satu pada yang lainnya, dan justru reaksi timbal balik (satu sama lain) inilah yang menjadikan gerak. Sudah terbukti di sini bahwa materi itu tidak terbayangkan tanpa gerak. Dan apabila, sebagai tambahan, materi dihadapkan pada kita sebagai sesuatu yang tertentu, sama-sama tidak-dapat-diciptakan dan tidak-dapat-dihancurkan, maka berarti bahwa gerak juga tidak-dapat-diciptakan dan tidak-dapat-dihancurkan. Telah menjadi tidak mungkin untuk menolak kesimpulan ini segera setelah diakui bahwa jagat raya merupakan sebuah sistem, suatu antar-keterkaitan benda-benda. Dan sejak pengakuan ini dicapai oleh filsafat, lama sebelum ia diberlakukan secara efektif dalam ilmu-pengetahuan alam, dapatlah dimengerti mengapa filsafat, selama duaratus tahun sebelum ilmu-pengetahuan alam, menarik kesimpulan mengenai tidak-dapat-diciptakan dan tidak- dapat-dihancurkannya gerak. Bahkan bentuk yang dipakainya untuk melakukan ini masih lebih unggul daripada perumusan masa-kini dari ilmu-pengetahuan alam. Azas Descartes, bahwa jumlah (die Menge) gerak yang terdapat di dalam alam jagat selalu sama, hanya mengandung kelemahan-formal karena telah memakai suatu ungkapan terbatas bagi suatu kebesaran tak-terhingga. Sebaliknya, dua buah ungkapan mengenai hukum yang sama yang sekarang berlaku dalam ilmu-pengetahuan alam: hukum Helmholtz mengenai konservasi daya/tenaga, dan hukum yang lebih baru, yang lebih tepat, yaitu mengenai konservasi energi. Dari kedua-duanya ini, yang pertama, seperti akan kita lihat, mengatakan justru kebalikan dari yang lainnya, dan lebih dari itu, masing-masingnya hanya mengungkapkan satu sisi dari hubungan itu.

Manakala dua benda saling beraksi satu-sama-lain sehingga mengakibatkan suatu permindahan tempat dari yang satu atau pada kedua-duanya, maka perpindahan tempat ini hanya dapat berupa suatu pendekatan atau suatu pemisahan. Mereka saling tarik satu-sama-lain atau mereka saling menolak satu-sama-lain. Atau, sebagaimana mekanika menyatakannya, kekuatan-kekuatan yang beroperasi di antara mereka bersifat sentral, beraksi sepanjang garis yang menyatukan pusat-pusat mereka. Bahwa ini yang terjadi, bahwa demikian kenyataannya tanpa kecuali di seluruh alam jagat, betapapun rumitnya banyak gerakan mungkin tampaknya, dewasa ini diterima sebagai sesuatu yang dengan sendirinya begitu. Akan tampak tidak-masuk-akal untuk berasumsi, manakala dua benda beraksi satu pada yang lainnya dan saling interaksi itu tidak dilawan oleh hambatan apapun atau pengaruh suatu benda ketiga, maka aksi ini mesti dipengaruhi secara lain daripada sepanjang jalan yang terpendek dan paling langsung, yaitu, sepanjang garis lurus yang menyatukan/menghubungkan pusat-pusat mereka.*) Lagi pula, sudah sangat diketahui, bahwa Helmholtz (Erhaltung der Kraft, Berlin 1847, Seksi I dan II) telah memberikan bukti matematikal bahwa aksi sentral dan tidak-dapat-diubahnya jumlah gerak (Bewegungsmenge)48) dikondisikan secara timbal-balik dan bahwa anggapan mengenai aksi-aksi lain kecuali yang sentral itu membawa pada hasil-hasil di mana gerak dapat atau diciptakan atau dihancurkan. Karena itulah bentuk dasar dari semua gerak adalah pendekatan dan pemisahan, kontraksi dan pemuaian—singkatnya, pertentangan-pertentangan polar(kutub) lama dari tarikan dan tolakan.

Yang secara istimewa mesti diperhatikan ialah, bahwa di sini, tarikan dan tolakan tidak dipandang sebagai “kekuatan-kekuatan” tetapi sebagai bentuk-bentuk sederhana dari gerak, tepat sebagaimana Kant sudah memahami materi sebagai kesatuan tarikan dan tolakan. Yang mesti difahami dengan “kekuatan-kekuatan” akan ditunjukkan kelak pada waktunya.

Semua gerak terdiri atas saling-pengaruh tarikan dan tolakan. Namun, gerak hanya mungkin pabila setiap tarikan individual dikompensasi oleh tolakan yang bersesuaian di sesuatu tempat lainnya. Jika tidak begitu maka pada waktunya satu sisi akan menjadi lebih kuasa atas yang lainnya dan gerak itu akhirnya akan berhenti. Karenanya, semua tarikan dan semua tolakan dalam jagat raya mesti saling mengimbangi satu sama lain. Demikianlah hukum tidak-dapat-dihancurkan dan tidak-dapat-diciptakannya gerak terungkap dalam bentuk bahwa setiap gerak tarikan dalam jagat raya mesti mempunyai sebagai komplemennya suatu gerak tolakan ekuivalen (kesetaraan) dan vice versa; atau, sebagaimana filsafat kuno—lama sebelum perumusan ilmiah-alam mengenai hukum konservasi tenaga atau energi—menyatakannya: jumlah dari semua tarikan dalam alam jagat raya adalah sama dengan jumlah semua tolakan.

Namun, di sini tampaknya masih terdapat dua kemungkinan bagi semua gerak untuk berhenti pada sesuatu waktu, baik itu dikarenakan oleh tolakan dan tarikan yang akhirnya saling membatalkan satu sama lain dalam kenyataan aktual, ataupun dengan total tolakan yang akhirnya menguasai suatu bagian materi dan total tarikan menguasai bagian lainnya. Bagi konsepsi dialektikal, kemungkinan-kemungkinan ini sejak awal dimustahilkan. Sejauh ini, dialektika telah membuktikan dari hasil-hasil pengalaman kita tentang alam, bahwa semua oposisi kutub pada umumnya ditentukan oleh aksi timbal-balik kedua kutub yang berlawanan, bahwa pemisahan dan pertentangan dari kutub-kutub ini hanya ada di dalam saling keterkaitan dan persatuan mereka, dan, sebaliknya, bahwa kesatuan mereka hanya ada di dalam pemisahan mereka dan saling-keterkaitan mereka hanya dalam pertentangan mereka. Setelah ini ditandaskan, tidak ada masalah suatu pembatalan final dari tolakan dan tarikan, atau mengenai suatu pembagian final di antara satu bentuk gerak dalam separoh materi dan bentuk gerak lainnya dalam separoh materi lainnya, karenanya tidak ada masalah saling-penyusupan (penetrasi)49) atau pemisahan mutlak dari kedua kutub itu. Itu akan sama saja dengan menuntut, dalam kasus pertama, bahwa kutub utara dan kutub selatan dari sebuah magnet mesti saling-membatalkan atau, dalam kasus kedua, bahwa membagi sebuah magnet di tengah-tengah antara kedua kutub itu di satu sisi mesti menghasilkan suatu paroh utara tanpa suatu kutub selatan, dan di sisi lainnya suatu paroh selatan tanpa suatu kutub utara. Sekalipun—namun—kemustahilan asumsi-asumsi seperti itu segera nyata dari sifat dialektikal oposisi-oposisi kutub, bagaimanapun, berkat gaya pikiran metafisikal dari para ilmuwan alamyang berkuasa, asumsi kedua setidak-tidaknya memainkan suatu bagian tertentu dalam teori fisikal. Hal ini akan dibicarakan pada tempatnya kelak.

Bagaimanakah gerak menghadirkan dirinya dalam interaksi tarikan dan tolakan? Paling tepat hal ini diteliti dalam bentuk-bentuk gerak masing-masing sendiri. Pada akhirnya, aspek umum dari materi akan memperlihatkan dirinya sendiri.

Mari kita ambil gerak sebuah planet di sekitar benda (badan/kumpulan) sentralnya sendiri. Astronomi sekolahan biasa mengikuti Newton dalam menjelaskan elips yang dilukiskan sebagai hasil aksi bersama dari dua kekuatan, tarikan benda sentral dan suatu kekuatan tanjensial (tangential = yang bersinggungan) yang memacu planet itu di sepanjang kenormalan pada arah tarikan ini. Dengan demikian ia mengambil, di samping bentuk gerak yang berarahkan sentral, juga suatu arah lain dari gerak, atau yang dinamakan “kekuatan,” perpendikular (garis tegak-lurus) pada garis yang menghubungkan pusat-pusat itu. Dengan begita ia berlawanan/bertentangan dengan hukum dasar tersebut di atas, yang menyatakan bahwa semua gerak di dalam alam semesta kita hanya dapat terjadi di sepanjang garis yang menghubungkan pusat-pusat benda-benda yang satu sama lain beraksi secara timbal balik, atau, seperti juga dikatakan, yang hanya disebabkan oleh “kekuatan-kekuatan” yang beraksi secara sentral. Dengan begitu ia juga memperkenalkan ke dalam teori itu suatu unsur gerak yang, seperti juga telah kita saksikan, mau-tidak-mau membawa pada penciptaan dan penghancuran gerak, dan karenanya mengandaikan suatu pencipta. Yang mesti dilakukan, karenanya, yalah mengurangi kekuatan tanjensial yang misterius ini menjadi suatu bentuk gerak yang beraksi secara sentral, dan inilah yang dicapai/dilaksanakan oleh teori kosmogoni Kant-Laplace. Sebagaimana sudah sangat diketahui, menurut konsepsi ini seluruh sistem matahari lahir dari suatu massa serba-gas yang berputar, yang sangat lemah melalui/lewat kontraksi berangsur-angsur. Gerak rotasional (berputar) jelas paling kuat di khatulistiwa (equator) sfera serba-gas ini, dan cincin-cincin serba-gas individual memisahkan diri dari massa itu dan berkerumun bersama (jadi-satu) menjadi planet-planet, planetoid-planetoid, dsb., yang berputar di sekeliling ben da sentral dalam arah rotasi (perputaran) aslinya. Perputaran ini sendiri lazimnya diterangkan dari gerak partikel-partikel serba-gas itu sendiri-sendiri. Gerak ini terjadi ke semua arah, tetapi akhirnya suatu ekses dalam satu arah tertentu menjadikannya nyata dan dengan begitu menyebabkan gerak berputar itu, yang pasti menjadi semakin kuat dan semakin kuat dengan kontraksi progresif dari sfera serba-gas itu. Tetapi, hipotesis apapun yang dibuat mengenai asal-usul perputaran (rotasi) itu, kesemuanya menghapuskan kekuatan tanjensial, meleburnya dalam suatu bentuk manifestasi khusus dari gerak yang beraksi secara sentral. Apabila satu unsur gerak planeter, yaitu yang langsung sentral, diwakili oleh gravitasi, tarikan antara planet dan benda sentral itu, maka unsur yang lain, yang tanjensial, tampak sebagai sebuah relik, dalam suatu bentuk derivatif atau sudah berubah, dari tolakan asli partikel-partikel individual dari sfera serba-gas itu. Dengan demikian proses kehidupan suartu sistem matahari menghadirkan dirinya sebagai saling-pengaruh-mempengaruhinya tarikan dan tolakan, di mana tarikan berangsur-angsur menjadi semakin unggul-mengungguli disebabkan tolakan yang dipancarkan (radiasi) ke ruang angkasa dalam bentuk panas dan dengan demikian semakin menghilang (terhilang) dari sistem itu.

Selintas-kilas orang melihat bahwa bentuk gerak yang di sini difahami sebagai tolakan adalah sama dengan yang oleh ilmu-fisika modern diistilahkan/disebut “energi.” Dengan kontraksi sistem itu dan akibat menjauhnya benda-benda individual yang menjadi pembentuknya dewasa ini, sistem itu telajh kehilangan “energi,” dan justru kehilangan ini, menurut perhitungan Helmholtz yang terkenal, sudah mencapai 453/454 (empatratuslimapuluhtiga per empatratuslimapuluhempat) dari jumlah total gerak (Bewegungsmenge) yang aslinya terdapat dalam bentuk tolakan.

Mari kita sekarang mengambil suatu massa dalam bentuk sebuah benda di atas bumi kita sendiri. Ia dikaitkan dengan bumi oleh gravitasi, sebagaimana bumi pada gilirannya terkait pada matahari; namun, tidak seperti bumi, ia tidak berkemampuan akan suatu gerak planeter yang bebas. Ia hanya dapat digerakkan dengan/oleh suatu impuls dari luar, dan bahkan dengan begitu, sesegera impuls itu terhenti, geraknya segera terhenti pula, baik itu dikarenakan oleh gravitas saja ataupun oleh yang tersebut belakangan itu secara terpadu dengan perlawanan medium di mana ia bergerak. Perlawanan ini sebenarnya juga suatu efek dari gravitas, tanpa itu bumi, di atas permukaannya, tidak akan mempunyai medium perlawanan apapun, tidak akan mempunyai atmosfer apapun. Karenanya, dalam gerak yang semurninya mekanikal di atas permukaan bumi kita menghadapi suatu situasi di mana gravitasi, tarikan, secara menentukan berkuasa, di mana, oleh sebab itu, produksi gerak memperlihatkan kedua tahap: pertama gravitas yang beraksi secara berlawanan dan kemudian memperkenankan gravitas itu beraksi—singkatnya, naik dan jatuh.

Maka, kita mendapati lagi aksi timbal-balik antara tarikan di satu pihak dan suatu bentuk gerak yang terjadi dalam arah berlawanan dengannya, karenanya suatu bentuk gerak tolakan, di lain pihak. Tetapi, di dalam lingkup mekanika yang semurninya terestrial [bumi] (yang berurusan dengan massa-massa keadaan-keadaan agregasi dan kohesi tertentu yang diliputinya sebagai tidak-dapat-berubah) bentuk gerak tolakan ini tidak terjadi di dalam alam. Kondisi-kondisi fisikal dan kimiawi yang dengannya segumpal batu-karang menjadi terpisah dari suatu puncak-gunung, atau memungkjinkan jatuhnya air, berada di luar lingkup aksinya. Karenanya, dalam mekanika yang semurninya terestial, gerak tolakan, gerak naik mesti diproduksi secara buatan; dengan tenaga manusia, kekuatan hewani, daya air atau uap, dsb. Dan keadaan ini, keharusan untuk memerangi tarikan alamiah secara buatan, menyebabkan para ahli mekanika menganut pandangan bahwa tarikan, gravitasi, atau—sebagaimana mereka katakan= kekuatan gravitas, merupakan bentuk gerak dalam alam yang paling penting, bahkan yang paling dasar.

Manakala, misalnya, suatu beban (bobot) diangkat dan menghubungkan (mengomunikasikan) gerak pada benda-benda lain dengan langsung atau tak-langsung jatuh, maka menurut pandangan mekanika yang biasa, ia bukanlah pengangkatan beban itu yang mengomunikasikan gerak ini, melainkan adalah gaya gravitas yang melakukannya. Begitulah Helmholtz, misalnya, yang membuat

“kekuatan yang adalah yang paling sederhana dan yang paling kita kenal, yaitu gravitas, yang bertindak sebagai daya pendorongnya…. misalnya dalam lonceng-lonceng yang digerakkan oleh suatu beban. Beban itu…..tidak dapat menuruti tarikan gravitas tanpa membuat seluruh kerja-lonceng itu bergerak.” Tetapi ia tidak dapat membuat kerja-lonceng itu bergerak tanpa sendiri turun dan itu terus turun sampai rantai yang padanya ia bergantung sepenuhnya terentang habis: “Lalu lonceng itu akan berhenti, karena kapasitas operatif dari beban itu telah habis untuk sementara waktu. Bobotnya bukannya hilang atau berkurang, ia tetap tertarik hingga batas yang sama oleh bumi, tetapi kapasitas bobot ini untuk menghasilkan gerakan-gerakan telah hilang…. Namun, kita dapat, memutar konceng itu dengan tenaga lengan manusia, sehingga bobot itu kembali dinaikkan. Segera setelah ini terjadi, ia memperoleh kembali kapasitas operatifnya yang semula/sebelumnya dan kembali dapat menggerakkan lonceng itu.” (Helmholtz, Populäre Vorträge, II, hal. 144-45.)

Maka itu, menurut Holmholtz, bukanlah komunikasi gerak secara aktif, dinaikkannya bobot/beban, yang membuat lonceng itu bergerak, melainkan beratnya bobot pasif itu, sekalipun berat yang sama ini hanya ditarik dari kepasivannya dengan mengangkatnya, dan sekali lagi balik pada kepasivan setelah rantai beban itu terentang habis. Maka, apabila menurut konsepsi modern, seperti yang sudah kita lihat di atas, energi hanyalah sebuah ungkapan lain buat tolakan, di sini, di dalam konsepsi Helmholtz yang lebih tua, kekuatan tampil sebagai ungkapan lain bagi lawan tolakan, bagi tarikan (atraksi) Untuk sementara kita catat saja hal ini.

Namun, apabila proses mekanika terestial telah sampai pada akhirnya, manakala massa berat itu pertama-tama sekali telah diangkat dan kemudian jatuh kembali melalui ketinggian yang sama, apakah yang terjadi dengan gerak yang menjadikan proses ini? Bagi mekanika murni, ia telah lenyap. Tetapi kita mengetahui sekarang, bahwa ia sama sekali tidaklah dihancurkan. Hingga batas tertentu ia telah diubah menjadi getaran-getaran (vibrasi) udara dari gelombang-gelombang suara, hingga suatu batas yang lebih besar lagi, menjadi panas—yang sebagian telah dikomunikasikan pada atmosfer yang berlawan, sebagian lagi pada benda jatuh itu sendiri, dan sebagian lagi akhirnya pada lantai di atas mana beban itu terhenti. Bobot lonceng itu juga secara berangsur-angsur telah melerpaskan geraknya dalam bentuk panas gesekan pada berbagai roda pendorong/pemacu dari kerja-lonceng itu. Namun, sekalipun lazimnya diungkapkan secara demikian, bukanlah gerak jatuh itu, yaitu tarikan itu, yang telah beralih menjadi panas, dan dengan begitu menjadi suatu bentuk tolakan. Sebaliknya, sebagaimana dengan tepat dinyatakan oleh Helmholtz, tarikan itu, beratnya itu, tetap sebagaimana itu sebelumnya dan, dikatakan secara secermatnya, bahkan menjadi lebih besar. Lebih tepatnya, adalah tolakan itu yang dikomunikasikan pada benda yang terangkat itu dengan mengangkatnya, yang dihancurkan secara mekanikal dengan jatuh dan muncul kembali sebagai panas. Tolakan massa-massa diubah menjadi tolakan molekular.

Panas, sebagaimana sudah dinyatakan, adalah suatu bentuk tolakan. Ia menggerakkan molekul-molekul benda-benda padat beroskilasi (bergoyang-goyang), dengan demikian melepaskan kaitan-kaitan molekul-molekul itu sendiri-sendiri sehingga akhirnya berlangsunglah peralihan ke keadaan cair itu. Dalam keadaan cair itu juga, dengan terus ditambahkannya panas, ia meningkatkan gerak molekul-molekul itu hingga tercapailah suatu derajat di mana molekul-molekul itu sepenuhnya memisahkan diri dari massa itu dan, pada kecepatan tertentu yang ditentukan bagi setiap molekul oleh susunan kimiawinya, mereka bergerak menjauh secara sendiri-sendiri dalam keadaan bebas. Dengan penambahan panas lebih lanjut, kecepatan itu semakin ditingkatkan, dan dengan begitu molekul-molekul itu semakin saling-tolak-menolak satu sama lainnya.

Namun panas itu suatu bentuk dari apa yang dinamakan “energi”; di sini lagi-lagi ternyata bahwa yang tersebut belakangan itu adalah identikal dengan tolakan.

Dalam gejala-gejala listrik statik dan magnetisme, kita dapatkan suatu distribusi polar dari tarikan dan tolakan. Apapun hipotesis yang diterima mengenai modus operandi kedua bentuk ini, berdasarkan fakta tidak ada keraguan sedikitpun bahwa tarikan dan tolakan, sejauh-jauh mereka diproduksi/dihasilkan oleh listrik statik atau magnetisme dan mampu untuk berkembang tanpa halangan, mereka sepenuhnya saling mengompensasi (kompensasi) satu sama lain, sebagaimana nyata tidak-bisa-tidak disebabkan oleh sifat distribusi polar itu sendiri. Dua kutub yang kegiatan-kegiatannya tidak sepenuhnya saling mengompensasi satu sama lain memang bukan kutub-kutub, dan sejauh ini belum pernah dijumpai dalam alam. Untuk sementara kita tidak akan membicarakan galvanisme, karena dalam hal ini, prosesnya ditentukan oleh reaksi-reaksi kimiawi, yang menjadikannya semakin rumit. Karenanya, lebih baik kita meneliti proses-proses kimiawi dari gerak itu.

Manakala dua bagian berat hidrogen berpadu dengan 15,96 bagian berat oksigen untuk membentuk uap air, suatu jumlah panas sebanyak 68,924 satuan-panas dikembangkan selama proses itu. Sebaliknya, apabila 17,96 bagian berat uap air didekomposisikan menjadi dua bagian berat hidrogen dan 15,96 bagian berat oksigen, hal ini hanya mungkin dengan syarat bahwa uap air itu telah mengomunikasikan suatu jumlah gerak yang setara dengan 68,924 satuan-panas—baik itu dalam bentuk panas itu sendiri atau dalam bentuk gerak elektrikal. Dalam mayoritas terbesar kasus, gerak dilepaskan/terjadi pada perpaduan dan mesti disuplai pada dekomposisi. Juga di sini, lazimnya, tolakan merupakan segi aktif dari proses itu, yang lebih dibekali dengan gerak atau memerlukan suatu tambahan gerak, sedangkan tarikan merupakan segi pasif yang menghasilkan suatu surplus gerak dan melepaskan gerakan. Berdasar hal ini, teori modern juga menyatakan bahwa, dalam keseluruhannya, energi itu dibebaskan pada waktu (saat) perpaduan unsur- unsur dan menjadi tergabung pada saat dekomposisi. Di sini, karena itu, energi lagi-lagi berarti tolakan. Dan Helmholtz kembali menyatakan:

“Kekuatan ini (afinitas kimiawi) dapat difahami sebagai suatu kekuatan tarikan…. Kekuatan tarikan ini di antara atom-atom karbon dan oksigen melaksanakan pekerjaan sangat sama banyaknya seperti (dengan) yang dikerahkan pada suatu berat yang diangkat oleh bumi dalam bentuk gravitasi… Manakala atom-atom karbon dan oksigen saling menyerbu satu sama lain dan berpadu untuk membentuk asam karbonik, maka partikel-partikel asam karbonik yang baru terbentuk itu mesti berada dalam gerak molekular yang dahsyat, yaitu, dalam gerak panas…. Apabila kemudian mereka melepaskan panas mereka pada lingkungan, kita masih mendapati dalam asam karbonik itu semua karbon, semua oksigen, dan tambahan lagi afinitas dari keduanya terus berada/hidup dengan sama kuat-perkasanya seperti sebelumnya. Tetapi, afinitas ini kini menyatakan dirinya semata-mata dalam kenyataan bahwa atom-atom karbon dan oksigen lekat-rapat satu-sama-lain, dan tidak memperkenankan terpisahnya mereka kembali.” (Helmholtz, ibid., hal. 169.)

Helmholtz berkukuh bahwa dalam ilmu kimia maupun dalam ilmu mekanika, kekuatan hanya ada dalam tarikan, dan karena itu menjadi tepat berlawanan dengan yang oleh para ahli fisika lainnya disebut energi dan yang identikal dengan tolakan.

Maka, kini tidak hanya terdapat dua bentuk dari dari tarikan dan tolakan yang sederhana, melainkan serangkaian/sederetan penuh anak-anak bentuk di mana pemutaran dan pelepasan proses gerak universal berlangsung di dalam oposisi tarikan dan tolakan. Namun, sama-sekali tidaklah hanya dalam pikiran kita beraneka-ragam bentuk penampilan ini difahami dalam ketunggalan ungkapan gerak. Sebaliknya, semuanya itu membuktikan diri dalam aksi bahwa mereka adalah bentuk-bentuk dari gerak yang satu dan sama dengan cara mereka beralih yang satu menjadi yang lainnya dalam keadaan-keadaan tertentu. Gerak massa-massa secara mekanikal beralih menjadi panas, menjadi listrik, menjadi magnetisme; panas dan listrik beralih menjadi dekomposisi kimiawi; kombinasi kimiawi pada gilirannya lagi melahirkan panas dan listrik dan, lewat yang tersebut terakhir, magnetisme; dan akhirnya, panas dan listrik kembali menghasilkan lebih banyak gerak massa-massa secara mekanikal. Selanjutnya, perubahan-perubahan ini terjadi sedemikian rupa sehingga sejumlah bentuk gerak tertentu selalu mempunyai suatu jumlah tertentu yang tepat-sama dari bentuk gerak yang lain. Selanjutnya, tidaklah peduli bentuk gerak yang mana menentukan satuan untuk mengukur jumlah gerak itu, apakah itu untuk mengukur gerak massa, panas, yang dinamakan kekuatan elektro-motive, atau gerak yang menjalani transformasi dalam proses-proses kimiawi.

Di sini kita bersandar pada teori “konservasi energi” yang ditegakkan oleh J.R. Mayer**) pada tahun 1842 dan kemudian disusun secara internasional dengan keberhasilan yang begitu cemerlang, dan kini kita mesti meneliti konsep-konsep fundamental yang dipakai dewasa ini oleh teori ini. Ini adalah konsep-konsep mengenai “kekuatan/daya,” atau “energi,” dan “kerja”.

Telah ditunjukkan di atas, bahwa menurut pandangan modern, yang kini umumnya diterima, energi adalah istilah yang dipakai untuk tolakan, sedangkan Helmholtz lebih banyak memakai kata daya untuk menyatakan tarikan. Orang dapat menganggap ini suatu perbedaan formal yang tidak penting, sejauh tarikan dan tolakan itu saling mengompensasi satu sama lain di jagat raya, dan sesuai dengan itu persoalan segi mana dari hubungan itu yang dianggap sebagai positif dan yang mana sebagai yang negatif akan tampak sebagai hal yang tidak perlu dipersoalkan, sebagaimana itu sendiri tidaklah penting manakala absisae (abscissae) dihitung ke kanan atau ke kiri dari sebuah titik dalam suatu garis tertentu. Namun, hal ini sama sekali tidaklah demikian mutlaknya.

Karena, di sini kita tidak mempersoalkan—pertama-tama—alam semesta, tetapi gejala-gejala yang terjadi di atas bumi dan dikondisikan oleh tertentunya posisi bumi secara pasti di dalam sistem matahari (tata-surya), dan posisi sistem matahari dalam alam semesta. Namun, setiap saat, sistem matahari kita mengeluarkan kuantitas-kuantitas gerak secara luar-biasa besarnya ke ruang angkasa, dan—lagi pula—gerak dari suatu kualitas yang sangat tertentu, yaitu, panas matahari, yaitu tolakan. Tetapi bumi kita sendiri memungkinkan keberadaan kehidupan di atasnya hanya dikarenakan panas matahari, dan pada akhirnya, bumi pada gilirannya memancarkan panas matahari yang diterimanya ke ruang angkasa, setelah ia mengubah sebagaian dari panas ini menjadi bentuk-bentuk gerak yang lain. Karenanya, di dalam sistem matahari dan di atas segala-galanya di atas bumi, tarikan sudah sangat mengungguli (mengatasi) tolakan. Tanpa gerak tolakan yang dipancarkan pada kita dari matahari, semua gerak di atas bumi akan terhenti. Seandainya esok matahari itu menjadi dingin, maka tarikan di atas bumi akan tetap, dengan semua keadaan lainnya tetap sama, sebagaimana ia adanya sekarang. Seperti di muka, sebuah batu yang beratnya 100 kilogram, di manapun batu itu ditempatkan, akan tetap 100 kilogram beratnya. Tetapi gerak itu, baik yang dari massa-massa dan dari molekul-molekul dan atom-atom, akan sampai/menjadi yang akan kita anggap sebagai suatu perhentian. Maka dari itu, jelaslah bahwa bagi proses-proses yang terjadi dewasa ini di atas bumi, sama sekali bukan masalah yang tak-perlu-dihiraukan apakah tarikan atau tolakan difahami sebagai segi aktif dari gerak, dan karenanya sebagai “daya,” atau “energi”. Sebaliknya, dewasa ini di atas bumi, tarikan sudah menjadi pasif sepenuhnya dikarenakan kemantapannya yang lebih menentukan di atas tolakan; kita berhutang semua gerak aktif pada suplai tolakan dari matahari. Karena itu, aliran modern—bahkan apabila masih tetap tidak jelas mengenai sifat hubungan gerak—betapa-pun, dalam hal kenyataan dan bagi proses-proses terestrial, bahkan bagi seluruh sistem mathari, secara mutlak benar dalam memahami energi sebagai tolakan.

Istilah “energi” sama sekali tidak secara tepat mengungkapkan seluruh hubungan gerak, karena ia hanya mencakup satu aspek saja, yaitu aksinya tetapi penciptaannya tidak. Ia masih membuat seakan-akan “energi” itu sesuatu yang di luar (eksternal) materi, sesuatu yang ditanamkan ke dalamnya. Tetapi dalam segala keadaan ia lebih disukai/dipilih daripada ungkapan “daya”.

Sebagaimana umumnya diakui (dari Hegel hingga Helmholtz), pengertian daya diderivasi dari kegiatan organisme manusia di dalam lingkungannya. Kita berbicara tentang kekuatan otot, mengenai daya angkat lengan, mengenai daya loncat kaki, mengenai daya cerna perut dan sistem intestinal, mengenai daya sensor syaraf-syaraf, mengenai daya secretori kelenjar-kelenjar, dsb. Dengan kata-kata lain, demi pengamanan karena mesti memberikan sebab sebenarnya sesuatu perubahan yang ditimbulkan oleh suatu fungsi organisme kita, kita menggantikannya dengan sebuah sebab karangan, sesuatu yang disebut daya yang bersesuaian dengan perubah-an itu. Kemudian kita alihkan metode yang memudahkan ini kepada dunia eksternal juga, dan dengan begitu membuat penemuan kekuatan-kekutan/daya-daya sebanyaki adanya beraneka-ragam gejala.

Pada masa Hegel, ilmu-pengetahuan alam (barangkali dengan pengecualian ilmu-mekanika langit dan bumi) masih berada dalam keadaan pandir (naive), dan Hegel dengan tepat sekali menyerang cara penunjukan (denotasi) daya-daya yang berlaku (pasase yang akan dikutib).51) Seperti itu pula dalam sebuah pasase lain:

“Adalah lebih baik (mengatakan) bahwa sebuah magnet mempunyai suatu roh” (sebagaimana Thales menyatakannya) “daripada bahwa ia mempunyai suatu daya tarikan; daya adalah semacam sifat yang, terpisahkan dari materi dikemukakan sebagai sebuah predikat—sedangkan roh, sebaliknya, adalah gerak ini sendiri, identikal dengan sifatnya materi.” (Geschichte der Philosophie, I, hal. 208.)

Dewasa ini kita lagi menggampangkan persoalan daya-daya. Mari kita dengar Helmholtz:

“Apabila kita sepenuhnya mengenal sebuah hukum alam, kita juga mesti menuntut bahwa hukum itu mesti beroperasi tanpa pengecualian… Dengan demikian hukum berhadapan dengan kita sebagai suatu kekuatan objektif, dan bersesuaian dengan itu kita menamakannya suatu daya. Misalnya, kita mengobjektivikasi hukum refraksi cahaya sebagai suatu daya refraktif dari substansi-substansi transparan, hukum afinitas kimiawi sebagai suatu daya afinitas dari berbagai substansi satu-sama-lain. Begitulah kita berbicara mengenai daya elektrik dari kontak metal-metal, mengenai daya adhesi, daya kapilari, dan begitu seterusnya. Nama-nama ini mengobjektivikasi hukum-hukum yang terutama hanya mencakup suatu rangkaian terbatas proses-proses alamiah, yang kondisi-kondisinya masih rada-rada rumit…. Daya hanyalah hukum aksi yang diobjektivikasi…. Ide abstrak mengenai daya yang kita perkenalkan/ajukan hanya menambahkan bahwa kita tidak secara sewenang-swenang membuat penemuan hukum ini, melainkan bahwa ia adalah sebuah hukum gejala-gejala yang merupakan keharusan. Karena itu tuntutan kita untuk memahami gejala-gejala alam, yaitu, menemukan hukum-hukumnya, mengambil suatu bentuk ungkapan yang lain, yaitu, bahwa kita harus menemukan daya-daya yang menjadi sebab-sebab dari gejala-gejala itu.” (Loc. cit., hal.189- 91. Ceramah Innsbruck tahun 1869.)

Pertama-tama, jelaslah suatu cara “objektivikasi” yang ganjil apabila pengertian mengenai daya yang semurninya subjektif itu dimasukkan ke dalam suatu hukum alam yang sudah ditegakkan sebagai bebas dari subjektivitas kita dan oleh karenanya sepenuhnya bersifat objektif. Paling-bantar seorang Hegelian-tua dari tipe yang paling tegar dapat memperkenankan hal seperti itu bagi dirinya, namun tidak bagi seorang Neo-Kantian seperti Helmholtz. Hukum itu, sekali ia telah dimantapkan, maupun objektivitasnya ataupun objektivitas aksinya, sedikitpun tidak memerlukan objektivitas baru dari/oleh kita dengan penginterpolasian suatu daya ke dalamnya; yang ditambahkan adalah anggapan subjektif kita bahwa ia bertindak berkat suatu daya yang sejauh ini sama sekali tidak dikenal/diketahui. Namun makna rahasia dari interpolasi ini segera tampak ketika Helmholtz memberikan contoh-contoh pada kita: refraksi cahaya, afinitas kimiawi, listrik kontak, adhesi, kapilaritas, dan mengangkat hukum-hukum yang menguasai gejala- gejala ini pada peringkat keningratan “objektif” sebagai daya-daya. “Nama-nama ini mengobjektivikasi hukum-hukum yang terutama hanya mencakup suatu rangkaian terbatas proses-proses alamiah, yang kondisi-kondisinya masih rada-rada rumit.” Dan justru di sinilah “objektivikasi” itu, yang lebih bersifat subjektivikasi, memperoleh maknanya; tidak karena kita telah menjadi sepenuhnya mengenal hukum itu, melainkan justru karena tidak demikianlah kenyataannya. Justru karena kita belum jelas mengenai “kondisi-kondisi yang rada-rada rumit” dari gejala-gejala ini, kita sering mencari pelarian kita dalam kata daya itu. Dengan begitu kita tidak menyatakan pengetahuan kita, melainkan (justru) kekurangan/ketiadaan pengetahuan kita mengenai sifat hukum itu dan gaya aksinya. Dalam pengertian ini, sebagai suatu ungkapan singkat bagi suatu pertautan sambil-lalu yang masih belum dijelaskan, sebagai suatu ungkapan asal-jadi, ia mungkin lolos ke dalam pemakaian dewasa ini. Apapun saja daripada yang dari kebatilan. Dengan hak yang sama absahnya sebagaimana Helmholtz menjelaskan gejala-gejala fisikal dari apa yang dinamakan daya refraktif, daya kontak elektrikal, dsb., para skolastik abad-pertengahan menjelaskan perubahan-perubahan temperatur (suhu) melalui/dengan suatu vis calorifica dan vis frigifaciens dan dengan demikian mengamankan/menyelamatkan diri mereka dari semua penelitian lebih lanjut mengenai gejala-gejala panas.

Dan bahkan dalam arti ini ia sungguh malang, karena ia mengungkapkan segala sesuatu dengan cara yang berat-sebelah. Semua proses alam adalah bersegi-dua, mereka didasarkan pada hubungan setidak-tidaknya dua bagian operatif, aksi dan reaksi. Namun, pengertian daya, karena asal-usulnya dari aksi organisme manusia atas dunia eksternal, dan selanjutnya dari mekanika bumi, berarti bahwa hanya satu bagian yang aktif, operatir, sedangkan bagian lainnya adalah pasif, nerimo; karenanya ia menetapkan suatu perluasan perbedaan yang belum dapat diperagakan di antara jenis-jenis kelamin pada objek-objek mati (tidak hidup). Reaksi dari bagian kedua, yang padanya daya itu bekerja, paling-paling tampil sebagai suatu reaksi pasif, sebagai suatu tentangan. Nah, gaya konsepsi ini diperkenankan dalam sejumlah bidang, bahkan di luar mekanika murni, yaitu, di mana ia menjadi masalah pengalihan gerak secara sederhana dan penghitungan kuantitatifnya. Tetapi, dalam proses-proses fisikal yang lebih rumit, ia tidak mencukupi, sebagaimana dibuktikan oleh contoh-contoh Helmholtz sendiri. Daya refraktif itu sama kuatnya terletak dalam cahaya itu sendiri seperti dalam benda-benda transparan itu. Dalam hal adhesi dan kapilaritas, jelaslah bahwa “daya” itu sama kuatnya berada dalam permukaan yang padat seperti dalam permukaan yang cair. Bagaimanapun, dalam listrik kontak, halnya sudah jelas, yaitu, bahwa kedua metal menyumbang padanya, dan “afinitas kimiawi” juga berada—kalaupun di manapun—dalam kedua bagian yang memasuki perpaduan/penggabungan. Tetapi suatu daya yang terdiri atas dua daya yang terpisah, suatu aksi yang tidak menimbulkan reaksinya, tetapi yang mencakup dan menanggung ini di dalamnya sendiri, bukanlah daya dalam pengertian mekanika terestrial, satu-satunya ilmu-pengetahuan di mana seseorang sungguh-sungguh mengetahui apa yang dimaksudkan dengan suatu daya. Karena kondisi-kondisi pokok dari mekanika terestrial adalah, pertama-tama, penolakan untuk meneliti sebab-sebab dari impuls itu, yaitiu, sifat dari daya tertentu, dan, kedua, pandangan mengenai kebersegi-satunya daya, karena di mana-mana ia ditentang oleh suatu daya gravitasional yang identikal, sedemikian rupa sehingga dibandingkan dengan jarak jatuh terestrial yang manapun, maka jarak-tempuh (radius) bumi = “tak-terhingga”.

Tetapi, mari kita lebih lanjut melihat bagaimana Helmholtz “mengobjektivikasi daya-dayanya” ke dalam hukum-hukum alam.

Dalam sebuah ceramah di tahun 1854 (loc. cit., hal.119)52) ia memeriksa simpanan daya kerja yang aslinya dikandung dalam nebula sferikal dari mana sistem matahari kita dibentuk.

“Sesungguhnya ia menerima suatu warisan yang luar-biasa besarnya dalam hal ini, sekalipun dalam bentuk daya tarikan umum dari semua bagiannya satu-sama-lain.”

Hal ini tidak dapat disangkal. Tetapi adalah sama tidak-dapat-disangkal bahwa keseluruhan dari warisan gravitas atau gravitasi ini hadir tanpa berkurang di dalam sistem matahari sekarang, kecuali—barangkali—kuantitas yang teramat kecil yang hilang bersama materi yang mungkin dilempar keluar secara tidak-terelakan ke ruang angkasa.

“Daya-daya kimiawi juga mesti sudah ada/hadir dan siap untuk beraksi/bertindak; tetapi, karena daya-daya ini hanya bisa menjadi efektif dalam kontak akrab berbagai jenis massa, maka kondensasi mesti terjadi sebelum mereka berperan.” (hal. 120)

Apabila, seperti yang dilakukan Helmholtz di atas ini, kita memandang daya-daya kimiawi ini sebagai daya-daya afinitas, artinya sebagai tarikan, maka kembali kita mau-tak-mau mesti mengatakan bahwa jumlah-total daya-daya kimiawi dari tarikan ini masih ada tanpa berkurang di dalam sistem matahari.

Tetapi pada halaman yang sama, kepada kita Helmholtz memberikan sebagai hasil perhitungan-perhitungan,

“bahwa barangkali hanya 454-bagian dari daya mekanikal asli yang terdapat seperti itu”—yaitu, dalam sistem matahari itu.

Bagaimana orang mesti mengartikan itu? Daya tarikan, baik yang umum maupun yang kimiawi, masih hadir tanpa gangguan apapun di dalam sistem matahari. Helmholtz tidak menyebutkan sumber tertentu lainnya dari daya itu. Bagaimanapun, menurut Helmholtz, daya-daya ini telah melakukan pekerjaan yang luar-biasa. Namun semuanya itu tidak berkurang ataupun bertambah karenanya. Seperti halnya dengan berat lonceng yang tersebut di atas, demikian pula dengan setiap molekul di dalam sistem matahari dan seluruh sistem matahari itu sendiri. “Beratnya tidak hilang ataupun berkurang.” Yang terjadi dengan karbon dan oksigen sebagaimana yang disebutkan, berlaku pula bagi semua unsur kimiawi: jumlah kuantitas tertentu dari masing-masingnya tetap, dan “jumlah daya afinitas terus ada dengan sama kuatnya seperti pada waktu sebelumnya.” Lalu, apakah yang telah hilang? Dan “daya” apakah yang telah melakukan kerja luar-biasa yang adalah 453 kali lebih besar daripada yang, menurut perhitungannya, masih mampu dilakukan oleh sistem matahari itu? Hingga di sini Helmholtz tidak memberikan jawaban. Namun lebih lanjut ia mengatakan:

“Apakah [dalam nebula sferikal asli] suatu _cadangan daya dalam bentuk panas _masih hadir, kita tidak tahu.”

Tetapi, jika kita diperkenankan menyebutkannya, panas itu adalah suatu “daya” tolakan, karenanya ia bertindak berlawanan dengan tarikan gravitasi maupun kimiawi, yaitu berarti minus apabila ini ditempatkan sebagai plus. Maka apabila, menurut Helmholtz, cadangan daya asli itu terdiri atas tarikan umum dan kimiawi, suatu cadangan panas ekstra mestilah, tidak ditambahkan pada cadangan daya itu, melainkan ditarik/dikurangi darinya. Jika tidak demikian halnya maka panas matahari mestilah memperkuat daya tarikan bumi apanbila ia menyebabkan air meng-uap ke arah lawan tarisan ini, dan uap air itu naik; atau panas sebuah pipa (tube) besi pijar yang dilalui uap akan memperkuat tarikan kimiawi oksigen dan hidrogen, yang membuatnya tidak beraksi. Atau, untuk membuat jelas hal yang sama itu dalam suatu bentuk lain: mari kita menganggap bahwa nebul sferikal dengan radius r, dan karenanya dengan volume 4/3 o r³ mempunyai suatu suhu t. Selanjutnya mari kita anggap sebuah nebul sferikal kedua dari massa yang sama pada suhu lebih tinggi T mempunyai radius R yang lebih b esar dan volume 4/3 o r³. Kini menjadi jelas bahwa dalam nebula kedua, tarika n itu, baik yang mekanikal maupun yang fisikal dan kimiawi, dapat bertindak dengan daya yang sama seperti pada nebula pertama ketika ia mengkeret dari radius R menjadi radius r, yaitu, ketika ia telah memancarkan panas itu ke angkasa sesuai dengan perbedaan suhu Tt. Suatu nebula yang lebih panas oleh karenanya berkondensasi lebih lambat/belakangan daripada nebula yang lebih dingin; Dan sebagai konsekuensinya, panas itu, yang dari pendirian Helmholtz dipandang sebagai suatu rintangan bagi kondensasi, bukanlah suiatu plus melainkan suatu minus dari “cadangan daya.” Helmholtz, dengan mengan daikan kemungkinan sejumlah gerak tolakan dalam bentuk panas menjadi ditambahkan pada bentuk-bentuk gerak tarikan, jelas-jelas melakukan suatu kesalahan perhitungan.

Sekarang, mari kita tempat keseluruhan dari “cadangan daya” ini, yang mungkin maupun yang dapat didemon strasikan, di bawah tanda matematikal yhang sama sehingga suatu tambahan menjadi mungkin. Karena sementara ini kita tidak dapat membalikkan panmas dan menggantikan tolakannya dengan t arikan setara, kita terpaksa melaksanakan pembalikan ini dengan kedua bentuk tarikan. Kemudian, gantinya daya tarikjan umum, gantinya afinitas kimiawi, dan gantinya panas, yang lagipula mungkin sudah ada sejak awal, kita cuma mesti menempatkan jumlah gerak tolakan atau yang disebut energi yang terdapat di dalam sfera serba-gas pada saat ia menjadi bebas. Dan dengan melakukan hal itu maka perhitungan Helmholtz juga menjadi sahih, dalam hal ia bermaksud memperhitungkan “pemanasan yang mesti lahir dari perkiraan kondensasi awal benda-benda langit dari sistem kita dari materi serba-nebula yang berserakan.” Dengan mereduksikan seluruh “cadangan daya” pada panas, tolakan, ia juga membuatnya mungkin untuk menambah pada perkiraan cadangan daya panas itu. Perhitungan itu kemudian menyatakan bahwa 453/454 dari semuya energi, yaitu tolakan, yang aslinya terdapat di dalam sfera serba-gas telah diradiasikan/dipancarkan ke angkasa dalam bentuk panas, atau, agar lebih tepatnya, bahwa jumlah dari semua tarikan dalam sistem matahari sekarang dalam hubungannya dengan jumlah semua tolakan, masih terdapat di dalam yang sama, yaitu 454:1. Tetapi ia dengan demikian secara langsung mengingkari teks ceramah yang kepadanya hal itu ditambahkan sebagai bukti.

Maka, apabila pengertian daya, bahkan dalam kasus seorang ahli fisika seperti Helmholtz, menimbulkan kekacauan gagasan seperti itu, ini merupakan bukti paling kuat bahwa ia sama sekali tidak mempan bagi penggunaan ilmiah di semua cabang penelitian yang melampaui ilmu mekanika matematikal. Dalam ilmu mekanika sebab-sebab gerak dianggap tertentu dan asal-usulnya tidak dipandang, hanya efek-efeknya yang diperhitungkan. Maka, apabila suatu sebab dari gerak diistilahkan suatu daya, ini tidak mengganggu ilmu mekanika sendiri; tetapi telah menjadi kebiasaan untuk mengalihkan istilah ini juga pada ilmu fisika, kimia, dan biologi, dan kemudian kekacauan itu menjadi tidak terelakkan. Kita sudah melihat hal ini dan kelak akan acapkali menyaksikannya lagi.

Untuk konsep mengenai kerja, lihat bab berikutnya.

Catatan:

*) Pada bagian tepi manuskrip itu tertulis catatan berikut ini dengan pensil: “Kant (mengatakan), halaman 22, bahwa ketiga dimensi ruang itu bergantung pada kenyataan bahwa tarikan atau tolakan ini terjadi dalam proporsi terbalik dengan kwadrat (hasil perkalian) jarak itu.”47)

**) Helmholtz, dalam Pop. Vortr., 50)_II, hal. 113, agaknya telah menjulukkan sebagian tertentu dari bukti ilmiah-alam dari azas Descartes mengenai kekekalan (immutability) gerak secara kuantitatif pada dirinya sendiri maupun pada Mayer dan Colding. “Aku sendiri, tanpa mengetahui sedikitpun akan Mayer dan Colding, dan hanya berkenalan dengan eksperimen-eksperimen Joule pada akhir karyaku, telah menempuh jalan yang sama; aku menyibukkan diriku terutama dengan menyelidiki semua hubungan antara berbagai proses alam yang dapat dideduksi dari gaya pertimbangan tertentu, dan aku mengumumkan penelitian-penelitianku pada tahun 1847 dalam sebuah karya kecil yang berjudul Über die Erhaltung der Kraft.”—Tetapi, dalam karya itu tidak dijumpai yang baru bagi posisi itu pada tahun 1847 kecuali perkembangan tersebut di atas, yang secara matematikal sangat berharga, bahwa “konservasi daya” dan aksi sentral dari kekuatan-kekuatan yang aktif di antara berbagai benda sesuatu sistem hanyalah dua ungkapan yang berbeda dari hal yang sama, dan lebih jauh suatu perumusan yang lebih cermat mengenai hukum bahwa jumlah dari tenaga-tenaga yang hidup dan tensional dalam sesuatu sistem mekanikal tertentu adalah konstan. Dalam semua hal lainnya ia sudah didahului sejak makalah kedua Mayer di tahun 1845. Pada tahun 1842 Mayer sudah menyatakan mengenai “tidak-dapat-hancurnya kekuatan/daya,” dan dari pendirian barunya pada tahun 1845 ia sudah berbicara tentang hal-hal yang jauh lebih cemerlang mengenai “hubungan-hubungan antara berbagai proses alam” daripada yang diungkapkan Helmholtz pada tahun 1847.

Alih ba

UKURAN GERAK.—KERJA
oleh Friedrich Engels

“Di lain pihak, hingga kini aku selalu berpendapat, bahwa konsep-konsep dasar di bidang ini” (yaitu, “konsep-konsep fisikal yang mendasar mengenai kerja dan kemustahilan-perubahannya”) “tampak sangat sulit ditangkap bagi orang-orang yang tidak menempuh pendidikan dalam ilmu mekanika matematikal, walaupun adanya segala niat menyala-nyala, semua inteligensi, dan bahkan suatu tingkat pengetahuan ilmu-alam yang cukup tinggi. Lagi pula, tidak dapat disangkal bahwa semuanya itu adalah sejenis abstraksi-abstraksi yang ganjil. Tidaklah tanpa kesulitan, bahwa bahkan intelek dari seorang seperti I. Kant berhasil memahaminya, sebagaimana dibuktikan oleh polemiknya terhadap Leibniz mengenai masalah ini.”

Demikian kata Helmholtz. (Pop. wiss. Vortr., II, Kata Pendahuluan.)

Menurut ini, kita kini sedang memasuki suatu bidang yang sangat berbahaya, dan semakin bahaya karena kita tidak dapat dengan sekehendak hati memandu para pembaca “melalui pendidikan ilmu mekanika matematikal.” Namun, barangkali, akan ternyata—apabila masalahnya yalah masalah konsep-konsep—bahwa pemikiran dialektikal setidak-tidaknya akan membawa diri kita hingga sejauh perhitungan matematikal.

Galileo menemukan, di satu pihak, hukum mengenai kejatuhan, yang menyatakan bahwa jarak-jarak yang dilalui oleh benda-benda yang jatuh adalah proporsional dengan kuadrat-kuadrat waktu-waktu yang berlangsung dalam kejatuhan itu. Di lain pihak, seperti yang akan kita lihat, ia mengajukan proposisi yang tidak begitu cocok, bahwa kuantitas gerak sesuatu benda (impeto– atau momento-nya) ditentukan sedemikian rupa oleh massa dan kecepatan (velocity) hingga bagi massa konstan ia adalah proporsional dengan kecepatan itu. Descartes menggunakan proposisi terakhir ini dan secara umum sekali membuat produk dari massa dan kecepatan dari sebuah benda yang bergerak menjadi ukuran dari geraknya itu.

Huyghens sudah menemukan bahwa, pada impakt elastik, jumlah produk-produk massa-massa dan kuadrat-kuadrat kecepatan mereka tetap sama pada sebelum dan sesudah impakt, dan bahwa suatu hukum yang analog dengan itu berlaku pula dalam berbagai kasus gerak benda-benda lainnya yang disatukan ke dalam sebuah sistem.

Leibniz adalah orang pertama yang menyadari bahwa ukuran gerak Cartesian berkontradiksi dengan hukum kejatuhan. Di lain pihak, tidak dapat disangkal bahwa dalam banyak kasus, ukuran Cartesian itu benar adanya. Sesuai dengan itu, Leibniz membagi daya-daya gerak dalam daya-daya mati dan daya-daya hidup. Yang mati adalah “dorongan-dorongan” atau “tarikan-tarikan” benda-benda yang diam, dan ukuran mereka produk dari massa itu dan kecepatan yang dengannya benda itu akan bergerak jika ia beralih dari suatu keadaan diam pada suatu keadaan bergerak. Di lain pihak, ia mengemukakan sebagai ukuran vis viva, dari gerak real sesuatu benda, produk dari massa itu dan kuadrat kecepatan. Ukuran baru untuk gerak ini diambilnya langsung dari hukum kejatuhan.

“Daya yang sama diperlukan,” demikisan Leibniz menyimpulkan, “untuk mengangkat sebuah benda yang beratnya empat pon satu kaki, seperti mengangkat sebuah benda yang beratnya satu pon setinggi empat kaki; tetapi jarak-jarak itu proporsional dengan kuadrat kecepatan, karena apabila sebuah benda jatuh empat kaki, ia mencapai kecepatan yang dua-kali lipat kecepatan yang dicapai jika jatuhnya hanya satu kaki. Namun, benda-benda di waktu jatuh mencapat daya untuk naik ke ketinggian yang sama seperti ketinggian jatuhnya; maka itu daya-daya itu proporsional dengan kuadrat kecepatan itu.” (Suter, Geschichte der mathematischen Wissenschaften, II, hal. 367.)

Tetapi, seterusnya ia menunjukkan bahwa ukuran gerak mv adalah berkontradiksi dengan hukum Cartesian mengenai konstansi kuantitas gerak, karena jika ia benar-benar berlaku, maka daya (yaitu jumlah gerak) dalam alam akan senantiasa meningkat atau berkurrang. Ia bahkan menyarankan sebuah aparat (1690, Acta Eruditorum45)) yang, jika ukuran mv itu benar/tepat, mau-tidak mau mesti bertindak sebagai suatu perpetuum mobile dengan perolehan/penambahan daya secara terus-menerus, yang—namun—akan absurd adanya. Akhir-akhir ini, Helmholtz acapkali kembali menggunakan jenis argumen ini.

Para Cartesian dengan keras sekali memprotes dan berkembanglah suatu kontroversi terkenal yang berlangsung bertahun-tahun lamanya, yang di dalamnya Kant juga berpartisipasi dalam karyanya yang paling pertama (Gedanken von der wahren Schätzung der lebendigen Kräfte, 1746), namun tanpa memeriksa masalahnya secara mendalam. Para ahli matematika dewasa ini memicingkan mata dengan sikap-kecaman tertentu pada kontroversi “mandul” ini, yang

“berlarut-larut selama lebih dari empat-puluh tahun dan memecah para ahli matematika Eropa ke dalam dua kubu bermusuhan, hingga d’Alembert akhirnuya, dengan karyanya Traité de dynamique, (1743), seakan-akan lewat sebuah amanat raja, mengakhiri disput verbal yang sama sekali tidak berguna itu”. (Suter, loc.cit., hal. 366).

Namun, tidaklah mungkin sebuah kontroversi sepenuhnya berdasarkan suatu disput verbal yang tidak berguna, jika itu ditimbulkan oleh seorang Leibniz terhadap seorang Descartes, dan telah menyibukkan seseorang seperti Kant sedemikian rupa hingga ia mengabdikan pada soal itu, karyanya yang pertama, yaitu sejilid buku yang cukup besar.

Dan sebenarnya, bagaimanakah mesti diartikan bahwa gerak itu mempunyai dua ukuran yang saling berkontradiksi, yaitu, bahwa pada suatu kejadian ia proporsional dengan kecepatan, dan pada lain kejadian dengan kuadrat kecepatan itu?

Suter membuatnya sangat mudah bagi dirinya sendiri; ia menyatakan

kedua-dua pihak itu benar dan kedua-duanya salah: “bagaimanapun juga, ungkapan ‘vis viva’ telah bertahan hingga sekarang; hanya, ia tidak lagi berlaku sebagai ukuran daya, tetapi adalah sekedar sebuah istilah yang pernah dipakai bagi produk dari massa dan separoh kuadrat kecepatan, sebuah produk yang sedemikian penuh makna dalam ilmu-mekanika.” (hal.368)

Karena itu, mv telah merupakan ukuran gerak, dan vis viva hanyalah suatu ungkapan lain untuk mv²/2, dan mengenai perumusan itu kita memang telah diajarkan bahwa ia bermakna besar bagi ilmu mekanika, namun kini sama-sekali tidak mengetahui dengan jelas arti-penting apa yang dimilikinya itu.

Namun, marilah kita ambil Traité de dynamique (1743, yang juru-selamat itu dan lebih mencermati “amanat kerajaan” d’Alembert; ia dapat dijumpai dalam “Kata Pengantar”.

Dalam naskah itu, demikian dikatakan, seluruh persoalan tidaklah terjadi dikarenakan l’inutilité parfaite dont elle est pour la mécanique (Ia sama-sekali tak berguna bagi mekanika). [hal. XVII]

Ini sepenuhnya benar bagi mekanika yang semurninya matematikal, di mana, seperti dalam kasus Suter di atas, kata-kata yang dipakai sebagai petanda-petanda hanyalah merupakan ungkapan-ungkapan lain, atau nama-nama bagi formula aljabar, nama-nama yang sehubungan dengannya sebaiknya tak perlu dipikirkan sama sekali.

Namun begitu, karena orang-orang yang begitu penting telah mempersoalkan hal itu, ia berhasrat menelitinya secara singkat dalam Kata Pengantar itu. Kejernihan pikiran menuntut bahwa dengan daya benda-benda bergerak haruslah hanya difahami sifat mereka dalam mengatasi atau melawan rintangan-rintanan. Karenanya, daya semestinya tidak diukur dengan mv ataupun dengan mv², tetapi semata-mata dengan hambatan-hambatan dan perlawanan yang ditimbulkannya.

Nah, katanya, terdapat tiga jenis hambatan/rintangan: (1) hambatan-hambatan yang tidak dapat diatasi, yang sepenuhnya menghancurkan gerak itu, dan justru karena itu tidak dapat dimasukkan ke dalam perhitungan; (2) hambatan-hambatan yang perlawanannya cukup untuk menghentikan gerak itu dan melakukan itu secara seketika: yaitu kasus ekulibrium (keseimbangan); (3) hambatan-hambatan yang hanya secara berangsur-angsur menghentikan gerak itu: yaitu kasus gerak yang diperlambat. [hal. XVII-XVIII] “Semua orang akan sependapat bahwa dua benda berada dalam keseimbangan apabila produk-produk dari massa-massa dan kecepatan mereka yang sebetulnya, yaitu kecepatan-kecepatan yang dengannya mereka berkecenderungan untuk bergerak, adalah sama di sisi masing-masing. Karenanya, di dalam ekuilibrium (keseimbangan) maka produk dari massa dan kecepatan, atau, yang artinya sama, kuantitas gerak, dapat mewakili daya itu. Setiap orang juga akan sepakat, bahwa dalam gerak yang dilambatkan, jumlah hambatan-hambatan yang diatasi adalah sama dengan kuadrat kecepatan itu, sehingga, misalnya, sebuah benda yang mengempa (compress) sebuah per, dengan suatu kecepatan tertentu, dapat, dengan duakali lipat kecepatan, secara serempak mengempa atau secara berturut-turut bukan dua, melainkan empat buah per yang sama dengan yang pertama, atau sembilan buah dengan tiga-kali lipat kecepatan itu, dan begitu seterusnya. Dari situlah para partisan vis viva” (kaum Leibnizian) “menyimpulkan bahwa daya benda-benda yang nyata dalam gerak pada umumnya adalah proporsional dengan produk dari massa dan kuadrat kecepatan itu. Pada dasarnya, apakah kesulitannya dalam mengukur daya-daya yang berbeda dalam keseimbangan dan dalam gerak yang dilambatkan, karena, jika seseorang hanya bertujuan pandangan-pandangan yang jernih dalam penalaran, se-seorang mesti memahami dengan kata daya itu hanyalah efek yang dihasilkan dalam mengatasi atau melawan hambatan itu?” (Kata Pengantar, hal. XIX-XX, dari edisi aslinya.)

Namun, d’Alembert bukanlah sembarang filosof untuk tidak menyadari bahwa kontradiksi sebuah ukuran rangkap mengenai daya yang satu dan sama itu tidaklah mudah diatasi. Karenanya, setelah mengulangi yang pada dasarnya adalah hal yang sama sebagaimana sudah dikatakan oleh Leibniz—karena équilibre (keseimbangan)-nya adalah presis hal yang sama seperti “dorongan-dorongan mati” Leibniz—ia mendadak sontak beralih pada pihak kaum Cartesian dan mendapatkan jalan keluar berikut ini:

produk mv dari berguna sebagai sebuah ukuran daya, bahkan dalam kasus gerak yang diperlambat, “jika dalam hal terakhir ini, daya itu diukur, tidak dengan kebesaran (magnitude) mutlak dari hambatan-hambatan itu, tetapi dengan jumlah perlawanan-perlawanan dari hambatan-hambatan yang sama itu. Karena tidaklah dapat diragukan bahwa jumlah perlawanan ini akan proporsional dengan kuantitas gerak (mv), sebab, berdasarkan kesepakatan umum, kuantitas gerak yang terhilang oleh benda pada setiap saat adalah proporsional dengan produk dari perlawanan dan keberlangsungan saat (waktu) yang tak-terhingga kecilnya, dan jumlah produk-produk ini nyatanya merupakan jumlah perlawanan itu.” Gaya/cara kalkulasi terakhir ini tampaknya yang lebih wajar baginya, “sebab suatu hambatan hanyalah sejauh ia melakukan perlawanan, dan, sebenarnya, ia adalah jumlah dari perlawanan-perlawanan yang menjadikan hambatan- hambatan yang diatasi itu; lagi pula, dalam memperkirakan daya dengan cara ini orang mempunyai kelebihan karena adanya sebuah ukuran umum bagi ekuilibrium dan bagi gerak yang diperlambat itu._(hal.XX-XXI.)

Betapapun, orang dapat menilai/menggunakan ini menurut kesukaannya. Maka, yakin bahwa ia telah memecahkan per-soalan ini, dengan,–sebagaimana pengakuan Sutter sendiri,–suatu kesalahan (blunder) matematikal, disertai ungkapan-ungkapan miring mengenai kebingungan yang menguasai kalangan pendahulu-pendahulunya, ia menyimpulkan dan menegaskan bahwa sesudah pernyataan-pernyataan di atas itu, mungkin hanya terdapat suatu diskusi metafisikal yang sia-sia atau suatu disput yang semata- mata verbal dan lebih tak-berkualitas.

Saran D’Alembert untuk mencapai suatu perujukan mengandung perhitungan berikut ini:

Suatu massa 1, dengan kecepatan 1, mengempa (compress) 1 per (pegas) dalam unit waktu.

Suatu massa 1, dengan kecepatan 2, mengempa 4 per (pegas), tetapi memerlukan dua unit waktu; yaitu, hanya 2 per(pegas) per unit waktu.

Suatu massa 1, dengan kecepatan 3, mengempa 9 per (pegas) dalam tiga unit waktu, yaitu, hanya 3 per (pegas) per unit waktu.

Maka itu, bila kita membagi efek (hasil) dengan waktu yang diperlukan baginya, kita kembali sampai dari mv² pada mv.

Ini adalah argumen sama yang sudah digunakan oleh—khususnya—Catelan terhadap Leibniz; memang benar bahwa sebuah benda dengan kecepatan 2 naik terhadap gravitas 4 kali-lipat lebih tinggi daripada sebuah dengan kecepatan 1, tetapi ia memerlukan dua-kali lipat waktu untuk itu; konsekuenya, jumlah gerak (die Bewegungsmenge) mesti dibagi dengan waktu, dan =2, bukan 4. Ganjilnya, ini juga pendapat Suter, yang memang melucuti ungkapan “vis viva” dari segala makna logikal dan menjadikan sebuah makna matematikal saja. Tetapi hal ini wajar. Bagi Suter itu suatu masalah penyelamatan perumusan mv dalam maknanya sebagai satu-satunya ukuran jumlah gerak; karenanya secara logikal mv² dikorbankan untuk bangkit kembali ditransfigurasikan dalam sorganya ilmu matematika.

Namun, sejauh inilah ketepatannya: argumen Catelan memberikan salah-sebuah dari jembatan-jembatan yang menghubungkan mv dengan mv², dan dengan demikian memiliki arti-penting.

Para ahli mekanika sesudah d’Alembert sama sekali tidak menerima “amanat kerajaan”nya itu, karena ketentuan finalnya ini memang lebih memihak/memilih mv sebagai ukuran gerak. Mereka menganut ungkapannya mengenai perbedaan yang sudah dibuat Leibniz antara daya-daya mati dan daya-daya hidup: mv berlaku bagi ekuilibrium, yaitu bagi statika; mv² berlaku bagi gerak terhadap perlawanan, yaitu , bagi dinamika. Sekalipun, pada keseluruhannya tepat, namun, perbedaan dalam bentuk ini secara logikal tidak mempunyai leb ih banyak makna daripada keputusan terkenal dari N.C.O.: bertugas selalu “bagiku,” bebas-tugas selalu “aku.”56) Secara diam-diam ia diterima, ia sekedar ada saja. Kita tidak dapat mengubahnya, dan jika suatu kontradiksi bersembunyi dalam ukuran-rangkap ini, apa yang dapat kita perbuat terhadapnya?

Demikianlah, misalnya, Thomson dan Tait mengatakan (A Treatise on Natural Philosophy, Oxford, 1867, hal.162):

Kuantitas gerak, atau momentum, sebuah benda kaku yang bergerak tanpa rotasi adalah proporsional dengan massa dan kecepatannya secara bersama-sama. Demikianlah suatu massa rangkap, atau suatu kecepatan rangkap, akan bersesuaian dengan kuantitas gerak rangkap.”

Dan segera di bawahnya mereka mengatakan:

Vis viva atau energi kinetik sebuah benda yang bergerak adalah proporsional dengan massa dan kuadrat kecepatan secara bersama-sama.”

Kedua ukuran gerak yang bertentangan itu telah disejajarkan dalam bentuk yang sangat mencolok ini. Tidak dilakukan sedikitpun usaha untuk menjelaskan pertentangan (kontradiksi) itu, atau bahkan untuk menyamarkannya. Dalam buku kedua orang Skotlandia ini , berpikir dilarang, hanya perhitungan yang diizinkan. Tidak mengherankan bahwa sekurang-kurangnya seorang dari mereka, Tait, dianggap sebagai salah-seorang Kristiani yang paling saleh dari Skotlandia yang saleh.

Dalam Vorlesungen über mathematische Mechanik, Korchhoff, tidak terdapat formula mv dan mv² itu dalam bentuk ini. Berangkali Helmholtz akan membantu kita. Dalam karyanya, Erhaltung der Kraft57) ia menyarankan pengungkapan vis viva dengan

mv²

—- = a titik

2

Tentang ini kita kelak akan kembali. Kemudian di halaman 20 et.seq., ia dengan singkat menyebutkan kasus-kasus di mana sejauh ini azas mengenai konservasi vis viva (yaitu dari mv²/2) sudah digunakan dan diakui. Termasuk di situ di bawah No.2 adalah

“transferensi gerak-gerak oleh benda-benda beku dan cair yang tidak terkempa, sejauh tidak terjadi pergesekan (friksi) atau impakt materi-materi non-elastik. Untuk kasus-kasus ini azas umum kita lazimnya diungkapkan dalam ketentuan bahwa gerak yang disebarkan dan diubah oleh daya-daya mekanikal selalu berkurang dalam intensitas daya dalam proporsi sama dengan peningkatannya dalam kecepatan. Jika, karenanya, kita membayangkan sebuah bobot m diangkat dengan kecepatan c oleh sebuah mesin di mana suatu daya pelaksana kerja dihasilkan secara seragam oleh sesuatu proses, maka dengan suatu pengaturan mekanikal yang berbeda, bobot nm dapat diangkat, namun hanya dengan kecepatan c/n, sehingga dalam kedua kasus itu kuantitas daya tensil (renggang/rentang) yang dihasilkan oleh mesin dalam unit waktu diwakili oleh mgc, di mana g adalah intensitas dari daya gravitasional itu.” [hal. 21]58)

Demikianlah, juga di sini kita menjumpai kontradiksi bahwa suatu_ intensitas daya _yang berkurang dan bertambah dalam proporsi sederhana dengan kecepatan itu, mesti berlaku sebagai bukti bagi konservasi suatu intensitas daya yang berkurang dan bertambah dalam proporsi dengan kuadrat kecepatan itu.

Bagaimanapun, telah terbukti di sini, bahwa mv dan mv²/2 berlaku untuk menentukan dua proses yang sangat berbeda, tetapi kita jelas mengetahui bahwa lama berselang, bagi_ mv² tidak mungkin menyamai mv, kecuali jika v=1. Yang mesti dilakukan yalah membikin jelas mengapa gerak mesti mempunyai suatu ukuran rangkap, suatu hal yang jelas sama tidak-diperkenankan di dalam ilmu pengetahuan seperti dalam perdagangan. Maka, marilah kita mencobanya dengan cara lain.

Maka, dengan mv diukurlah “suatu gerak yang disebarkan dan diubah oleh daya-daya mekanikal”; karena itu ukuran ini berlaku bagi pengungkil dan semua bentuk derivatifnya, bagi roda-roda, sekrup, dsb., singkatnya, untuk semua perme-sinan bagi transferensi gerak. Tetapi, dari suatu pertimbangan sederhana namun sama sekali tidak baru, menjadilah jelas bahwa sejauh mv berlaku di sini, demikian pula keberlakuan mv². Mari kita ambil sesuatu penemuan mekanikal di mana jumlah-jumlah lengan-lengan pengungkil di kedua sisinya saling berhubungan pada 4:1, di mana, karenanya, suatu bobot dari 1 kg. menahan suatu bobot 4 kg. dalam keseimbangan. Maka, dengan suatu penambahan daya yang sangat tidak berarti pada satu lengan pengungkil itu, kita dapat mengangkat 1 kg. hingga 20 meter; daya tambahan yang sama itu, bila dikenakan pada lengan lainnya dari pengungkil itu, mengangkat 4 kg. sejarak 5 meter, dan bobot yang lebih memberati turun dalam waktu yang sama yang diperlukan bagi bobot yang lain untuk naik. Massa dan kecepatan secara terbalik proporsional satu sama lain; mv, 1 X 20 = m’v’, 4 X 5. Sebaliknya, jika kita biarkan masing-masing bobot itu, setelah terangkat, jatuh secara bebas pada jenjang aslinya, maka yang satu, 1 kg., setelah jatuh sejarak 20 meter (percepatan yang dikarenakan gravitas diberikan dalam angka-angka bulat = 10 meter gantinya 9,81 meter), mencapai suatu kecepatan 20 meter; yang satunya lagi, 4 kg., setelah jatuh sejarak 5 meter, mencapai suatu kecepatan 10 meter.59)

mv² = 1 X 20 X 20 = 400 = m’v’² = 4 X 10 X 10 = 400.

Di lain pihak waktu-waktu jatuh (turun) itu berbeda-beda: yang 4 kg. menempuh 5 meter mereka dalam 1 detik, yang 1 kg. menempuh 20 meternya dalam 2 detik. Gesekan dan perlawanan udara sudah tentu tidak/belum diperhitungkan di sini.

Tetapi, setelah kedua benda itu masing-masing jatuh dari ketinggiannya, geraknya berhenti. Maka itu, mv tampak di sini sebagai ukuran gerak mekanikal yang dialihkan secara sederhana, yaitu yang berarti kekal, dan mv² sebagai ukuran dari gerak mekanikal yang menghilang.

Selanjutnya, hal serupa berlaku bagi impakt benda-benda yang secara sempurna bersifat elastik: jumlah kedua-duanya, yaitu dari mv dan dari mv² tidak berubah sebelum dan sesudah impak. Kedua-dua ukuran memiliki kesahihan sama.

Tidak demikian halnya pada impakt benda-benda non-elastik. Juga di sini, buku-buku pelajaran elementer yang dipakai (ilmu mekanika lebih tinggi nyaris tidak berurusan/menghiraukan lagi hal-hal yang remeh seperti itu) mengajarkan bahwa pada sebelum dan sesudah impakt, jumlah mv itu tetap sama. Di lain pihak terjadilah kehilangan vis viva, karena jika jumlah mv² pada sesudah impakt dikurangkan dari jumlah mv² pada sebelum impak, maka dalam segala keadaan terdapatlah sisa/tinggalan positif. Dengan jumlah ini (atau separohnya,menurut sudut pandangan) vis viva itu berkurang disebabkan oleh saling-penyusupan maupun oleh perubahan bentuk benda-benda yang bertubrukan itu.—Yang tersebut belakangan itu kini jelas dan gamblang, namun tidak demikianlah anggapan/pernyataan bahwa jumlah mv tetap sama pada sebelum dan sesudah impak. Apapun yang dikatakan Suter, vis viva adalah gerak, dan apabila sebagian darinya hilang, gerak hilang pula. Sebagai konsekuensinya, mv itu di sini atau secara tidak tepat mengungkapkan/menyatakan/mengekspresikan jumlah gerak (die Bewegungsmenge), atau pernyataan di atas itu tidaklah benar adanya. Pada umumnya, seluruh teorem itu telah diwariskan dari suatu periode ketika masih belum ada persangkaan mengenai transformasi gerak; ketika, karenanya, menghilangnya gerak mekanikal hanya diakui jika tidak ada jalan keluar (jawaban/keterangan) lain. Demikianlah, di sini kesamaan jumlah mv pada sebelum dan sesudah impakt dianggap terbukti oleh kenyataan bahwa tidak terjadinya kehilangan atau perolehan pada jumlah ini, belum diintroduksikan. Namun, apabila benda-benda itu kehilangan vis viva dalam friksi (gesekan) internal sesuai ketidak-elastikan mereka, mereka juga kehilangan kecepatan, dan jumlah mv sesudah impak mesti lebih kecil daripada sebelumnya. Karena tidaklah mungkin mengabaikan pergesekan internal dalam memperhitungkan mv, apabila pergesekan itu menyatakan dirinya secara begitu jelas dalam memperhitungkan mv².

Tetapi ini tidaklah menjadi soal. Bahkan jika kita mengakui teorem itu, dan memperhitungkan kecepatan sesudah impak, berdasarkan anggapan bahwa jumlah mv masih tetap sama, pengurangan jumlah mv² itu tetap diketemukan. Karenanya, di sini, mv dan mv² berkonflik, dan itu disebabkan oleh perbedaan gerak mekanikal yang telah benar-benar (aktual) menghilang. Lagi pula, kalkulasi itu sendiri menunjukkan bahwa jumlah mv² menyatakan jumlah gerak itu secara tepat, sedangkan jumlah mv menyatakannya secara tidak tepat.

Demikian itulah nyaris semua kasus di mana mv dipergunakan dalam ilmu mekanika. Mari kita sekarang melihat beberapa kasus di mana mv² dipergunakan.

Apabila sebuah peluru meriam ditembakkan, lintasannya menghabiskan sejumlah gerak yang proporsional dengan mv², tak-peduli apakah ia menghadapi sebuah sasaran beku atau terhenti dikarenakan perlawanan udara dan gravitasi. Jika sebuah (serangkaian) kereta api menghantam serangkaian kereta api lain yang sedang berhenti (stasioner), maka kerasnya benturan itu dan kerusakan yang ditimbulkannya adalah proporsional dengan mv²nya. Demikian pula, mv² berguna setiap kali diperlukan untuk memperhitungkan daya mekanikal yang diperlukan untuk menanggulangi suatu perlawanan.

Tetapi, apakah maknanya kalimat yang memudahkan ini, yang begitu berlaku di dalam ilmu mekanika: menanggulangi perlawanan?

Apabila kita mengatasi perlawanan gravitasi dengan mengangkat sesuatu bobot, menghilanglah sejumlah gerak, sejumlah daya mekanikal, yang setara dengan yang dapat diproduksi kembali oleh jatuhnya secara langsung atau tidak langsung nbobot yang diangkat itu dari ketinggian yang dicapai kepada jenjang (tingkat) aslinya. Jumlah itu diukur dengan setengah produk massa dan kuadrat kecepatan final setelah jatuhnya itu,

mv²

2

Lalu apakah yang terjadi dengan diangkatnya bobot itu? Gerak mekanikal, atau daya, telah menghilang. Tetapi ia tidaklah dihapuskan/dilenyapkan; ia telah diubah menjadi daya tegangan mekanikal, dengan menggunakan ungkapan Helmholtz; menjadi energi potensial, sebagaimana dikatakan oleh golongan modern; menjadi ergal sebagaimana Clausius menamakannya; dan ini, setiap saat, dengan cara mekanikal apa saja yang sepadan, dapat diubah kembali menjadi jumlah gerak mekanikal yang sama sesuai yang diperlukan untuk memproduksinya. Energi potensial hanyalah ungkapan negatif dari vis viva, dan vice versa.

Sebuah peluru meriam seberat 24 lb. yang bergerak (meluncur/melesat) dengan suatu kecepatan 400 meter per detik, menghantam badan-berlapis-baja yang satu meter tebalnya dari sebuah kapal-perang dan dalam kondisi-kondisi ini tampaknya tidak mempunyai akibat pada lapisan-baja itu. Sebagai konsekuensinya, sejumlah gerak mekanikal telah menghilang yang sama dengan:

mv²

—-, yaitu (karena 24 lbs.=12 Kg.)_60)_ = 12X400X400X0,5 = 960.000 kg-m

2

Apakah yang terjadi dengannya? Setakaran kecil telah dihabiskan dalam benturan dan perubahan molekular lapisan-baja itu. Setakaran kedua hilang pula dalam hantaman-menghancurkan peluru meriam itu menjadi pecahan-pecahan yang tiada terhitung banyaknya. Tetapi bagian terbesar telah diubah menjadi panas dan menaikkan suhu peluru meriam itu menjadi panas yang menganga-merah. Pada waktu orang-orang Prussia, dalam melakukan penyeberangan ke Alsen pada tahun 1864, mengerahkan/menggunakan meriam-meriam berat mereka terhadap pertahanan berlapis-baja Rolf Krake,61) sesudah setiap tembakan yang mengena, dalam kegelapan malam itu mereka melihat nyala yang dihasilkan dadakan-pijar tembakan. Bahkan sebelumnya, Whitworth telah membuktikan berdasarkan eksperimen, bahwa peluru-peluru ledak tidak memerlukan detonator jika dipakai terhadap kapal-kapal perang berlapis baja; baja yang memijar itu sendiri yang menyalakan muatan itu. Dengan menetapkan ekuivalen (kesetaraan) mekanikal dari satuan panas itu 424 kg.- meter, maka jumlah panas sesuai jumlah gerak mekanikal tersebut di atas adalah 2,264 satuan (unit). Panas spesifik dari besi = 1/0.1140; artinya, jumlah panas yang menaikkan suhu 1 kg. air dengan 1°C.(yang berlaku sebagai satuan panas) cukup untuk mengangkat suhu dari 1/0.1140 = 8.772 kg. besi dengan 1°C. Karenanya, 2.264 satuan panas tersebut di atas mengangkat suhu 1 kg. besi dengan 8.772 X 2,264 = 19.860° atau 19.860 kg. besi dengan 1°C. Karena jumlah panas ini terbagi secara seragam di dalam lapisan-baja kdan tembakan itu, maka suhu yang tersebut belakangan telah dinaikkan suhunya dengan

19.860°

———————- = 828°

2 X 12

berarti mencapai suatu tinggi/derajat panas yang menganga. Tetapi, karena ujung penghantam yang paling depan dari tembakan itu bagaimanapun menerima bagian yang jauh lebih besar dari panas itu, pasti dua-kali lipat daripada dari separoh bagian belakangnya, maka yang tersebut terdahulu akan dinaikkan hingga suatu suhu 1.104°C. dan yang tersebut belakangan hingga 552°C., yang akan cukup sekali untuk menjelaskan efek pijaran-menganga itu, kalaupun kita membuat suatu deduksi besar bagi kerja mekanikal sebenarnya yang dihasilkan/diperagakan pada impak.

Gerak mekanikal juga menghilang dalam pergesekan (friksi), untuk muncul kembali sebagai panas; sudah sangat diketahui, dengan kemungkinan pengukuran yang paling cermat dari kedua proses yang saling bersesuaian, Joule di Manchester dan Colding di Kopenhagen adalah yang pertama membuat pengukuran yang kurang-lebih eksperimental atas kesetaraan panas mekanikal.

Hal yang sama berlaku dalam produksi suatu arus listrik dalam sebuah mesin magneto-elektrikal dengan jalan daya mekanikal, yaitu, dari sebuah mesin uap. Jumlah dari yang disebut daya elektro-motif yang diproduksi dalam suatu jangka waktu tertentu adalah proporsional dengan jumlah gerak mekanikal yang dihabiskan dalam periode yang sama, menjadi setara dengannya jika dinyatakan dalam satuan-satuan (units) yang sama. Kita dapat membayangkan gerak mekanikal ini diprodiuksi, bukan dengan sebuah mesin-uap, tetapi dengan suatu bobot yang tenggelam (jatuh/turun) di bawah tekanan gravitas. Daya mekanikal yang dapat disuplainya diukur dengan vis viva yang akan diperolehnya dengan jatuhnya secara bebas melalui jarak yang sama, atau dengan daya yang diperlukan untuk mengangkatnya kembali pada ketinggian aslinya; dalam kedua-dua kasus

mv²

2

Maka kita dapatkan bahwa gerak mekanikal memang benar mempunyai suatu ukuran rangkap, tetapi juga bahwa masing-masing dari ukuran-ukuran itu berlaku pula bagi serangkaian gejala yang didemarkasi secara sangat tertentu. Apabila gerak mekanikal yang sudah ada ditransfer sedemikian rupa sehingga ia tetap sebagai gerak mekanikal, maka transferensi itu terjadi secara proporsional dengan produk massa dan kecepatan (velocity). Namun, apabila ia ditransfer sedemikian rupa sehingga ia menghilang sebagai gerak mekanikal agar muncul kembali dalam bentuk energi potensial, panas, listrik, dsb., singkatnya, apabila ia diubah menjadi suatu bentuk gerak yang lain, maka jumlah dari gerak bentuk baru ini adalah proporsional dengan produk dari massa yang aslinya bergerak dan kuadrat dari kecepatan. Singkatnya, mv adalah gerak mekanikal yang diukur dengan gerak mekanikal;

mv²

2

adalah gerak mekanikal yang diukur dengan kapasitasnya untuksuatu jumlah tertentu dari bentuk gerak lain. Dan, sebagaimana telah kita lihat, kedua ukuran ini, karena berbeda, tidak berkontradiksi satu sama lain.

Dari sini menjadilah jelas, bahwa pertengkaran Leibniz dengan kaum Cartesian sama sekali bukanlah sekedar disput verbal, dan bahwa, sesungguhnya, “amanat kerajaan” d’Alembert sama sekali tidak menyelesaikan apapun. D’Alembert semestinya dapat membebaskan dirinya dari semburan kata-kata marah mengenai ketidak-jelasan pendahulu-pendahulunya, karena dirinya sendiri sama tidak- jelasnya seperti mereka itu. Sebenarnya, selama tidak diketahui apa yang terjadi dengan gerak mekanikal yang tampaknya dilenyapkan itu, ketiadaan kejelasan tidak dapat dihindarikan. Dan selama para ahli mekanik matematikal seperti Suter terus terkurung oleh ke empat dinding ilmu-pengetahuan istimewa mereka, tidak bisa tidak mereka mesti tetap tidak-jelas seperti d’Alembert dan untuk menyesatkan kita dengan kalimat-kalimat kosong dan kontradiktorik.

Tetapi, bagaimanakah ilmu mekanika modern mengungkapkan perubahan gerak mekanikal ini menjadi suatu bentuk gerak lain, yang proporsional dalam kuantitas dengan yang tersebut terlebih dulu?–Ia telah melaksanakan kerja, dan memang sejumlah kerja tertentu.

Tetapi ini tidak menguras habis konsep tentang kerja dalam makna fisikal kata itu. Jika, seperti dalam sebuah mesin-uap atau mesin panas, panas diubah menjadi gerak mekanikal, yaitu, gerak molekular diubah menjadi gerak massa, jika panas membongkar suatu majemuk kimiawi, jika ia berubah menjadi listrik dalam sebuah termopil (thermopile), jika suatu arus listrik membebaskan unsur-unsur air dari asam-sulfurik yang dicairkan/ditipiskan, atau, secara terbalik, jika gerak (alias energi) yang dibebaskan dalam proses kimiawi dari sebuah sel pembangkit (generating) mengambil bentuk listrik dan ini dalam sirkuit tertutup diubah kembali menjadi panas—dalam semua proses ini, bentuk gerak yang memulai proses itu, dan yang diubah olehnya menjadi suatu bentuk lain, pelaksanakan kerja, dan memang suatu jumlah kerja yang bersesuaian dengan kata-katanya sendiri.

Karenanya, kerja adalah perubahan bentuk gerak yang dipandang dalam aspek kuantitatifnya.

Tetapi bagaimana presisnya? Jika sebuahb bobot yang terangkat tetap terkatung dan diam, adakah energi potensialnya selama periode diam juga suatu bentuk dari gerak? Jelas. Bahkan Tait telah sampai pada keyakinan bahwa energi potensial selanjutnya dipecahkan menjadi suatu bentuk gerak-aktual (Nature)63). Dan, kecuali itu, Kirchhoff menyatakan lebih jauh lagi dengan mengatakan (Math. Mech. hal.32)63):

“Diam (rest) adalah suatu kasus khusus mengenai gerak,”

dan dengan demikian membuktikan bahwa ia tidak hanya bisa memperhitungan (calculate) melainkan juga dapat berpikir secara dialektikal.

Maka itu, dengan suatu pembahasan mengenai kedua ukuran gerak mekanikal, secara kebetulan, mudah, dan nyaris dengan sendirinya, kita telah sampai pada konsep mengenai kerja, yang digambarkan pada kita sebagai sesuatu yang begitu sulit untuk difahami tanpa mekanika matematikal. Betapapun, kita kini mengetahui lebih banyak mengenainya daripada dari ceramah Helmholtz Über die Erhaltung der Kraft (1862), yang justru dimaksudkan

“membuat sejelas mungkin konsep-konsep fisikal mendasar mengenai kerja dan kekekalannya.”

Segala yang kita ketahui di situ mengenai kerja yalah bahwa ia adalah sesuatu yang diungkapkan dalam pon-kaki (foot-pounds) atau dalam satuan-satuan panas, dan bahwa jumlah pon-kaki atau satuan panas itu tidak bervariasi untuk suatu kuantitas kerja tertentu; dan, selanjutnya, bahwa di samping daya-daya mekanikal dan panas, daya-daya kimiawi dan elektrik dapat melaksanakan kerja, tetapi bahwa semua daya ini menghabiskan kapasitas mereka untuk kerja hingga sejauh mereka benar-benar menghasilkan kerja. Kita juga mengetahui dari sini, bahwa jumlah semua kuantitas kerja yang efektif di dalam alam sebagai suatu keseluruhan tetap kekal dan tetap sama selama seluruh perubahan yang terjadi dalam alam. Konsep mengenai kerja itu tidak dikembangkan, ataupun bahkan ditentukan.*) Dan adalah justru ketetapan (invariability) kuantitatif kebesaran kerja yang menghalanginya untuk menyadari bahwa perubahan kualitatif, perubahan bentuk, adalah syarat dasar bagi semua kerja fisikal. Dengan begitu Helmholtz sampai sejauh menyatakan bahwa

“gesekan (friksi) dan impak tidak elastik adalah proses- proses di mana kerja mekanikal dihancurkan, dan panaslah yang diproduksi sebagai gantinya.” (Pop.Vortr., II, hal. 166)

Justru sebaliknya. Di sini kerja mekanikal tidak dihancurkan, di sini kerja mekanikal dilaksanakan. Adalah gerak mekanikal yang kelihatannya di hancurkan. Tetapi, gerak mekanikal tidak pernah dapat melaksanakan bahkan se-per-juta bagian dari se-kilogram-meter kerja, tanpa kelihatannya dihancurkan, tanpa berubah menjadi suatu bentuk gerak lain.

Tetapi, seperti telah kita ketahui, kapasitas untuk kerja yang dikandung dalam suatu jumlah gerak mekanikal tertentu adalah yang diketahui sebagai vis viva-nya, dan hingga tidak lama berselang diukur dengan mv². Namun, di sini timbul suatu kontradiksi baru. Mari kita mendengarkan Helmholtz. (Erhaltung der Kraft, hal.9) Di situ kita membaca bahwa kebesaran (magnitude) kerja dapat dinyatakan dengan suatu bobot m yang diangkat hingga suatu ketinggian h, ketika, apabila daya gravitas ditentukan sebagai g, maka kebesaran kerja =mgh. Bagi benda m untuk naik secara bebas pada ketinggian vertikal h, diperlukan suatu kecepatan v = Å 2gh, dan ia mencapai kecepatan yang sama pada waktu jatuh.

Konsekuensinya, mgh =

mv²

2

dan Helmholtz menyarankan

untukmenjadikan magnitude mv²/2 sebagai kuantitas vis viva, dan dengan begitu ia menjadi identikal dengan ukuran kebesaran kerja. Dari sudut pandang mengenai bagaimana konsep vis viva telah diterapkan hingga sekarang… perubahan ini tidak penting, tetapi ia akan menawarkan keuntungan-keuntungan (kemudahan-kemudahan) mendasar di masa mendatang.”

Sungguh sulit untuk dipercaya. Pada tahun 1847, Helmholtz begitu kabur mengenai saling hubungan vis viva dan kerja, sehingga ia bahkan gagal memperhatikan bagaimana ia mentransformasi ukuran vis viva yang sebelumnya proporsional menjadi ukuran mutlaknya, dan tetap tidak menyadari penemuan penting yang dilakukannya dengan pendekatannya yang berani, merekomendasikan mv²/2-nya hanya dikarenakan kemudahannya jika dibandingkan dengan mv²! Dan adalah karena masalah kemudahan itu para ahli mekanika secara umum memberlakukan mv²/2. Hanya secara berangsur-angsur mv²/2 juga dibuktikan secara matematikal Naumann (Allg. Chemie, hal.7) memberikan sebuah bukti aljabraik, Clausius (Mech. Wämetheorie, 2.Aufl., I, hal.18), sebuah bukti analitik, yang kemudian mesti dijumpai dengan suatu bentuk lain dan dengan suatu metode deduksi yang berbeda di dalam Kirchhoff (loc.cit., hal. 27). Clerk Maxwell (loc.cit.,hal.88) memberikan sebuah deduksi aljabraik yang canggih pada mv² dari mv. Ini tidak menghalangi kedua orang Skitlandia kita, Thomson dan Tait, untuk menyatakan (loc.cit., hal. 163):

Vis Viva itu, atau energi kinetik, dari sebuah benda yang bergerak adalah proporsional dengan massa dan kuadrat kecepatan secara bersama-sama. Apabila kita ambil satuan-satuan massa dan kecepatan yang sama seperti sebelumnya (yaitu, satuan massa yang bergerak dengan satuan kecepatan), terdapatlah keuntungan khusus dalam menentukan energi kinetik sebagai separuh produk massa dan kuadrat kecepatannya.”

Karenanya, di sini kita mendapati bahwa tidak hanya kemampuan untuk berpikir, melainkan juga untuk memperhitungkan, telah sampai pada suatu kemandegan bagi dua ahli mekanika yang paling terkemuka dari Skotlandia. Keuntungan khusus itu, kemudahan formula itu, telah menuntaskan segala sesuatu dengan cara yang paling indah.

Bagi kita, yang telah mengetahui bahwa vis viva tidak lain cuma kapasitas sejumlah gerak mekanikal tertentu—dalam istilah-istilah mekanikal—untuk melaksanakan kerja, jelaslah darinya, bahwa ungkapan mengenai kapasitas untuk kerja dan kerja yang benar-benar dilaksanakannya oleh yang tersebut belakangan mesti sama satu sama lainnya; dan bahwa, sebagai konsekuensinya, apabila mv²/2 mengukur kerja itu, maka vis viva mesti juga diukur dengan mv²/2. Tetapi, itulah yang terjadi dalam ilmu pengetahuan.

Ilmu mekanika teoretikal sampai pada konsep vis viva, mekanika praktikal para insinyur sampai pada konsep mengenai kerja dan memaksakan itu pada para ahli teori. Dan, tenggelam dalam perhitungan-perhitungan mereka, para ahli teori telah menjadi sedemikian terbiasa dalam berpikir bahwa selama bertahun-tahun mereka telah gagal mengenali hubungan antara kedua konsep itu, mengukur yang satu dengan mv², dan yang lainnya dengan mv²/2, dan akhirnya menerima mv²/2 untuk kedua-duanya, tidak karena pemahaman, melainkan demi kesederhanaan kalkulasi!**)

Catatan:

*) Kita tidak mencapai apapun dengan berkonsultasi pada Clerk Maxwell. Ia mengatakan (Theory of Heat, Edisi ke IV, London, 1875, hal.87): “kerja dilaksanakan ketika perlawanan ditanggulangi,” dan pada hal. 87, “Energi sebuah benda adalah kapasitasnya untuk melakukan kerja.” Itulah semuanya yang kita ketahui tentangnya.

**) Kata “work” dan ide yang sesuai dengannya diderivasi dari para insinyur Inggris. Tetapi dalam bahasa Inggris, kerja praktikal disebut “work,” sedangkan kerja dalam arti ekonomi disebut “labour.” Karena itu, kerja fisikal juga diistilahkan “work,” dan dengan begitu memustahilkan segala kekacauan dengan kerja dalam arti ekonomi. Tidak demikian halnya di Jerman; maka itu telah dimungkinkan dalam literatur semu-ilmiah membuat berbagai aplikasi kerja dalam arti fisikal pada kondisi-kondisi ekonomikal mengenai labour dan vica versa. Tetapi ada juga kata Werk yang, seperti kata Inggris work, secara bagus sekali diadaptasi untuk menandakan kerja fisikal. Ekonomi, namun, karena menjadi bidang yang terlampau jauh dari para ilmuwan alam kita, sehingga mereka nyaris tidak akan memperkenalkan itu untuk menggantikan kata Arbeit, yang sudah memperoleh keberlakuan umum—kecuali, barangkali, jika hal itu sudah terlambat sekali. Hanya Clausius yang telah mencoba mempertahankan ungkapan “Werk”, sekurang-kurangnya disamping ungkapan “Arbeit.”

BENTUK-BENTUK DASAR DARI GERAK
oleh Friedrich Engels

Gerak dalam arti yang paling umum, difahami sebagai gaya keberadaan, atribut yang inheren, dari materi, mencakup/meliputi semua perubahan dan proses yang berlangsung dalam jagat raya, dari sekedar perubahan/pergantian tempat hingga sampai pada pikiran. Penyelidikan mengenai sifat gerak sudah dengan sendirinya mesti dimulai dari bentuk-bentuk gerak ini yang paling sederhana, paling rendah dan belajar menangkap semua itu sebelum ia dapat mencapai sesuatu sebagai penjelasan mengenai bentuk-bentuk yang lebih tinggi dan lebih rumit. Karenanya, dalam evolusi historikal ilmu-ilmu pengetahuan alam kita melihat bagaimana yang paling pertama-tama sekali dikembangkan adalah teori mengenai perubahan tempat yang paling sederhana, mekanika dari benda-benda langit dan massa-massa bumi; ia kemudian disusul oleh teori mengenai gerak molekular, fisika, dan segera kemudian, nyaris bersama-sama dan di beberapa tempat mendahuluinya, ilmu pengertahuan mengenai gerak atom-atom, kimia. Hanya setelah berbagai cabang pengetahuan mengenai bentuk-bentuk gerak yang menguasai alam tidak-hidup itu telah mencapai suatu derajat perkembangan yang tinggi, baru dapatlah penjelasan mengenai proses-proses gerak yang mewakili proses kehidupan itu ditangani dengan berhasil. Ini maju secara proporsional dengan kemajuan mengenai mekanika, fisika dan kimia. Akibatnya, sementara mekanika telah cukup lama secara sepadan mampu merujukkan efek-efek penungkil-penungkil tulang yang digerakkan oleh kontraksi otot dalam tubuh hewan pada hukum-hukum yang berlaku juga dalam alam tidak-hidup, substansiasi fisiko-kimiawi gejala-gejala lain dari kehidupan masih sangat berada pada awal perkembangannya. Karenanya di sini, dalam penyelidikan sifat gerak, kita terpaksa memasukkan bentuk-bentuk organik dari gerak itu,. Kita terpaksa membatasi diri kita–sesuai dengan keadaan ilmu-pengetahuan–pada bentuk-bentuk gerak dari alam tidak-hidup.

Semua gerak bertautan dengan sesuatu perubahan/pergantian/perpindahan tempat, apakah itu perubahan tempat benda-benda angkasa, massa-massa bumi, molekul-molekul, atom-atom, atau partikel-partikel ether. Semakin tinggi bentuk gerak itu, semakin kecil perubahan tempat itu. Ia sama sekali tdiak menguras habis sifat dari gerak bersangkutan, melainkan adalah tidak terpisahkan dari gerak itu. Ia, karenanya, mesti diselidiki sebelum kita menyelidiki apapun lainnya.

Keseluruhan alam yang terbuka bagi kita merupakan sebuah sistem, suatu totalitas yang saling-berkait dari benda-benda, dan dengan bgenda-benda kita mengartikan di sini semua keberadaan (eksistensi) material yang terentang dari bintang-bintang hingga atom-atom, bahkan sampai pada partikel-partikel ether, sejauh diakui keberadaan yang tersebut terakhir itu. Dalam kenyataan bahwa benda-benda ini saling-berkaitan sudah tercakup (pengertian) bahwa mereka bereaksi satu pada yang lainnya, dan justru reaksi timbal balik (satu sama lain) inilah yang menjadikan gerak. Sudah terbukti di sini bahwa materi itu tidak terbayangkan tanpa gerak. Dan apabila, sebagai tambahan, materi dihadapkan pada kita sebagai sesuatu yang tertentu, sama-sama tidak-dapat-diciptakan dan tidak-dapat-dihancurkan, maka berarti bahwa gerak juga tidak-dapat-diciptakan dan tidak-dapat-dihancurkan. Telah menjadi tidak mungkin untuk menolak kesimpulan ini segera setelah diakui bahwa jagat raya merupakan sebuah sistem, suatu antar-keterkaitan benda-benda. Dan sejak pengakuan ini dicapai oleh filsafat, lama sebelum ia diberlakukan secara efektif dalam ilmu-pengetahuan alam, dapatlah dimengerti mengapa filsafat, selama duaratus tahun sebelum ilmu-pengetahuan alam, menarik kesimpulan mengenai tidak-dapat-diciptakan dan tidak- dapat-dihancurkannya gerak. Bahkan bentuk yang dipakainya untuk melakukan ini masih lebih unggul daripada perumusan masa-kini dari ilmu-pengetahuan alam. Azas Descartes, bahwa jumlah (die Menge) gerak yang terdapat di dalam alam jagat selalu sama, hanya mengandung kelemahan-formal karena telah memakai suatu ungkapan terbatas bagi suatu kebesaran tak-terhingga. Sebaliknya, dua buah ungkapan mengenai hukum yang sama yang sekarang berlaku dalam ilmu-pengetahuan alam: hukum Helmholtz mengenai konservasi daya/tenaga, dan hukum yang lebih baru, yang lebih tepat, yaitu mengenai konservasi energi. Dari kedua-duanya ini, yang pertama, seperti akan kita lihat, mengatakan justru kebalikan dari yang lainnya, dan lebih dari itu, masing-masingnya hanya mengungkapkan satu sisi dari hubungan itu.

Manakala dua benda saling beraksi satu-sama-lain sehingga mengakibatkan suatu permindahan tempat dari yang satu atau pada kedua-duanya, maka perpindahan tempat ini hanya dapat berupa suatu pendekatan atau suatu pemisahan. Mereka saling tarik satu-sama-lain atau mereka saling menolak satu-sama-lain. Atau, sebagaimana mekanika menyatakannya, kekuatan-kekuatan yang beroperasi di antara mereka bersifat sentral, beraksi sepanjang garis yang menyatukan pusat-pusat mereka. Bahwa ini yang terjadi, bahwa demikian kenyataannya tanpa kecuali di seluruh alam jagat, betapapun rumitnya banyak gerakan mungkin tampaknya, dewasa ini diterima sebagai sesuatu yang dengan sendirinya begitu. Akan tampak tidak-masuk-akal untuk berasumsi, manakala dua benda beraksi satu pada yang lainnya dan saling interaksi itu tidak dilawan oleh hambatan apapun atau pengaruh suatu benda ketiga, maka aksi ini mesti dipengaruhi secara lain daripada sepanjang jalan yang terpendek dan paling langsung, yaitu, sepanjang garis lurus yang menyatukan/menghubungkan pusat-pusat mereka.*) Lagi pula, sudah sangat diketahui, bahwa Helmholtz (Erhaltung der Kraft, Berlin 1847, Seksi I dan II) telah memberikan bukti matematikal bahwa aksi sentral dan tidak-dapat-diubahnya jumlah gerak (Bewegungsmenge)48) dikondisikan secara timbal-balik dan bahwa anggapan mengenai aksi-aksi lain kecuali yang sentral itu membawa pada hasil-hasil di mana gerak dapat atau diciptakan atau dihancurkan. Karena itulah bentuk dasar dari semua gerak adalah pendekatan dan pemisahan, kontraksi dan pemuaian–singkatnya, pertentangan-pertentangan polar(kutub) lama dari tarikan dan tolakan.

Yang secara istimewa mesti diperhatikan ialah, bahwa di sini, tarikan dan tolakan tidak dipandang sebagai “kekuatan-kekuatan” tetapi sebagai bentuk-bentuk sederhana dari gerak, tepat sebagaimana Kant sudah memahami materi sebagai kesatuan tarikan dan tolakan. Yang mesti difahami dengan “kekuatan-kekuatan” akan ditunjukkan kelak pada waktunya.

Semua gerak terdiri atas saling-pengaruh tarikan dan tolakan. Namun, gerak hanya mungkin pabila setiap tarikan individual dikompensasi oleh tolakan yang bersesuaian di sesuatu tempat lainnya. Jika tidak begitu maka pada waktunya satu sisi akan menjadi lebih kuasa atas yang lainnya dan gerak itu akhirnya akan berhenti. Karenanya, semua tarikan dan semua tolakan dalam jagat raya mesti saling mengimbangi satu sama lain. Demikianlah hukum tidak-dapat-dihancurkan dan tidak-dapat-diciptakannya gerak terungkap dalam bentuk bahwa setiap gerak tarikan dalam jagat raya mesti mempunyai sebagai komplemennya suatu gerak tolakan ekuivalen (kesetaraan) dan vice versa; atau, sebagaimana filsafat kuno–lama sebelum perumusan ilmiah-alam mengenai hukum konservasi tenaga atau energi–menyatakannya: jumlah dari semua tarikan dalam alam jagat raya adalah sama dengan jumlah semua tolakan.

Namun, di sini tampaknya masih terdapat dua kemungkinan bagi semua gerak untuk berhenti pada sesuatu waktu, baik itu dikarenakan oleh tolakan dan tarikan yang akhirnya saling membatalkan satu sama lain dalam kenyataan aktual, ataupun dengan total tolakan yang akhirnya menguasai suatu bagian materi dan total tarikan menguasai bagian lainnya. Bagi konsepsi dialektikal, kemungkinan-kemungkinan ini sejak awal dimustahilkan. Sejauh ini, dialektika telah membuktikan dari hasil-hasil pengalaman kita tentang alam, bahwa semua oposisi kutub pada umumnya ditentukan oleh aksi timbal-balik kedua kutub yang berlawanan, bahwa pemisahan dan pertentangan dari kutub-kutub ini hanya ada di dalam saling keterkaitan dan persatuan mereka, dan, sebaliknya, bahwa kesatuan mereka hanya ada di dalam pemisahan mereka dan saling-keterkaitan mereka hanya dalam pertentangan mereka. Setelah ini ditandaskan, tidak ada masalah suatu pembatalan final dari tolakan dan tarikan, atau mengenai suatu pembagian final di antara satu bentuk gerak dalam separoh materi dan bentuk gerak lainnya dalam separoh materi lainnya, karenanya tidak ada masalah saling-penyusupan (penetrasi)49) atau pemisahan mutlak dari kedua kutub itu. Itu akan sama saja dengan menuntut, dalam kasus pertama, bahwa kutub utara dan kutub selatan dari sebuah magnet mesti saling-membatalkan atau, dalam kasus kedua, bahwa membagi sebuah magnet di tengah-tengah antara kedua kutub itu di satu sisi mesti menghasilkan suatu paroh utara tanpa suatu kutub selatan, dan di sisi lainnya suatu paroh selatan tanpa suatu kutub utara. Sekalipun–namun–kemustahilan asumsi-asumsi seperti itu segera nyata dari sifat dialektikal oposisi-oposisi kutub, bagaimanapun, berkat gaya pikiran metafisikal dari para ilmuwan alamyang berkuasa, asumsi kedua setidak-tidaknya memainkan suatu bagian tertentu dalam teori fisikal. Hal ini akan dibicarakan pada tempatnya kelak.

Bagaimanakah gerak menghadirkan dirinya dalam interaksi tarikan dan tolakan? Paling tepat hal ini diteliti dalam bentuk-bentuk gerak masing-masing sendiri. Pada akhirnya, aspek umum dari materi akan memperlihatkan dirinya sendiri.

Mari kita ambil gerak sebuah planet di sekitar benda (badan/kumpulan) sentralnya sendiri. Astronomi sekolahan biasa mengikuti Newton dalam menjelaskan elips yang dilukiskan sebagai hasil aksi bersama dari dua kekuatan, tarikan benda sentral dan suatu kekuatan tanjensial (tangential = yang bersinggungan) yang memacu planet itu di sepanjang kenormalan pada arah tarikan ini. Dengan demikian ia mengambil, di samping bentuk gerak yang berarahkan sentral, juga suatu arah lain dari gerak, atau yang dinamakan “kekuatan,” perpendikular (garis tegak-lurus) pada garis yang menghubungkan pusat-pusat itu. Dengan begita ia berlawanan/bertentangan dengan hukum dasar tersebut di atas, yang menyatakan bahwa semua gerak di dalam alam semesta kita hanya dapat terjadi di sepanjang garis yang menghubungkan pusat-pusat benda-benda yang satu sama lain beraksi secara timbal balik, atau, seperti juga dikatakan, yang hanya disebabkan oleh “kekuatan-kekuatan” yang beraksi secara sentral. Dengan begitu ia juga memperkenalkan ke dalam teori itu suatu unsur gerak yang, seperti juga telah kita saksikan, mau-tidak-mau membawa pada penciptaan dan penghancuran gerak, dan karenanya mengandaikan suatu pencipta. Yang mesti dilakukan, karenanya, yalah mengurangi kekuatan tanjensial yang misterius ini menjadi suatu bentuk gerak yang beraksi secara sentral, dan inilah yang dicapai/dilaksanakan oleh teori kosmogoni Kant-Laplace. Sebagaimana sudah sangat diketahui, menurut konsepsi ini seluruh sistem matahari lahir dari suatu massa serba-gas yang berputar, yang sangat lemah melalui/lewat kontraksi berangsur-angsur. Gerak rotasional (berputar) jelas paling kuat di khatulistiwa (equator) sfera serba-gas ini, dan cincin-cincin serba-gas individual memisahkan diri dari massa itu dan berkerumun bersama (jadi-satu) menjadi planet-planet, planetoid-planetoid, dsb., yang berputar di sekeliling ben da sentral dalam arah rotasi (perputaran) aslinya. Perputaran ini sendiri lazimnya diterangkan dari gerak partikel-partikel serba-gas itu sendiri-sendiri. Gerak ini terjadi ke semua arah, tetapi akhirnya suatu ekses dalam satu arah tertentu menjadikannya nyata dan dengan begitu menyebabkan gerak berputar itu, yang pasti menjadi semakin kuat dan semakin kuat dengan kontraksi progresif dari sfera serba-gas itu. Tetapi, hipotesis apapun yang dibuat mengenai asal-usul perputaran (rotasi) itu, kesemuanya menghapuskan kekuatan tanjensial, meleburnya dalam suatu bentuk manifestasi khusus dari gerak yang beraksi secara sentral. Apabila satu unsur gerak planeter, yaitu yang langsung sentral, diwakili oleh gravitasi, tarikan antara planet dan benda sentral itu, maka unsur yang lain, yang tanjensial, tampak sebagai sebuah relik, dalam suatu bentuk derivatif atau sudah berubah, dari tolakan asli partikel-partikel individual dari sfera serba-gas itu. Dengan demikian proses kehidupan suartu sistem matahari menghadirkan dirinya sebagai saling-pengaruh-mempengaruhinya tarikan dan tolakan, di mana tarikan berangsur-angsur menjadi semakin unggul-mengungguli disebabkan tolakan yang dipancarkan (radiasi) ke ruang angkasa dalam bentuk panas dan dengan demikian semakin menghilang (terhilang) dari sistem itu.

Selintas-kilas orang melihat bahwa bentuk gerak yang di sini difahami sebagai tolakan adalah sama dengan yang oleh ilmu-fisika modern diistilahkan/disebut “energi.” Dengan kontraksi sistem itu dan akibat menjauhnya benda-benda individual yang menjadi pembentuknya dewasa ini, sistem itu telajh kehilangan “energi,” dan justru kehilangan ini, menurut perhitungan Helmholtz yang terkenal, sudah mencapai 453/454 (empatratuslimapuluhtiga per empatratuslimapuluhempat) dari jumlah total gerak (Bewegungsmenge) yang aslinya terdapat dalam bentuk tolakan.

Mari kita sekarang mengambil suatu massa dalam bentuk sebuah benda di atas bumi kita sendiri. Ia dikaitkan dengan bumi oleh gravitasi, sebagaimana bumi pada gilirannya terkait pada matahari; namun, tidak seperti bumi, ia tidak berkemampuan akan suatu gerak planeter yang bebas. Ia hanya dapat digerakkan dengan/oleh suatu impuls dari luar, dan bahkan dengan begitu, sesegera impuls itu terhenti, geraknya segera terhenti pula, baik itu dikarenakan oleh gravitas saja ataupun oleh yang tersebut belakangan itu secara terpadu dengan perlawanan medium di mana ia bergerak. Perlawanan ini sebenarnya juga suatu efek dari gravitas, tanpa itu bumi, di atas permukaannya, tidak akan mempunyai medium perlawanan apapun, tidak akan mempunyai atmosfer apapun. Karenanya, dalam gerak yang semurninya mekanikal di atas permukaan bumi kita menghadapi suatu situasi di mana gravitasi, tarikan, secara menentukan berkuasa, di mana, oleh sebab itu, produksi gerak memperlihatkan kedua tahap: pertama gravitas yang beraksi secara berlawanan dan kemudian memperkenankan gravitas itu beraksi–singkatnya, naik dan jatuh.

Maka, kita mendapati lagi aksi timbal-balik antara tarikan di satu pihak dan suatu bentuk gerak yang terjadi dalam arah berlawanan dengannya, karenanya suatu bentuk gerak tolakan, di lain pihak. Tetapi, di dalam lingkup mekanika yang semurninya terestrial [bumi] (yang berurusan dengan massa-massa keadaan-keadaan agregasi dan kohesi tertentu yang diliputinya sebagai tidak-dapat-berubah) bentuk gerak tolakan ini tidak terjadi di dalam alam. Kondisi-kondisi fisikal dan kimiawi yang dengannya segumpal batu-karang menjadi terpisah dari suatu puncak-gunung, atau memungkjinkan jatuhnya air, berada di luar lingkup aksinya. Karenanya, dalam mekanika yang semurninya terestial, gerak tolakan, gerak naik mesti diproduksi secara buatan; dengan tenaga manusia, kekuatan hewani, daya air atau uap, dsb. Dan keadaan ini, keharusan untuk memerangi tarikan alamiah secara buatan, menyebabkan para ahli mekanika menganut pandangan bahwa tarikan, gravitasi, atau–sebagaimana mereka katakan= kekuatan gravitas, merupakan bentuk gerak dalam alam yang paling penting, bahkan yang paling dasar.

Manakala, misalnya, suatu beban (bobot) diangkat dan menghubungkan (mengomunikasikan) gerak pada benda-benda lain dengan langsung atau tak-langsung jatuh, maka menurut pandangan mekanika yang biasa, ia bukanlah pengangkatan beban itu yang mengomunikasikan gerak ini, melainkan adalah gaya gravitas yang melakukannya. Begitulah Helmholtz, misalnya, yang membuat

“kekuatan yang adalah yang paling sederhana dan yang paling kita kenal, yaitu gravitas, yang bertindak sebagai daya pendorongnya…. misalnya dalam lonceng-lonceng yang digerakkan oleh suatu beban. Beban itu…..tidak dapat menuruti tarikan gravitas tanpa membuat seluruh kerja-lonceng itu bergerak.” Tetapi ia tidak dapat membuat kerja-lonceng itu bergerak tanpa sendiri turun dan itu terus turun sampai rantai yang padanya ia bergantung sepenuhnya terentang habis: “Lalu lonceng itu akan berhenti, karena kapasitas operatif dari beban itu telah habis untuk sementara waktu. Bobotnya bukannya hilang atau berkurang, ia tetap tertarik hingga batas yang sama oleh bumi, tetapi kapasitas bobot ini untuk menghasilkan gerakan-gerakan telah hilang…. Namun, kita dapat, memutar konceng itu dengan tenaga lengan manusia, sehingga bobot itu kembali dinaikkan. Segera setelah ini terjadi, ia memperoleh kembali kapasitas operatifnya yang semula/sebelumnya dan kembali dapat menggerakkan lonceng itu.” (Helmholtz, Populäre Vorträge, II, hal. 144-45.)

Maka itu, menurut Holmholtz, bukanlah komunikasi gerak secara aktif, dinaikkannya bobot/beban, yang membuat lonceng itu bergerak, melainkan beratnya bobot pasif itu, sekalipun berat yang sama ini hanya ditarik dari kepasivannya dengan mengangkatnya, dan sekali lagi balik pada kepasivan setelah rantai beban itu terentang habis. Maka, apabila menurut konsepsi modern, seperti yang sudah kita lihat di atas, energi hanyalah sebuah ungkapan lain buat tolakan, di sini, di dalam konsepsi Helmholtz yang lebih tua, kekuatan tampil sebagai ungkapan lain bagi lawan tolakan, bagi tarikan (atraksi) Untuk sementara kita catat saja hal ini.

Namun, apabila proses mekanika terestial telah sampai pada akhirnya, manakala massa berat itu pertama-tama sekali telah diangkat dan kemudian jatuh kembali melalui ketinggian yang sama, apakah yang terjadi dengan gerak yang menjadikan proses ini? Bagi mekanika murni, ia telah lenyap. Tetapi kita mengetahui sekarang, bahwa ia sama sekali tidaklah dihancurkan. Hingga batas tertentu ia telah diubah menjadi getaran-getaran (vibrasi) udara dari gelombang-gelombang suara, hingga suatu batas yang lebih besar lagi, menjadi panas–yang sebagian telah dikomunikasikan pada atmosfer yang berlawan, sebagian lagi pada benda jatuh itu sendiri, dan sebagian lagi akhirnya pada lantai di atas mana beban itu terhenti. Bobot lonceng itu juga secara berangsur-angsur telah melerpaskan geraknya dalam bentuk panas gesekan pada berbagai roda pendorong/pemacu dari kerja-lonceng itu. Namun, sekalipun lazimnya diungkapkan secara demikian, bukanlah gerak jatuh itu, yaitu tarikan itu, yang telah beralih menjadi panas, dan dengan begitu menjadi suatu bentuk tolakan. Sebaliknya, sebagaimana dengan tepat dinyatakan oleh Helmholtz, tarikan itu, beratnya itu, tetap sebagaimana itu sebelumnya dan, dikatakan secara secermatnya, bahkan menjadi lebih besar. Lebih tepatnya, adalah tolakan itu yang dikomunikasikan pada benda yang terangkat itu dengan mengangkatnya, yang dihancurkan secara mekanikal dengan jatuh dan muncul kembali sebagai panas. Tolakan massa-massa diubah menjadi tolakan molekular.

Panas, sebagaimana sudah dinyatakan, adalah suatu bentuk tolakan. Ia menggerakkan molekul-molekul benda-benda padat beroskilasi (bergoyang-goyang), dengan demikian melepaskan kaitan-kaitan molekul-molekul itu sendiri-sendiri sehingga akhirnya berlangsunglah peralihan ke keadaan cair itu. Dalam keadaan cair itu juga, dengan terus ditambahkannya panas, ia meningkatkan gerak molekul-molekul itu hingga tercapailah suatu derajat di mana molekul-molekul itu sepenuhnya memisahkan diri dari massa itu dan, pada kecepatan tertentu yang ditentukan bagi setiap molekul oleh susunan kimiawinya, mereka bergerak menjauh secara sendiri-sendiri dalam keadaan bebas. Dengan penambahan panas lebih lanjut, kecepatan itu semakin ditingkatkan, dan dengan begitu molekul-molekul itu semakin saling-tolak-menolak satu sama lainnya.

Namun panas itu suatu bentuk dari apa yang dinamakan “energi”; di sini lagi-lagi ternyata bahwa yang tersebut belakangan itu adalah identikal dengan tolakan.

Dalam gejala-gejala listrik statik dan magnetisme, kita dapatkan suatu distribusi polar dari tarikan dan tolakan. Apapun hipotesis yang diterima mengenai modus operandi kedua bentuk ini, berdasarkan fakta tidak ada keraguan sedikitpun bahwa tarikan dan tolakan, sejauh-jauh mereka diproduksi/dihasilkan oleh listrik statik atau magnetisme dan mampu untuk berkembang tanpa halangan, mereka sepenuhnya saling mengompensasi (kompensasi) satu sama lain, sebagaimana nyata tidak-bisa-tidak disebabkan oleh sifat distribusi polar itu sendiri. Dua kutub yang kegiatan-kegiatannya tidak sepenuhnya saling mengompensasi satu sama lain memang bukan kutub-kutub, dan sejauh ini belum pernah dijumpai dalam alam. Untuk sementara kita tidak akan membicarakan galvanisme, karena dalam hal ini, prosesnya ditentukan oleh reaksi-reaksi kimiawi, yang menjadikannya semakin rumit. Karenanya, lebih baik kita meneliti proses-proses kimiawi dari gerak itu.

Manakala dua bagian berat hidrogen berpadu dengan 15,96 bagian berat oksigen untuk membentuk uap air, suatu jumlah panas sebanyak 68,924 satuan-panas dikembangkan selama proses itu. Sebaliknya, apabila 17,96 bagian berat uap air didekomposisikan menjadi dua bagian berat hidrogen dan 15,96 bagian berat oksigen, hal ini hanya mungkin dengan syarat bahwa uap air itu telah mengomunikasikan suatu jumlah gerak yang setara dengan 68,924 satuan-panas–baik itu dalam bentuk panas itu sendiri atau dalam bentuk gerak elektrikal. Dalam mayoritas terbesar kasus, gerak dilepaskan/terjadi pada perpaduan dan mesti disuplai pada dekomposisi. Juga di sini, lazimnya, tolakan merupakan segi aktif dari proses itu, yang lebih dibekali dengan gerak atau memerlukan suatu tambahan gerak, sedangkan tarikan merupakan segi pasif yang menghasilkan suatu surplus gerak dan melepaskan gerakan. Berdasar hal ini, teori modern juga menyatakan bahwa, dalam keseluruhannya, energi itu dibebaskan pada waktu (saat) perpaduan unsur- unsur dan menjadi tergabung pada saat dekomposisi. Di sini, karena itu, energi lagi-lagi berarti tolakan. Dan Helmholtz kembali menyatakan:

“Kekuatan ini (afinitas kimiawi) dapat difahami sebagai suatu kekuatan tarikan…. Kekuatan tarikan ini di antara atom-atom karbon dan oksigen melaksanakan pekerjaan sangat sama banyaknya seperti (dengan) yang dikerahkan pada suatu berat yang diangkat oleh bumi dalam bentuk gravitasi… Manakala atom-atom karbon dan oksigen saling menyerbu satu sama lain dan berpadu untuk membentuk asam karbonik, maka partikel-partikel asam karbonik yang baru terbentuk itu mesti berada dalam gerak molekular yang dahsyat, yaitu, dalam gerak panas…. Apabila kemudian mereka melepaskan panas mereka pada lingkungan, kita masih mendapati dalam asam karbonik itu semua karbon, semua oksigen, dan tambahan lagi afinitas dari keduanya terus berada/hidup dengan sama kuat-perkasanya seperti sebelumnya. Tetapi, afinitas ini kini menyatakan dirinya semata-mata dalam kenyataan bahwa atom-atom karbon dan oksigen lekat-rapat satu-sama-lain, dan tidak memperkenankan terpisahnya mereka kembali.” (Helmholtz, ibid., hal. 169.)

Helmholtz berkukuh bahwa dalam ilmu kimia maupun dalam ilmu mekanika, kekuatan hanya ada dalam tarikan, dan karena itu menjadi tepat berlawanan dengan yang oleh para ahli fisika lainnya disebut energi dan yang identikal dengan tolakan.

Maka, kini tidak hanya terdapat dua bentuk dari dari tarikan dan tolakan yang sederhana, melainkan serangkaian/sederetan penuh anak-anak bentuk di mana pemutaran dan pelepasan proses gerak universal berlangsung di dalam oposisi tarikan dan tolakan. Namun, sama-sekali tidaklah hanya dalam pikiran kita beraneka-ragam bentuk penampilan ini difahami dalam ketunggalan ungkapan gerak. Sebaliknya, semuanya itu membuktikan diri dalam aksi bahwa mereka adalah bentuk-bentuk dari gerak yang satu dan sama dengan cara mereka beralih yang satu menjadi yang lainnya dalam keadaan-keadaan tertentu. Gerak massa-massa secara mekanikal beralih menjadi panas, menjadi listrik, menjadi magnetisme; panas dan listrik beralih menjadi dekomposisi kimiawi; kombinasi kimiawi pada gilirannya lagi melahirkan panas dan listrik dan, lewat yang tersebut terakhir, magnetisme; dan akhirnya, panas dan listrik kembali menghasilkan lebih banyak gerak massa-massa secara mekanikal. Selanjutnya, perubahan-perubahan ini terjadi sedemikian rupa sehingga sejumlah bentuk gerak tertentu selalu mempunyai suatu jumlah tertentu yang tepat-sama dari bentuk gerak yang lain. Selanjutnya, tidaklah peduli bentuk gerak yang mana menentukan satuan untuk mengukur jumlah gerak itu, apakah itu untuk mengukur gerak massa, panas, yang dinamakan kekuatan elektro-motive, atau gerak yang menjalani transformasi dalam proses-proses kimiawi.

Di sini kita bersandar pada teori “konservasi energi” yang ditegakkan oleh J.R. Mayer**) pada tahun 1842 dan kemudian disusun secara internasional dengan keberhasilan yang begitu cemerlang, dan kini kita mesti meneliti konsep-konsep fundamental yang dipakai dewasa ini oleh teori ini. Ini adalah konsep-konsep mengenai “kekuatan/daya,” atau “energi,” dan “kerja”.

Telah ditunjukkan di atas, bahwa menurut pandangan modern, yang kini umumnya diterima, energi adalah istilah yang dipakai untuk tolakan, sedangkan Helmholtz lebih banyak memakai kata daya untuk menyatakan tarikan. Orang dapat menganggap ini suatu perbedaan formal yang tidak penting, sejauh tarikan dan tolakan itu saling mengompensasi satu sama lain di jagat raya, dan sesuai dengan itu persoalan segi mana dari hubungan itu yang dianggap sebagai positif dan yang mana sebagai yang negatif akan tampak sebagai hal yang tidak perlu dipersoalkan, sebagaimana itu sendiri tidaklah penting manakala absisae (abscissae) dihitung ke kanan atau ke kiri dari sebuah titik dalam suatu garis tertentu. Namun, hal ini sama sekali tidaklah demikian mutlaknya.

Karena, di sini kita tidak mempersoalkan–pertama-tama–alam semesta, tetapi gejala-gejala yang terjadi di atas bumi dan dikondisikan oleh tertentunya posisi bumi secara pasti di dalam sistem matahari (tata-surya), dan posisi sistem matahari dalam alam semesta. Namun, setiap saat, sistem matahari kita mengeluarkan kuantitas-kuantitas gerak secara luar-biasa besarnya ke ruang angkasa, dan–lagi pula–gerak dari suatu kualitas yang sangat tertentu, yaitu, panas matahari, yaitu tolakan. Tetapi bumi kita sendiri memungkinkan keberadaan kehidupan di atasnya hanya dikarenakan panas matahari, dan pada akhirnya, bumi pada gilirannya memancarkan panas matahari yang diterimanya ke ruang angkasa, setelah ia mengubah sebagaian dari panas ini menjadi bentuk-bentuk gerak yang lain. Karenanya, di dalam sistem matahari dan di atas segala-galanya di atas bumi, tarikan sudah sangat mengungguli (mengatasi) tolakan. Tanpa gerak tolakan yang dipancarkan pada kita dari matahari, semua gerak di atas bumi akan terhenti. Seandainya esok matahari itu menjadi dingin, maka tarikan di atas bumi akan tetap, dengan semua keadaan lainnya tetap sama, sebagaimana ia adanya sekarang. Seperti di muka, sebuah batu yang beratnya 100 kilogram, di manapun batu itu ditempatkan, akan tetap 100 kilogram beratnya. Tetapi gerak itu, baik yang dari massa-massa dan dari molekul-molekul dan atom-atom, akan sampai/menjadi yang akan kita anggap sebagai suatu perhentian. Maka dari itu, jelaslah bahwa bagi proses-proses yang terjadi dewasa ini di atas bumi, sama sekali bukan masalah yang tak-perlu-dihiraukan apakah tarikan atau tolakan difahami sebagai segi aktif dari gerak, dan karenanya sebagai “daya,” atau “energi”. Sebaliknya, dewasa ini di atas bumi, tarikan sudah menjadi pasif sepenuhnya dikarenakan kemantapannya yang lebih menentukan di atas tolakan; kita berhutang semua gerak aktif pada suplai tolakan dari matahari. Karena itu, aliran modern–bahkan apabila masih tetap tidak jelas mengenai sifat hubungan gerak–betapa-pun, dalam hal kenyataan dan bagi proses-proses terestrial, bahkan bagi seluruh sistem mathari, secara mutlak benar dalam memahami energi sebagai tolakan.

Istilah “energi” sama sekali tidak secara tepat mengungkapkan seluruh hubungan gerak, karena ia hanya mencakup satu aspek saja, yaitu aksinya tetapi penciptaannya tidak. Ia masih membuat seakan-akan “energi” itu sesuatu yang di luar (eksternal) materi, sesuatu yang ditanamkan ke dalamnya. Tetapi dalam segala keadaan ia lebih disukai/dipilih daripada ungkapan “daya”.

Sebagaimana umumnya diakui (dari Hegel hingga Helmholtz), pengertian daya diderivasi dari kegiatan organisme manusia di dalam lingkungannya. Kita berbicara tentang kekuatan otot, mengenai daya angkat lengan, mengenai daya loncat kaki, mengenai daya cerna perut dan sistem intestinal, mengenai daya sensor syaraf-syaraf, mengenai daya secretori kelenjar-kelenjar, dsb. Dengan kata-kata lain, demi pengamanan karena mesti memberikan sebab sebenarnya sesuatu perubahan yang ditimbulkan oleh suatu fungsi organisme kita, kita menggantikannya dengan sebuah sebab karangan, sesuatu yang disebut daya yang bersesuaian dengan perubah-an itu. Kemudian kita alihkan metode yang memudahkan ini kepada dunia eksternal juga, dan dengan begitu membuat penemuan kekuatan-kekutan/daya-daya sebanyaki adanya beraneka-ragam gejala.

Pada masa Hegel, ilmu-pengetahuan alam (barangkali dengan pengecualian ilmu-mekanika langit dan bumi) masih berada dalam keadaan pandir (naive), dan Hegel dengan tepat sekali menyerang cara penunjukan (denotasi) daya-daya yang berlaku (pasase yang akan dikutib).51) Seperti itu pula dalam sebuah pasase lain:

“Adalah lebih baik (mengatakan) bahwa sebuah magnet mempunyai suatu roh” (sebagaimana Thales menyatakannya) “daripada bahwa ia mempunyai suatu daya tarikan; daya adalah semacam sifat yang, terpisahkan dari materi dikemukakan sebagai sebuah predikat –sedangkan roh, sebaliknya, adalah gerak ini sendiri, identikal dengan sifatnya materi.” (Geschichte der Philosophie, I, hal. 208.)

Dewasa ini kita lagi menggampangkan persoalan daya-daya. Mari kita dengar Helmholtz:

“Apabila kita sepenuhnya mengenal sebuah hukum alam, kita juga mesti menuntut bahwa hukum itu mesti beroperasi tanpa pengecualian… Dengan demikian hukum berhadapan dengan kita sebagai suatu kekuatan objektif, dan bersesuaian dengan itu kita menamakannya suatu daya. Misalnya, kita mengobjektivikasi hukum refraksi cahaya sebagai suatu daya refraktif dari substansi-substansi transparan, hukum afinitas kimiawi sebagai suatu daya afinitas dari berbagai substansi satu-sama-lain. Begitulah kita berbicara mengenai daya elektrik dari kontak metal-metal, mengenai daya adhesi, daya kapilari, dan begitu seterusnya. Nama-nama ini mengobjektivikasi hukum-hukum yang terutama hanya mencakup suatu rangkaian terbatas proses-proses alamiah, yang kondisi-kondisinya masih rada-rada rumit…. Daya hanyalah hukum aksi yang diobjektivikasi…. Ide abstrak mengenai daya yang kita perkenalkan/ajukan hanya menambahkan bahwa kita tidak secara sewenang-swenang membuat penemuan hukum ini, melainkan bahwa ia adalah sebuah hukum gejala-gejala yang merupakan keharusan. Karena itu tuntutan kita untuk memahami gejala-gejala alam, yaitu, menemukan hukum-hukumnya, mengambil suatu bentuk ungkapan yang lain, yaitu, bahwa kita harus menemukan daya-daya yang menjadi sebab-sebab dari gejala-gejala itu.” (Loc. cit., hal.189- 91. Ceramah Innsbruck tahun 1869.)

Pertama-tama, jelaslah suatu cara “objektivikasi” yang ganjil apabila pengertian mengenai daya yang semurninya subjektif itu dimasukkan ke dalam suatu hukum alam yang sudah ditegakkan sebagai bebas dari subjektivitas kita dan oleh karenanya sepenuhnya bersifat objektif. Paling-bantar seorang Hegelian-tua dari tipe yang paling tegar dapat memperkenankan hal seperti itu bagi dirinya, namun tidak bagi seorang Neo-Kantian seperti Helmholtz. Hukum itu, sekali ia telah dimantapkan, maupun objektivitasnya ataupun objektivitas aksinya, sedikitpun tidak memerlukan objektivitas baru dari/oleh kita dengan penginterpolasian suatu daya ke dalamnya; yang ditambahkan adalah anggapan subjektif kita bahwa ia bertindak berkat suatu daya yang sejauh ini sama sekali tidak dikenal/diketahui. Namun makna rahasia dari interpolasi ini segera tampak ketika Helmholtz memberikan contoh-contoh pada kita: refraksi cahaya, afinitas kimiawi, listrik kontak, adhesi, kapilaritas, dan mengangkat hukum-hukum yang menguasai gejala- gejala ini pada peringkat keningratan “objektif” sebagai daya-daya. “Nama-nama ini mengobjektivikasi hukum-hukum yang terutama hanya mencakup suatu rangkaian terbatas proses-proses alamiah, yang kondisi-kondisinya masih rada-rada rumit.” Dan justru di sinilah “objektivikasi” itu, yang lebih bersifat subjektivikasi, memperoleh maknanya; tidak karena kita telah menjadi sepenuhnya mengenal hukum itu, melainkan justru karena tidak demikianlah kenyataannya. Justru karena kita belum jelas mengenai “kondisi-kondisi yang rada-rada rumit” dari gejala-gejala ini, kita sering mencari pelarian kita dalam kata daya itu. Dengan begitu kita tidak menyatakan pengetahuan kita, melainkan (justru) kekurangan/ketiadaan pengetahuan kita mengenai sifat hukum itu dan gaya aksinya. Dalam pengertian ini, sebagai suatu ungkapan singkat bagi suatu pertautan sambil-lalu yang masih belum dijelaskan, sebagai suatu ungkapan asal-jadi, ia mungkin lolos ke dalam pemakaian dewasa ini. Apapun saja daripada yang dari kebatilan. Dengan hak yang sama absahnya sebagaimana Helmholtz menjelaskan gejala-gejala fisikal dari apa yang dinamakan daya refraktif, daya kontak elektrikal, dsb., para skolastik abad-pertengahan menjelaskan perubahan-perubahan temperatur (suhu) melalui/dengan suatu vis calorifica dan vis frigifaciens dan dengan demikian mengamankan/menyelamatkan diri mereka dari semua penelitian lebih lanjut mengenai gejala-gejala panas.

Dan bahkan dalam arti ini ia sungguh malang, karena ia mengungkapkan segala sesuatu dengan cara yang berat-sebelah. Semua proses alam adalah bersegi-dua, mereka didasarkan pada hubungan setidak-tidaknya dua bagian operatif, aksi dan reaksi. Namun, pengertian daya, karena asal-usulnya dari aksi organisme manusia atas dunia eksternal, dan selanjutnya dari mekanika bumi, berarti bahwa hanya satu bagian yang aktif, operatir, sedangkan bagian lainnya adalah pasif, nerimo; karenanya ia menetapkan suatu perluasan perbedaan yang belum dapat diperagakan di antara jenis-jenis kelamin pada objek-objek mati (tidak hidup). Reaksi dari bagian kedua, yang padanya daya itu bekerja, paling-paling tampil sebagai suatu reaksi pasif, sebagai suatu tentangan. Nah, gaya konsepsi ini diperkenankan dalam sejumlah bidang, bahkan di luar mekanika murni, yaitu, di mana ia menjadi masalah pengalihan gerak secara sederhana dan penghitungan kuantitatifnya. Tetapi, dalam proses-proses fisikal yang lebih rumit, ia tidak mencukupi, sebagaimana dibuktikan oleh contoh-contoh Helmholtz sendiri. Daya refraktif itu sama kuatnya terletak dalam cahaya itu sendiri seperti dalam benda-benda transparan itu. Dalam hal adhesi dan kapilaritas, jelaslah bahwa “daya” itu sama kuatnya berada dalam permukaan yang padat seperti dalam permukaan yang cair. Bagaimanapun, dalam listrik kontak, halnya sudah jelas, yaitu, bahwa kedua metal menyumbang padanya, dan “afinitas kimiawi” juga berada–kalaupun di manapun–dalam kedua bagian yang memasuki perpaduan/penggabungan. Tetapi suatu daya yang terdiri atas dua daya yang terpisah, suatu aksi yang tidak menimbulkan reaksinya, tetapi yang mencakup dan menanggung ini di dalamnya sendiri, bukanlah daya dalam pengertian mekanika terestrial, satu-satunya ilmu-pengetahuan di mana seseorang sungguh-sungguh mengetahui apa yang dimaksudkan dengan suatu daya. Karena kondisi-kondisi pokok dari mekanika terestrial adalah, pertama-tama, penolakan untuk meneliti sebab-sebab dari impuls itu, yaitiu, sifat dari daya tertentu, dan, kedua, pandangan mengenai kebersegi-satunya daya, karena di mana-mana ia ditentang oleh suatu daya gravitasional yang identikal, sedemikian rupa sehingga dibandingkan dengan jarak jatuh terestrial yang manapun, maka jarak-tempuh (radius) bumi = “tak-terhingga”.

Tetapi, mari kita lebih lanjut melihat bagaimana Helmholtz “mengobjektivikasi daya-dayanya” ke dalam hukum-hukum alam.

Dalam sebuah ceramah di tahun 1854 (loc. cit., hal.119)52) ia memeriksa simpanan daya kerja yang aslinya dikandung dalam nebula sferikal dari mana sistem matahari kita dibentuk.

“Sesungguhnya ia menerima suatu warisan yang luar-biasa besarnya dalam hal ini, sekalipun dalam bentuk daya tarikan umum dari semua bagiannya satu-sama-lain.”

Hal ini tidak dapat disangkal. Tetapi adalah sama tidak-dapat-disangkal bahwa keseluruhan dari warisan gravitas atau gravitasi ini hadir tanpa berkurang di dalam sistem matahari sekarang, kecuali–barangkali– kuantitas yang teramat kecil yang hilang bersama materi yang mungkin dilempar keluar secara tidak-terelakan ke ruang angkasa.

“Daya-daya kimiawi juga mesti sudah ada/hadir dan siap untuk beraksi/bertindak; tetapi, karena daya-daya ini hanya bisa menjadi efektif dalam kontak akrab berbagai jenis massa, maka kondensasi mesti terjadi sebelum mereka berperan.” (hal. 120)

Apabila, seperti yang dilakukan Helmholtz di atas ini, kita memandang daya-daya kimiawi ini sebagai daya-daya afinitas, artinya sebagai tarikan, maka kembali kita mau-tak-mau mesti mengatakan bahwa jumlah-total daya-daya kimiawi dari tarikan ini masih ada tanpa berkurang di dalam sistem matahari.

Tetapi pada halaman yang sama, kepada kita Helmholtz memberikan sebagai hasil perhitungan-perhitungan,

“bahwa barangkali hanya 454-bagian dari daya mekanikal asli yang terdapat seperti itu”– yaitu, dalam sistem matahari itu.

Bagaimana orang mesti mengartikan itu? Daya tarikan, baik yang umum maupun yang kimiawi, masih hadir tanpa gangguan apapun di dalam sistem matahari. Helmholtz tidak menyebutkan sumber tertentu lainnya dari daya itu. Bagaimanapun, menurut Helmholtz, daya-daya ini telah melakukan pekerjaan yang luar-biasa. Namun semuanya itu tidak berkurang ataupun bertambah karenanya. Seperti halnya dengan berat lonceng yang tersebut di atas, demikian pula dengan setiap molekul di dalam sistem matahari dan seluruh sistem matahari itu sendiri. “Beratnya tidak hilang ataupun berkurang.” Yang terjadi dengan karbon dan oksigen sebagaimana yang disebutkan, berlaku pula bagi semua unsur kimiawi: jumlah kuantitas tertentu dari masing-masingnya tetap, dan “jumlah daya afinitas terus ada dengan sama kuatnya seperti pada waktu sebelumnya.” Lalu, apakah yang telah hilang? Dan “daya” apakah yang telah melakukan kerja luar-biasa yang adalah 453 kali lebih besar daripada yang, menurut perhitungannya, masih mampu dilakukan oleh sistem matahari itu? Hingga di sini Helmholtz tidak memberikan jawaban. Namun lebih lanjut ia mengatakan:

“Apakah [dalam nebula sferikal asli] suatu _cadangan daya dalam bentuk panas _masih hadir, kita tidak tahu.”

Tetapi, jika kita diperkenankan menyebutkannya, panas itu adalah suatu “daya” tolakan, karenanya ia bertindak berlawanan dengan tarikan gravitasi maupun kimiawi, yaitu berarti minus apabila ini ditempatkan sebagai plus. Maka apabila, menurut Helmholtz, cadangan daya asli itu terdiri atas tarikan umum dan kimiawi, suatu cadangan panas ekstra mestilah, tidak ditambahkan pada cadangan daya itu, melainkan ditarik/dikurangi darinya. Jika tidak demikian halnya maka panas matahari mestilah memperkuat daya tarikan bumi apanbila ia menyebabkan air meng-uap ke arah lawan tarisan ini, dan uap air itu naik; atau panas sebuah pipa (tube) besi pijar yang dilalui uap akan memperkuat tarikan kimiawi oksigen dan hidrogen, yang membuatnya tidak beraksi. Atau, untuk membuat jelas hal yang sama itu dalam suatu bentuk lain: mari kita menganggap bahwa nebul sferikal dengan radius r, dan karenanya dengan volume 4/3 o r³ mempunyai suatu suhu t. Selanjutnya mari kita anggap sebuah nebul sferikal kedua dari massa yang sama pada suhu lebih tinggi T mempunyai radius R yang lebih b esar dan volume 4/3 o r³. Kini menjadi jelas bahwa dalam nebula kedua, tarika n itu, baik yang mekanikal maupun yang fisikal dan kimiawi, dapat bertindak dengan daya yang sama seperti pada nebula pertama ketika ia mengkeret dari radius R menjadi radius r, yaitu, ketika ia telah memancarkan panas itu ke angkasa sesuai dengan perbedaan suhu Tt. Suatu nebula yang lebih panas oleh karenanya berkondensasi lebih lambat/belakangan daripada nebula yang lebih dingin; Dan sebagai konsekuensinya, panas itu, yang dari pendirian Helmholtz dipandang sebagai suatu rintangan bagi kondensasi, bukanlah suiatu plus melainkan suatu minus dari “cadangan daya.” Helmholtz, dengan mengan daikan kemungkinan sejumlah gerak tolakan dalam bentuk panas menjadi ditambahkan pada bentuk-bentuk gerak tarikan, jelas-jelas melakukan suatu kesalahan perhitungan.

Sekarang, mari kita tempat keseluruhan dari “cadangan daya” ini, yang mungkin maupun yang dapat didemon strasikan, di bawah tanda matematikal yhang sama sehingga suatu tambahan menjadi mungkin. Karena sementara ini kita tidak dapat membalikkan panmas dan menggantikan tolakannya dengan t arikan setara, kita terpaksa melaksanakan pembalikan ini dengan kedua bentuk tarikan. Kemudian, gantinya daya tarikjan umum, gantinya afinitas kimiawi, dan gantinya panas, yang lagipula mungkin sudah ada sejak awal, kita cuma mesti menempatkan jumlah gerak tolakan atau yang disebut energi yang terdapat di dalam sfera serba-gas pada saat ia menjadi bebas. Dan dengan melakukan hal itu maka perhitungan Helmholtz juga menjadi sahih, dalam hal ia bermaksud memperhitungkan “pemanasan yang mesti lahir dari perkiraan kondensasi awal benda-benda langit dari sistem kita dari materi serba-nebula yang berserakan.” Dengan mereduksikan seluruh “cadangan daya” pada panas, tolakan, ia juga membuatnya mungkin untuk menambah pada perkiraan cadangan daya panas itu. Perhitungan itu kemudian menyatakan bahwa 453/454 dari semuya energi, yaitu tolakan, yang aslinya terdapat di dalam sfera serba-gas telah diradiasikan/dipancarkan ke angkasa dalam bentuk panas, atau, agar lebih tepatnya, bahwa jumlah dari semua tarikan dalam sistem matahari sekarang dalam hubungannya dengan jumlah semua tolakan, masih terdapat di dalam yang sama, yaitu 454:1. Tetapi ia dengan demikian secara langsung mengingkari teks ceramah yang kepadanya hal itu ditambahkan sebagai bukti.

Maka, apabila pengertian daya, bahkan dalam kasus seorang ahli fisika seperti Helmholtz, menimbulkan kekacauan gagasan seperti itu, ini merupakan bukti paling kuat bahwa ia sama sekali tidak mempan bagi penggunaan ilmiah di semua cabang penelitian yang melampaui ilmu mekanika matematikal. Dalam ilmu mekanika sebab-sebab gerak dianggap tertentu dan asal-usulnya tidak dipandang, hanya efek-efeknya yang diperhitungkan. Maka, apabila suatu sebab dari gerak diistilahkan suatu daya, ini tidak mengganggu ilmu mekanika sendiri; tetapi telah menjadi kebiasaan untuk mengalihkan istilah ini juga pada ilmu fisika, kimia, dan biologi, dan kemudian kekacauan itu menjadi tidak terelakkan. Kita sudah melihat hal ini dan kelak akan acapkali menyaksikannya lagi.

Untuk konsep mengenai kerja, lihat bab berikutnya.

Catatan:

*) Pada bagian tepi manuskrip itu tertulis catatan berikut ini dengan pensil: “Kant (mengatakan), halaman 22, bahwa ketiga dimensi ruang itu bergantung pada kenyataan bahwa tarikan atau tolakan ini terjadi dalam proporsi terbalik dengan kwadrat (hasil perkalian) jarak itu.”47)

**) Helmholtz, dalam Pop. Vortr., 50)_II, hal. 113, agaknya telah menjulukkan sebagian tertentu dari bukti ilmiah-alam dari azas Descartes mengenai kekekalan (immutability) gerak secara kuantitatif pada dirinya sendiri maupun pada Mayer dan Colding. “Aku sendiri, tanpa mengetahui sedikitpun akan Mayer dan Colding, dan hanya berkenalan dengan eksperimen-eksperimen Joule pada akhir karyaku, telah menempuh jalan yang sama; aku menyibukkan diriku terutama dengan menyelidiki semua hubungan antara berbagai proses alam yang dapat dideduksi dari gaya pertimbangan tertentu, dan aku mengumumkan penelitian-penelitianku pada tahun 1847 dalam sebuah karya kecil yang berjudul Über die Erhaltung der Kraft.”–Tetapi, dalam karya itu tidak dijumpai yang baru bagi posisi itu pada tahun 1847 kecuali perkembangan tersebut di atas, yang secara matematikal sangat berharga, bahwa “konservasi daya” dan aksi sentral dari kekuatan-kekuatan yang aktif di antara berbagai benda sesuatu sistem hanyalah dua ungkapan yang berbeda dari hal yang sama, dan lebih jauh suatu perumusan yang lebih cermat mengenai hukum bahwa jumlah dari tenaga-tenaga yang hidup dan tensional dalam sesuatu sistem mekanikal tertentu adalah konstan. Dalam semua hal lainnya ia sudah didahului sejak makalah kedua Mayer di tahun 1845. Pada tahun 1842 Mayer sudah menyatakan mengenai “tidak-dapat-hancurnya kekuatan/daya,” dan dari pendirian barunya pada tahun 1845 ia sudah berbicara tentang hal-hal yang jauh lebih cemerlang mengenai “hubungan-hubungan antara berbagai proses alam” daripada yang diungkapkan Helmholtz pada tahun 1847.

GERAK DALAM ARTI YANG PALING UMUM

 

Gerak dalam arti yang paling umum, difahami sebagai gaya keberadaan, atribut yang inheren, dari materi, mencakup/meliputi semua perubahan dan proses yang berlangsung dalam jagat raya, dari sekedar perubahan/pergantian tempat hingga sampai pada pikiran. Penyelidikan mengenai sifat gerak sudah dengan sendirinya mesti dimulai dari bentuk-bentuk gerak ini yang paling sederhana, paling rendah dan belajar menangkap semua itu sebelum ia dapat mencapai sesuatu sebagai penjelasan mengenai bentuk-bentuk yang lebih tinggi dan lebih rumit. Karenanya, dalam evolusi historikal ilmu-ilmu pengetahuan alam kita melihat bagaimana yang paling pertama-tama sekali dikembangkan adalah teori mengenai perubahan tempat yang paling sederhana, mekanika dari benda-benda langit dan massa-massa bumi; ia kemudian disusul oleh teori mengenai gerak molekular, fisika, dan segera kemudian, nyaris bersama-sama dan di beberapa tempat mendahuluinya, ilmu pengertahuan mengenai gerak atom-atom, kimia. Hanya setelah berbagai cabang pengetahuan mengenai bentuk-bentuk gerak yang menguasai alam tidak-hidup itu telah mencapai suatu derajat perkembangan yang tinggi, baru dapatlah penjelasan mengenai proses-proses gerak yang mewakili proses kehidupan itu ditangani dengan berhasil. Ini maju secara proporsional dengan kemajuan mengenai mekanika, fisika dan kimia. Akibatnya, sementara mekanika telah cukup lama secara sepadan mampu merujukkan efek-efek penungkil-penungkil tulang yang digerakkan oleh kontraksi otot dalam tubuh hewan pada hukum-hukum yang berlaku juga dalam alam tidak-hidup, substansiasi fisiko-kimiawi gejala-gejala lain dari kehidupan masih sangat berada pada awal perkembangannya. Karenanya di sini, dalam penyelidikan sifat gerak, kita terpaksa memasukkan bentuk-bentuk organik dari gerak itu,. Kita terpaksa membatasi diri kita–sesuai dengan keadaan ilmu-pengetahuan–pada bentuk-bentuk gerak dari alam tidak-hidup.

Semua gerak bertautan dengan sesuatu perubahan/pergantian/perpindahan tempat, apakah itu perubahan tempat benda-benda angkasa, massa-massa bumi, molekul-molekul, atom-atom, atau partikel-partikel ether. Semakin tinggi bentuk gerak itu, semakin kecil perubahan tempat itu. Ia sama sekali tdiak menguras habis sifat dari gerak bersangkutan, melainkan adalah tidak terpisahkan dari gerak itu. Ia, karenanya, mesti diselidiki sebelum kita menyelidiki apapun lainnya.

Keseluruhan alam yang terbuka bagi kita merupakan sebuah sistem, suatu totalitas yang saling-berkait dari benda-benda, dan dengan bgenda-benda kita mengartikan di sini semua keberadaan (eksistensi) material yang terentang dari bintang-bintang hingga atom-atom, bahkan sampai pada partikel-partikel ether, sejauh diakui keberadaan yang tersebut terakhir itu. Dalam kenyataan bahwa benda-benda ini saling-berkaitan sudah tercakup (pengertian) bahwa mereka bereaksi satu pada yang lainnya, dan justru reaksi timbal balik (satu sama lain) inilah yang menjadikan gerak. Sudah terbukti di sini bahwa materi itu tidak terbayangkan tanpa gerak. Dan apabila, sebagai tambahan, materi dihadapkan pada kita sebagai sesuatu yang tertentu, sama-sama tidak-dapat-diciptakan dan tidak-dapat-dihancurkan, maka berarti bahwa gerak juga tidak-dapat-diciptakan dan tidak-dapat-dihancurkan. Telah menjadi tidak mungkin untuk menolak kesimpulan ini segera setelah diakui bahwa jagat raya merupakan sebuah sistem, suatu antar-keterkaitan benda-benda. Dan sejak pengakuan ini dicapai oleh filsafat, lama sebelum ia diberlakukan secara efektif dalam ilmu-pengetahuan alam, dapatlah dimengerti mengapa filsafat, selama duaratus tahun sebelum ilmu-pengetahuan alam, menarik kesimpulan mengenai tidak-dapat-diciptakan dan tidak- dapat-dihancurkannya gerak. Bahkan bentuk yang dipakainya untuk melakukan ini masih lebih unggul daripada perumusan masa-kini dari ilmu-pengetahuan alam. Azas Descartes, bahwa jumlah (die Menge) gerak yang terdapat di dalam alam jagat selalu sama, hanya mengandung kelemahan-formal karena telah memakai suatu ungkapan terbatas bagi suatu kebesaran tak-terhingga. Sebaliknya, dua buah ungkapan mengenai hukum yang sama yang sekarang berlaku dalam ilmu-pengetahuan alam: hukum Helmholtz mengenai konservasi daya/tenaga, dan hukum yang lebih baru, yang lebih tepat, yaitu mengenai konservasi energi. Dari kedua-duanya ini, yang pertama, seperti akan kita lihat, mengatakan justru kebalikan dari yang lainnya, dan lebih dari itu, masing-masingnya hanya mengungkapkan satu sisi dari hubungan itu.

Manakala dua benda saling beraksi satu-sama-lain sehingga mengakibatkan suatu permindahan tempat dari yang satu atau pada kedua-duanya, maka perpindahan tempat ini hanya dapat berupa suatu pendekatan atau suatu pemisahan. Mereka saling tarik satu-sama-lain atau mereka saling menolak satu-sama-lain. Atau, sebagaimana mekanika menyatakannya, kekuatan-kekuatan yang beroperasi di antara mereka bersifat sentral, beraksi sepanjang garis yang menyatukan pusat-pusat mereka. Bahwa ini yang terjadi, bahwa demikian kenyataannya tanpa kecuali di seluruh alam jagat, betapapun rumitnya banyak gerakan mungkin tampaknya, dewasa ini diterima sebagai sesuatu yang dengan sendirinya begitu. Akan tampak tidak-masuk-akal untuk berasumsi, manakala dua benda beraksi satu pada yang lainnya dan saling interaksi itu tidak dilawan oleh hambatan apapun atau pengaruh suatu benda ketiga, maka aksi ini mesti dipengaruhi secara lain daripada sepanjang jalan yang terpendek dan paling langsung, yaitu, sepanjang garis lurus yang menyatukan/menghubungkan pusat-pusat mereka.*) Lagi pula, sudah sangat diketahui, bahwa Helmholtz (Erhaltung der Kraft, Berlin 1847, Seksi I dan II) telah memberikan bukti matematikal bahwa aksi sentral dan tidak-dapat-diubahnya jumlah gerak (Bewegungsmenge)48) dikondisikan secara timbal-balik dan bahwa anggapan mengenai aksi-aksi lain kecuali yang sentral itu membawa pada hasil-hasil di mana gerak dapat atau diciptakan atau dihancurkan. Karena itulah bentuk dasar dari semua gerak adalah pendekatan dan pemisahan, kontraksi dan pemuaian–singkatnya, pertentangan-pertentangan polar(kutub) lama dari tarikan dan tolakan.

Yang secara istimewa mesti diperhatikan ialah, bahwa di sini, tarikan dan tolakan tidak dipandang sebagai “kekuatan-kekuatan” tetapi sebagai bentuk-bentuk sederhana dari gerak, tepat sebagaimana Kant sudah memahami materi sebagai kesatuan tarikan dan tolakan. Yang mesti difahami dengan “kekuatan-kekuatan” akan ditunjukkan kelak pada waktunya.

Semua gerak terdiri atas saling-pengaruh tarikan dan tolakan. Namun, gerak hanya mungkin pabila setiap tarikan individual dikompensasi oleh tolakan yang bersesuaian di sesuatu tempat lainnya. Jika tidak begitu maka pada waktunya satu sisi akan menjadi lebih kuasa atas yang lainnya dan gerak itu akhirnya akan berhenti. Karenanya, semua tarikan dan semua tolakan dalam jagat raya mesti saling mengimbangi satu sama lain. Demikianlah hukum tidak-dapat-dihancurkan dan tidak-dapat-diciptakannya gerak terungkap dalam bentuk bahwa setiap gerak tarikan dalam jagat raya mesti mempunyai sebagai komplemennya suatu gerak tolakan ekuivalen (kesetaraan) dan vice versa; atau, sebagaimana filsafat kuno–lama sebelum perumusan ilmiah-alam mengenai hukum konservasi tenaga atau energi–menyatakannya: jumlah dari semua tarikan dalam alam jagat raya adalah sama dengan jumlah semua tolakan.

Namun, di sini tampaknya masih terdapat dua kemungkinan bagi semua gerak untuk berhenti pada sesuatu waktu, baik itu dikarenakan oleh tolakan dan tarikan yang akhirnya saling membatalkan satu sama lain dalam kenyataan aktual, ataupun dengan total tolakan yang akhirnya menguasai suatu bagian materi dan total tarikan menguasai bagian lainnya. Bagi konsepsi dialektikal, kemungkinan-kemungkinan ini sejak awal dimustahilkan. Sejauh ini, dialektika telah membuktikan dari hasil-hasil pengalaman kita tentang alam, bahwa semua oposisi kutub pada umumnya ditentukan oleh aksi timbal-balik kedua kutub yang berlawanan, bahwa pemisahan dan pertentangan dari kutub-kutub ini hanya ada di dalam saling keterkaitan dan persatuan mereka, dan, sebaliknya, bahwa kesatuan mereka hanya ada di dalam pemisahan mereka dan saling-keterkaitan mereka hanya dalam pertentangan mereka. Setelah ini ditandaskan, tidak ada masalah suatu pembatalan final dari tolakan dan tarikan, atau mengenai suatu pembagian final di antara satu bentuk gerak dalam separoh materi dan bentuk gerak lainnya dalam separoh materi lainnya, karenanya tidak ada masalah saling-penyusupan (penetrasi)49) atau pemisahan mutlak dari kedua kutub itu. Itu akan sama saja dengan menuntut, dalam kasus pertama, bahwa kutub utara dan kutub selatan dari sebuah magnet mesti saling-membatalkan atau, dalam kasus kedua, bahwa membagi sebuah magnet di tengah-tengah antara kedua kutub itu di satu sisi mesti menghasilkan suatu paroh utara tanpa suatu kutub selatan, dan di sisi lainnya suatu paroh selatan tanpa suatu kutub utara. Sekalipun–namun–kemustahilan asumsi-asumsi seperti itu segera nyata dari sifat dialektikal oposisi-oposisi kutub, bagaimanapun, berkat gaya pikiran metafisikal dari para ilmuwan alamyang berkuasa, asumsi kedua setidak-tidaknya memainkan suatu bagian tertentu dalam teori fisikal. Hal ini akan dibicarakan pada tempatnya kelak.

Bagaimanakah gerak menghadirkan dirinya dalam interaksi tarikan dan tolakan? Paling tepat hal ini diteliti dalam bentuk-bentuk gerak masing-masing sendiri. Pada akhirnya, aspek umum dari materi akan memperlihatkan dirinya sendiri.

Mari kita ambil gerak sebuah planet di sekitar benda (badan/kumpulan) sentralnya sendiri. Astronomi sekolahan biasa mengikuti Newton dalam menjelaskan elips yang dilukiskan sebagai hasil aksi bersama dari dua kekuatan, tarikan benda sentral dan suatu kekuatan tanjensial (tangential = yang bersinggungan) yang memacu planet itu di sepanjang kenormalan pada arah tarikan ini. Dengan demikian ia mengambil, di samping bentuk gerak yang berarahkan sentral, juga suatu arah lain dari gerak, atau yang dinamakan “kekuatan,” perpendikular (garis tegak-lurus) pada garis yang menghubungkan pusat-pusat itu. Dengan begita ia berlawanan/bertentangan dengan hukum dasar tersebut di atas, yang menyatakan bahwa semua gerak di dalam alam semesta kita hanya dapat terjadi di sepanjang garis yang menghubungkan pusat-pusat benda-benda yang satu sama lain beraksi secara timbal balik, atau, seperti juga dikatakan, yang hanya disebabkan oleh “kekuatan-kekuatan” yang beraksi secara sentral. Dengan begitu ia juga memperkenalkan ke dalam teori itu suatu unsur gerak yang, seperti juga telah kita saksikan, mau-tidak-mau membawa pada penciptaan dan penghancuran gerak, dan karenanya mengandaikan suatu pencipta. Yang mesti dilakukan, karenanya, yalah mengurangi kekuatan tanjensial yang misterius ini menjadi suatu bentuk gerak yang beraksi secara sentral, dan inilah yang dicapai/dilaksanakan oleh teori kosmogoni Kant-Laplace. Sebagaimana sudah sangat diketahui, menurut konsepsi ini seluruh sistem matahari lahir dari suatu massa serba-gas yang berputar, yang sangat lemah melalui/lewat kontraksi berangsur-angsur. Gerak rotasional (berputar) jelas paling kuat di khatulistiwa (equator) sfera serba-gas ini, dan cincin-cincin serba-gas individual memisahkan diri dari massa itu dan berkerumun bersama (jadi-satu) menjadi planet-planet, planetoid-planetoid, dsb., yang berputar di sekeliling ben da sentral dalam arah rotasi (perputaran) aslinya. Perputaran ini sendiri lazimnya diterangkan dari gerak partikel-partikel serba-gas itu sendiri-sendiri. Gerak ini terjadi ke semua arah, tetapi akhirnya suatu ekses dalam satu arah tertentu menjadikannya nyata dan dengan begitu menyebabkan gerak berputar itu, yang pasti menjadi semakin kuat dan semakin kuat dengan kontraksi progresif dari sfera serba-gas itu. Tetapi, hipotesis apapun yang dibuat mengenai asal-usul perputaran (rotasi) itu, kesemuanya menghapuskan kekuatan tanjensial, meleburnya dalam suatu bentuk manifestasi khusus dari gerak yang beraksi secara sentral. Apabila satu unsur gerak planeter, yaitu yang langsung sentral, diwakili oleh gravitasi, tarikan antara planet dan benda sentral itu, maka unsur yang lain, yang tanjensial, tampak sebagai sebuah relik, dalam suatu bentuk derivatif atau sudah berubah, dari tolakan asli partikel-partikel individual dari sfera serba-gas itu. Dengan demikian proses kehidupan suartu sistem matahari menghadirkan dirinya sebagai saling-pengaruh-mempengaruhinya tarikan dan tolakan, di mana tarikan berangsur-angsur menjadi semakin unggul-mengungguli disebabkan tolakan yang dipancarkan (radiasi) ke ruang angkasa dalam bentuk panas dan dengan demikian semakin menghilang (terhilang) dari sistem itu.

Selintas-kilas orang melihat bahwa bentuk gerak yang di sini difahami sebagai tolakan adalah sama dengan yang oleh ilmu-fisika modern diistilahkan/disebut “energi.” Dengan kontraksi sistem itu dan akibat menjauhnya benda-benda individual yang menjadi pembentuknya dewasa ini, sistem itu telajh kehilangan “energi,” dan justru kehilangan ini, menurut perhitungan Helmholtz yang terkenal, sudah mencapai 453/454 (empatratuslimapuluhtiga per empatratuslimapuluhempat) dari jumlah total gerak (Bewegungsmenge) yang aslinya terdapat dalam bentuk tolakan.

Mari kita sekarang mengambil suatu massa dalam bentuk sebuah benda di atas bumi kita sendiri. Ia dikaitkan dengan bumi oleh gravitasi, sebagaimana bumi pada gilirannya terkait pada matahari; namun, tidak seperti bumi, ia tidak berkemampuan akan suatu gerak planeter yang bebas. Ia hanya dapat digerakkan dengan/oleh suatu impuls dari luar, dan bahkan dengan begitu, sesegera impuls itu terhenti, geraknya segera terhenti pula, baik itu dikarenakan oleh gravitas saja ataupun oleh yang tersebut belakangan itu secara terpadu dengan perlawanan medium di mana ia bergerak. Perlawanan ini sebenarnya juga suatu efek dari gravitas, tanpa itu bumi, di atas permukaannya, tidak akan mempunyai medium perlawanan apapun, tidak akan mempunyai atmosfer apapun. Karenanya, dalam gerak yang semurninya mekanikal di atas permukaan bumi kita menghadapi suatu situasi di mana gravitasi, tarikan, secara menentukan berkuasa, di mana, oleh sebab itu, produksi gerak memperlihatkan kedua tahap: pertama gravitas yang beraksi secara berlawanan dan kemudian memperkenankan gravitas itu beraksi–singkatnya, naik dan jatuh.

Maka, kita mendapati lagi aksi timbal-balik antara tarikan di satu pihak dan suatu bentuk gerak yang terjadi dalam arah berlawanan dengannya, karenanya suatu bentuk gerak tolakan, di lain pihak. Tetapi, di dalam lingkup mekanika yang semurninya terestrial [bumi] (yang berurusan dengan massa-massa keadaan-keadaan agregasi dan kohesi tertentu yang diliputinya sebagai tidak-dapat-berubah) bentuk gerak tolakan ini tidak terjadi di dalam alam. Kondisi-kondisi fisikal dan kimiawi yang dengannya segumpal batu-karang menjadi terpisah dari suatu puncak-gunung, atau memungkjinkan jatuhnya air, berada di luar lingkup aksinya. Karenanya, dalam mekanika yang semurninya terestial, gerak tolakan, gerak naik mesti diproduksi secara buatan; dengan tenaga manusia, kekuatan hewani, daya air atau uap, dsb. Dan keadaan ini, keharusan untuk memerangi tarikan alamiah secara buatan, menyebabkan para ahli mekanika menganut pandangan bahwa tarikan, gravitasi, atau–sebagaimana mereka katakan= kekuatan gravitas, merupakan bentuk gerak dalam alam yang paling penting, bahkan yang paling dasar.

Manakala, misalnya, suatu beban (bobot) diangkat dan menghubungkan (mengomunikasikan) gerak pada benda-benda lain dengan langsung atau tak-langsung jatuh, maka menurut pandangan mekanika yang biasa, ia bukanlah pengangkatan beban itu yang mengomunikasikan gerak ini, melainkan adalah gaya gravitas yang melakukannya. Begitulah Helmholtz, misalnya, yang membuat

“kekuatan yang adalah yang paling sederhana dan yang paling kita kenal, yaitu gravitas, yang bertindak sebagai daya pendorongnya…. misalnya dalam lonceng-lonceng yang digerakkan oleh suatu beban. Beban itu…..tidak dapat menuruti tarikan gravitas tanpa membuat seluruh kerja-lonceng itu bergerak.” Tetapi ia tidak dapat membuat kerja-lonceng itu bergerak tanpa sendiri turun dan itu terus turun sampai rantai yang padanya ia bergantung sepenuhnya terentang habis: “Lalu lonceng itu akan berhenti, karena kapasitas operatif dari beban itu telah habis untuk sementara waktu. Bobotnya bukannya hilang atau berkurang, ia tetap tertarik hingga batas yang sama oleh bumi, tetapi kapasitas bobot ini untuk menghasilkan gerakan-gerakan telah hilang…. Namun, kita dapat, memutar konceng itu dengan tenaga lengan manusia, sehingga bobot itu kembali dinaikkan. Segera setelah ini terjadi, ia memperoleh kembali kapasitas operatifnya yang semula/sebelumnya dan kembali dapat menggerakkan lonceng itu.” (Helmholtz, Populäre Vorträge, II, hal. 144-45.)

Maka itu, menurut Holmholtz, bukanlah komunikasi gerak secara aktif, dinaikkannya bobot/beban, yang membuat lonceng itu bergerak, melainkan beratnya bobot pasif itu, sekalipun berat yang sama ini hanya ditarik dari kepasivannya dengan mengangkatnya, dan sekali lagi balik pada kepasivan setelah rantai beban itu terentang habis. Maka, apabila menurut konsepsi modern, seperti yang sudah kita lihat di atas, energi hanyalah sebuah ungkapan lain buat tolakan, di sini, di dalam konsepsi Helmholtz yang lebih tua, kekuatan tampil sebagai ungkapan lain bagi lawan tolakan, bagi tarikan (atraksi) Untuk sementara kita catat saja hal ini.

Namun, apabila proses mekanika terestial telah sampai pada akhirnya, manakala massa berat itu pertama-tama sekali telah diangkat dan kemudian jatuh kembali melalui ketinggian yang sama, apakah yang terjadi dengan gerak yang menjadikan proses ini? Bagi mekanika murni, ia telah lenyap. Tetapi kita mengetahui sekarang, bahwa ia sama sekali tidaklah dihancurkan. Hingga batas tertentu ia telah diubah menjadi getaran-getaran (vibrasi) udara dari gelombang-gelombang suara, hingga suatu batas yang lebih besar lagi, menjadi panas–yang sebagian telah dikomunikasikan pada atmosfer yang berlawan, sebagian lagi pada benda jatuh itu sendiri, dan sebagian lagi akhirnya pada lantai di atas mana beban itu terhenti. Bobot lonceng itu juga secara berangsur-angsur telah melerpaskan geraknya dalam bentuk panas gesekan pada berbagai roda pendorong/pemacu dari kerja-lonceng itu. Namun, sekalipun lazimnya diungkapkan secara demikian, bukanlah gerak jatuh itu, yaitu tarikan itu, yang telah beralih menjadi panas, dan dengan begitu menjadi suatu bentuk tolakan. Sebaliknya, sebagaimana dengan tepat dinyatakan oleh Helmholtz, tarikan itu, beratnya itu, tetap sebagaimana itu sebelumnya dan, dikatakan secara secermatnya, bahkan menjadi lebih besar. Lebih tepatnya, adalah tolakan itu yang dikomunikasikan pada benda yang terangkat itu dengan mengangkatnya, yang dihancurkan secara mekanikal dengan jatuh dan muncul kembali sebagai panas. Tolakan massa-massa diubah menjadi tolakan molekular.

Panas, sebagaimana sudah dinyatakan, adalah suatu bentuk tolakan. Ia menggerakkan molekul-molekul benda-benda padat beroskilasi (bergoyang-goyang), dengan demikian melepaskan kaitan-kaitan molekul-molekul itu sendiri-sendiri sehingga akhirnya berlangsunglah peralihan ke keadaan cair itu. Dalam keadaan cair itu juga, dengan terus ditambahkannya panas, ia meningkatkan gerak molekul-molekul itu hingga tercapailah suatu derajat di mana molekul-molekul itu sepenuhnya memisahkan diri dari massa itu dan, pada kecepatan tertentu yang ditentukan bagi setiap molekul oleh susunan kimiawinya, mereka bergerak menjauh secara sendiri-sendiri dalam keadaan bebas. Dengan penambahan panas lebih lanjut, kecepatan itu semakin ditingkatkan, dan dengan begitu molekul-molekul itu semakin saling-tolak-menolak satu sama lainnya.

Namun panas itu suatu bentuk dari apa yang dinamakan “energi”; di sini lagi-lagi ternyata bahwa yang tersebut belakangan itu adalah identikal dengan tolakan.

Dalam gejala-gejala listrik statik dan magnetisme, kita dapatkan suatu distribusi polar dari tarikan dan tolakan. Apapun hipotesis yang diterima mengenai modus operandi kedua bentuk ini, berdasarkan fakta tidak ada keraguan sedikitpun bahwa tarikan dan tolakan, sejauh-jauh mereka diproduksi/dihasilkan oleh listrik statik atau magnetisme dan mampu untuk berkembang tanpa halangan, mereka sepenuhnya saling mengompensasi (kompensasi) satu sama lain, sebagaimana nyata tidak-bisa-tidak disebabkan oleh sifat distribusi polar itu sendiri. Dua kutub yang kegiatan-kegiatannya tidak sepenuhnya saling mengompensasi satu sama lain memang bukan kutub-kutub, dan sejauh ini belum pernah dijumpai dalam alam. Untuk sementara kita tidak akan membicarakan galvanisme, karena dalam hal ini, prosesnya ditentukan oleh reaksi-reaksi kimiawi, yang menjadikannya semakin rumit. Karenanya, lebih baik kita meneliti proses-proses kimiawi dari gerak itu.

Manakala dua bagian berat hidrogen berpadu dengan 15,96 bagian berat oksigen untuk membentuk uap air, suatu jumlah panas sebanyak 68,924 satuan-panas dikembangkan selama proses itu. Sebaliknya, apabila 17,96 bagian berat uap air didekomposisikan menjadi dua bagian berat hidrogen dan 15,96 bagian berat oksigen, hal ini hanya mungkin dengan syarat bahwa uap air itu telah mengomunikasikan suatu jumlah gerak yang setara dengan 68,924 satuan-panas–baik itu dalam bentuk panas itu sendiri atau dalam bentuk gerak elektrikal. Dalam mayoritas terbesar kasus, gerak dilepaskan/terjadi pada perpaduan dan mesti disuplai pada dekomposisi. Juga di sini, lazimnya, tolakan merupakan segi aktif dari proses itu, yang lebih dibekali dengan gerak atau memerlukan suatu tambahan gerak, sedangkan tarikan merupakan segi pasif yang menghasilkan suatu surplus gerak dan melepaskan gerakan. Berdasar hal ini, teori modern juga menyatakan bahwa, dalam keseluruhannya, energi itu dibebaskan pada waktu (saat) perpaduan unsur- unsur dan menjadi tergabung pada saat dekomposisi. Di sini, karena itu, energi lagi-lagi berarti tolakan. Dan Helmholtz kembali menyatakan:

“Kekuatan ini (afinitas kimiawi) dapat difahami sebagai suatu kekuatan tarikan…. Kekuatan tarikan ini di antara atom-atom karbon dan oksigen melaksanakan pekerjaan sangat sama banyaknya seperti (dengan) yang dikerahkan pada suatu berat yang diangkat oleh bumi dalam bentuk gravitasi… Manakala atom-atom karbon dan oksigen saling menyerbu satu sama lain dan berpadu untuk membentuk asam karbonik, maka partikel-partikel asam karbonik yang baru terbentuk itu mesti berada dalam gerak molekular yang dahsyat, yaitu, dalam gerak panas…. Apabila kemudian mereka melepaskan panas mereka pada lingkungan, kita masih mendapati dalam asam karbonik itu semua karbon, semua oksigen, dan tambahan lagi afinitas dari keduanya terus berada/hidup dengan sama kuat-perkasanya seperti sebelumnya. Tetapi, afinitas ini kini menyatakan dirinya semata-mata dalam kenyataan bahwa atom-atom karbon dan oksigen lekat-rapat satu-sama-lain, dan tidak memperkenankan terpisahnya mereka kembali.” (Helmholtz, ibid., hal. 169.)

Helmholtz berkukuh bahwa dalam ilmu kimia maupun dalam ilmu mekanika, kekuatan hanya ada dalam tarikan, dan karena itu menjadi tepat berlawanan dengan yang oleh para ahli fisika lainnya disebut energi dan yang identikal dengan tolakan.

Maka, kini tidak hanya terdapat dua bentuk dari dari tarikan dan tolakan yang sederhana, melainkan serangkaian/sederetan penuh anak-anak bentuk di mana pemutaran dan pelepasan proses gerak universal berlangsung di dalam oposisi tarikan dan tolakan. Namun, sama-sekali tidaklah hanya dalam pikiran kita beraneka-ragam bentuk penampilan ini difahami dalam ketunggalan ungkapan gerak. Sebaliknya, semuanya itu membuktikan diri dalam aksi bahwa mereka adalah bentuk-bentuk dari gerak yang satu dan sama dengan cara mereka beralih yang satu menjadi yang lainnya dalam keadaan-keadaan tertentu. Gerak massa-massa secara mekanikal beralih menjadi panas, menjadi listrik, menjadi magnetisme; panas dan listrik beralih menjadi dekomposisi kimiawi; kombinasi kimiawi pada gilirannya lagi melahirkan panas dan listrik dan, lewat yang tersebut terakhir, magnetisme; dan akhirnya, panas dan listrik kembali menghasilkan lebih banyak gerak massa-massa secara mekanikal. Selanjutnya, perubahan-perubahan ini terjadi sedemikian rupa sehingga sejumlah bentuk gerak tertentu selalu mempunyai suatu jumlah tertentu yang tepat-sama dari bentuk gerak yang lain. Selanjutnya, tidaklah peduli bentuk gerak yang mana menentukan satuan untuk mengukur jumlah gerak itu, apakah itu untuk mengukur gerak massa, panas, yang dinamakan kekuatan elektro-motive, atau gerak yang menjalani transformasi dalam proses-proses kimiawi.

Di sini kita bersandar pada teori “konservasi energi” yang ditegakkan oleh J.R. Mayer**) pada tahun 1842 dan kemudian disusun secara internasional dengan keberhasilan yang begitu cemerlang, dan kini kita mesti meneliti konsep-konsep fundamental yang dipakai dewasa ini oleh teori ini. Ini adalah konsep-konsep mengenai “kekuatan/daya,” atau “energi,” dan “kerja”.

Telah ditunjukkan di atas, bahwa menurut pandangan modern, yang kini umumnya diterima, energi adalah istilah yang dipakai untuk tolakan, sedangkan Helmholtz lebih banyak memakai kata daya untuk menyatakan tarikan. Orang dapat menganggap ini suatu perbedaan formal yang tidak penting, sejauh tarikan dan tolakan itu saling mengompensasi satu sama lain di jagat raya, dan sesuai dengan itu persoalan segi mana dari hubungan itu yang dianggap sebagai positif dan yang mana sebagai yang negatif akan tampak sebagai hal yang tidak perlu dipersoalkan, sebagaimana itu sendiri tidaklah penting manakala absisae (abscissae) dihitung ke kanan atau ke kiri dari sebuah titik dalam suatu garis tertentu. Namun, hal ini sama sekali tidaklah demikian mutlaknya.

Karena, di sini kita tidak mempersoalkan–pertama-tama–alam semesta, tetapi gejala-gejala yang terjadi di atas bumi dan dikondisikan oleh tertentunya posisi bumi secara pasti di dalam sistem matahari (tata-surya), dan posisi sistem matahari dalam alam semesta. Namun, setiap saat, sistem matahari kita mengeluarkan kuantitas-kuantitas gerak secara luar-biasa besarnya ke ruang angkasa, dan–lagi pula–gerak dari suatu kualitas yang sangat tertentu, yaitu, panas matahari, yaitu tolakan. Tetapi bumi kita sendiri memungkinkan keberadaan kehidupan di atasnya hanya dikarenakan panas matahari, dan pada akhirnya, bumi pada gilirannya memancarkan panas matahari yang diterimanya ke ruang angkasa, setelah ia mengubah sebagaian dari panas ini menjadi bentuk-bentuk gerak yang lain. Karenanya, di dalam sistem matahari dan di atas segala-galanya di atas bumi, tarikan sudah sangat mengungguli (mengatasi) tolakan. Tanpa gerak tolakan yang dipancarkan pada kita dari matahari, semua gerak di atas bumi akan terhenti. Seandainya esok matahari itu menjadi dingin, maka tarikan di atas bumi akan tetap, dengan semua keadaan lainnya tetap sama, sebagaimana ia adanya sekarang. Seperti di muka, sebuah batu yang beratnya 100 kilogram, di manapun batu itu ditempatkan, akan tetap 100 kilogram beratnya. Tetapi gerak itu, baik yang dari massa-massa dan dari molekul-molekul dan atom-atom, akan sampai/menjadi yang akan kita anggap sebagai suatu perhentian. Maka dari itu, jelaslah bahwa bagi proses-proses yang terjadi dewasa ini di atas bumi, sama sekali bukan masalah yang tak-perlu-dihiraukan apakah tarikan atau tolakan difahami sebagai segi aktif dari gerak, dan karenanya sebagai “daya,” atau “energi”. Sebaliknya, dewasa ini di atas bumi, tarikan sudah menjadi pasif sepenuhnya dikarenakan kemantapannya yang lebih menentukan di atas tolakan; kita berhutang semua gerak aktif pada suplai tolakan dari matahari. Karena itu, aliran modern–bahkan apabila masih tetap tidak jelas mengenai sifat hubungan gerak–betapa-pun, dalam hal kenyataan dan bagi proses-proses terestrial, bahkan bagi seluruh sistem mathari, secara mutlak benar dalam memahami energi sebagai tolakan.

Istilah “energi” sama sekali tidak secara tepat mengungkapkan seluruh hubungan gerak, karena ia hanya mencakup satu aspek saja, yaitu aksinya tetapi penciptaannya tidak. Ia masih membuat seakan-akan “energi” itu sesuatu yang di luar (eksternal) materi, sesuatu yang ditanamkan ke dalamnya. Tetapi dalam segala keadaan ia lebih disukai/dipilih daripada ungkapan “daya”.

Sebagaimana umumnya diakui (dari Hegel hingga Helmholtz), pengertian daya diderivasi dari kegiatan organisme manusia di dalam lingkungannya. Kita berbicara tentang kekuatan otot, mengenai daya angkat lengan, mengenai daya loncat kaki, mengenai daya cerna perut dan sistem intestinal, mengenai daya sensor syaraf-syaraf, mengenai daya secretori kelenjar-kelenjar, dsb. Dengan kata-kata lain, demi pengamanan karena mesti memberikan sebab sebenarnya sesuatu perubahan yang ditimbulkan oleh suatu fungsi organisme kita, kita menggantikannya dengan sebuah sebab karangan, sesuatu yang disebut daya yang bersesuaian dengan perubah-an itu. Kemudian kita alihkan metode yang memudahkan ini kepada dunia eksternal juga, dan dengan begitu membuat penemuan kekuatan-kekutan/daya-daya sebanyaki adanya beraneka-ragam gejala.

Pada masa Hegel, ilmu-pengetahuan alam (barangkali dengan pengecualian ilmu-mekanika langit dan bumi) masih berada dalam keadaan pandir (naive), dan Hegel dengan tepat sekali menyerang cara penunjukan (denotasi) daya-daya yang berlaku (pasase yang akan dikutib).51) Seperti itu pula dalam sebuah pasase lain:

“Adalah lebih baik (mengatakan) bahwa sebuah magnet mempunyai suatu roh” (sebagaimana Thales menyatakannya) “daripada bahwa ia mempunyai suatu daya tarikan; daya adalah semacam sifat yang, terpisahkan dari materi dikemukakan sebagai sebuah predikat –sedangkan roh, sebaliknya, adalah gerak ini sendiri, identikal dengan sifatnya materi.” (Geschichte der Philosophie, I, hal. 208.)

Dewasa ini kita lagi menggampangkan persoalan daya-daya. Mari kita dengar Helmholtz:

“Apabila kita sepenuhnya mengenal sebuah hukum alam, kita juga mesti menuntut bahwa hukum itu mesti beroperasi tanpa pengecualian… Dengan demikian hukum berhadapan dengan kita sebagai suatu kekuatan objektif, dan bersesuaian dengan itu kita menamakannya suatu daya. Misalnya, kita mengobjektivikasi hukum refraksi cahaya sebagai suatu daya refraktif dari substansi-substansi transparan, hukum afinitas kimiawi sebagai suatu daya afinitas dari berbagai substansi satu-sama-lain. Begitulah kita berbicara mengenai daya elektrik dari kontak metal-metal, mengenai daya adhesi, daya kapilari, dan begitu seterusnya. Nama-nama ini mengobjektivikasi hukum-hukum yang terutama hanya mencakup suatu rangkaian terbatas proses-proses alamiah, yang kondisi-kondisinya masih rada-rada rumit…. Daya hanyalah hukum aksi yang diobjektivikasi…. Ide abstrak mengenai daya yang kita perkenalkan/ajukan hanya menambahkan bahwa kita tidak secara sewenang-swenang membuat penemuan hukum ini, melainkan bahwa ia adalah sebuah hukum gejala-gejala yang merupakan keharusan. Karena itu tuntutan kita untuk memahami gejala-gejala alam, yaitu, menemukan hukum-hukumnya, mengambil suatu bentuk ungkapan yang lain, yaitu, bahwa kita harus menemukan daya-daya yang menjadi sebab-sebab dari gejala-gejala itu.” (Loc. cit., hal.189- 91. Ceramah Innsbruck tahun 1869.)

Pertama-tama, jelaslah suatu cara “objektivikasi” yang ganjil apabila pengertian mengenai daya yang semurninya subjektif itu dimasukkan ke dalam suatu hukum alam yang sudah ditegakkan sebagai bebas dari subjektivitas kita dan oleh karenanya sepenuhnya bersifat objektif. Paling-bantar seorang Hegelian-tua dari tipe yang paling tegar dapat memperkenankan hal seperti itu bagi dirinya, namun tidak bagi seorang Neo-Kantian seperti Helmholtz. Hukum itu, sekali ia telah dimantapkan, maupun objektivitasnya ataupun objektivitas aksinya, sedikitpun tidak memerlukan objektivitas baru dari/oleh kita dengan penginterpolasian suatu daya ke dalamnya; yang ditambahkan adalah anggapan subjektif kita bahwa ia bertindak berkat suatu daya yang sejauh ini sama sekali tidak dikenal/diketahui. Namun makna rahasia dari interpolasi ini segera tampak ketika Helmholtz memberikan contoh-contoh pada kita: refraksi cahaya, afinitas kimiawi, listrik kontak, adhesi, kapilaritas, dan mengangkat hukum-hukum yang menguasai gejala- gejala ini pada peringkat keningratan “objektif” sebagai daya-daya. “Nama-nama ini mengobjektivikasi hukum-hukum yang terutama hanya mencakup suatu rangkaian terbatas proses-proses alamiah, yang kondisi-kondisinya masih rada-rada rumit.” Dan justru di sinilah “objektivikasi” itu, yang lebih bersifat subjektivikasi, memperoleh maknanya; tidak karena kita telah menjadi sepenuhnya mengenal hukum itu, melainkan justru karena tidak demikianlah kenyataannya. Justru karena kita belum jelas mengenai “kondisi-kondisi yang rada-rada rumit” dari gejala-gejala ini, kita sering mencari pelarian kita dalam kata daya itu. Dengan begitu kita tidak menyatakan pengetahuan kita, melainkan (justru) kekurangan/ketiadaan pengetahuan kita mengenai sifat hukum itu dan gaya aksinya. Dalam pengertian ini, sebagai suatu ungkapan singkat bagi suatu pertautan sambil-lalu yang masih belum dijelaskan, sebagai suatu ungkapan asal-jadi, ia mungkin lolos ke dalam pemakaian dewasa ini. Apapun saja daripada yang dari kebatilan. Dengan hak yang sama absahnya sebagaimana Helmholtz menjelaskan gejala-gejala fisikal dari apa yang dinamakan daya refraktif, daya kontak elektrikal, dsb., para skolastik abad-pertengahan menjelaskan perubahan-perubahan temperatur (suhu) melalui/dengan suatu vis calorifica dan vis frigifaciens dan dengan demikian mengamankan/menyelamatkan diri mereka dari semua penelitian lebih lanjut mengenai gejala-gejala panas.

Dan bahkan dalam arti ini ia sungguh malang, karena ia mengungkapkan segala sesuatu dengan cara yang berat-sebelah. Semua proses alam adalah bersegi-dua, mereka didasarkan pada hubungan setidak-tidaknya dua bagian operatif, aksi dan reaksi. Namun, pengertian daya, karena asal-usulnya dari aksi organisme manusia atas dunia eksternal, dan selanjutnya dari mekanika bumi, berarti bahwa hanya satu bagian yang aktif, operatir, sedangkan bagian lainnya adalah pasif, nerimo; karenanya ia menetapkan suatu perluasan perbedaan yang belum dapat diperagakan di antara jenis-jenis kelamin pada objek-objek mati (tidak hidup). Reaksi dari bagian kedua, yang padanya daya itu bekerja, paling-paling tampil sebagai suatu reaksi pasif, sebagai suatu tentangan. Nah, gaya konsepsi ini diperkenankan dalam sejumlah bidang, bahkan di luar mekanika murni, yaitu, di mana ia menjadi masalah pengalihan gerak secara sederhana dan penghitungan kuantitatifnya. Tetapi, dalam proses-proses fisikal yang lebih rumit, ia tidak mencukupi, sebagaimana dibuktikan oleh contoh-contoh Helmholtz sendiri. Daya refraktif itu sama kuatnya terletak dalam cahaya itu sendiri seperti dalam benda-benda transparan itu. Dalam hal adhesi dan kapilaritas, jelaslah bahwa “daya” itu sama kuatnya berada dalam permukaan yang padat seperti dalam permukaan yang cair. Bagaimanapun, dalam listrik kontak, halnya sudah jelas, yaitu, bahwa kedua metal menyumbang padanya, dan “afinitas kimiawi” juga berada–kalaupun di manapun–dalam kedua bagian yang memasuki perpaduan/penggabungan. Tetapi suatu daya yang terdiri atas dua daya yang terpisah, suatu aksi yang tidak menimbulkan reaksinya, tetapi yang mencakup dan menanggung ini di dalamnya sendiri, bukanlah daya dalam pengertian mekanika terestrial, satu-satunya ilmu-pengetahuan di mana seseorang sungguh-sungguh mengetahui apa yang dimaksudkan dengan suatu daya. Karena kondisi-kondisi pokok dari mekanika terestrial adalah, pertama-tama, penolakan untuk meneliti sebab-sebab dari impuls itu, yaitiu, sifat dari daya tertentu, dan, kedua, pandangan mengenai kebersegi-satunya daya, karena di mana-mana ia ditentang oleh suatu daya gravitasional yang identikal, sedemikian rupa sehingga dibandingkan dengan jarak jatuh terestrial yang manapun, maka jarak-tempuh (radius) bumi = “tak-terhingga”.

Tetapi, mari kita lebih lanjut melihat bagaimana Helmholtz “mengobjektivikasi daya-dayanya” ke dalam hukum-hukum alam.

Dalam sebuah ceramah di tahun 1854 (loc. cit., hal.119)52) ia memeriksa simpanan daya kerja yang aslinya dikandung dalam nebula sferikal dari mana sistem matahari kita dibentuk.

“Sesungguhnya ia menerima suatu warisan yang luar-biasa besarnya dalam hal ini, sekalipun dalam bentuk daya tarikan umum dari semua bagiannya satu-sama-lain.”

Hal ini tidak dapat disangkal. Tetapi adalah sama tidak-dapat-disangkal bahwa keseluruhan dari warisan gravitas atau gravitasi ini hadir tanpa berkurang di dalam sistem matahari sekarang, kecuali–barangkali– kuantitas yang teramat kecil yang hilang bersama materi yang mungkin dilempar keluar secara tidak-terelakan ke ruang angkasa.

“Daya-daya kimiawi juga mesti sudah ada/hadir dan siap untuk beraksi/bertindak; tetapi, karena daya-daya ini hanya bisa menjadi efektif dalam kontak akrab berbagai jenis massa, maka kondensasi mesti terjadi sebelum mereka berperan.” (hal. 120)

Apabila, seperti yang dilakukan Helmholtz di atas ini, kita memandang daya-daya kimiawi ini sebagai daya-daya afinitas, artinya sebagai tarikan, maka kembali kita mau-tak-mau mesti mengatakan bahwa jumlah-total daya-daya kimiawi dari tarikan ini masih ada tanpa berkurang di dalam sistem matahari.

Tetapi pada halaman yang sama, kepada kita Helmholtz memberikan sebagai hasil perhitungan-perhitungan,

“bahwa barangkali hanya 454-bagian dari daya mekanikal asli yang terdapat seperti itu”– yaitu, dalam sistem matahari itu.

Bagaimana orang mesti mengartikan itu? Daya tarikan, baik yang umum maupun yang kimiawi, masih hadir tanpa gangguan apapun di dalam sistem matahari. Helmholtz tidak menyebutkan sumber tertentu lainnya dari daya itu. Bagaimanapun, menurut Helmholtz, daya-daya ini telah melakukan pekerjaan yang luar-biasa. Namun semuanya itu tidak berkurang ataupun bertambah karenanya. Seperti halnya dengan berat lonceng yang tersebut di atas, demikian pula dengan setiap molekul di dalam sistem matahari dan seluruh sistem matahari itu sendiri. “Beratnya tidak hilang ataupun berkurang.” Yang terjadi dengan karbon dan oksigen sebagaimana yang disebutkan, berlaku pula bagi semua unsur kimiawi: jumlah kuantitas tertentu dari masing-masingnya tetap, dan “jumlah daya afinitas terus ada dengan sama kuatnya seperti pada waktu sebelumnya.” Lalu, apakah yang telah hilang? Dan “daya” apakah yang telah melakukan kerja luar-biasa yang adalah 453 kali lebih besar daripada yang, menurut perhitungannya, masih mampu dilakukan oleh sistem matahari itu? Hingga di sini Helmholtz tidak memberikan jawaban. Namun lebih lanjut ia mengatakan:

“Apakah [dalam nebula sferikal asli] suatu _cadangan daya dalam bentuk panas _masih hadir, kita tidak tahu.”

Tetapi, jika kita diperkenankan menyebutkannya, panas itu adalah suatu “daya” tolakan, karenanya ia bertindak berlawanan dengan tarikan gravitasi maupun kimiawi, yaitu berarti minus apabila ini ditempatkan sebagai plus. Maka apabila, menurut Helmholtz, cadangan daya asli itu terdiri atas tarikan umum dan kimiawi, suatu cadangan panas ekstra mestilah, tidak ditambahkan pada cadangan daya itu, melainkan ditarik/dikurangi darinya. Jika tidak demikian halnya maka panas matahari mestilah memperkuat daya tarikan bumi apanbila ia menyebabkan air meng-uap ke arah lawan tarisan ini, dan uap air itu naik; atau panas sebuah pipa (tube) besi pijar yang dilalui uap akan memperkuat tarikan kimiawi oksigen dan hidrogen, yang membuatnya tidak beraksi. Atau, untuk membuat jelas hal yang sama itu dalam suatu bentuk lain: mari kita menganggap bahwa nebul sferikal dengan radius r, dan karenanya dengan volume 4/3 o r³ mempunyai suatu suhu t. Selanjutnya mari kita anggap sebuah nebul sferikal kedua dari massa yang sama pada suhu lebih tinggi T mempunyai radius R yang lebih b esar dan volume 4/3 o r³. Kini menjadi jelas bahwa dalam nebula kedua, tarika n itu, baik yang mekanikal maupun yang fisikal dan kimiawi, dapat bertindak dengan daya yang sama seperti pada nebula pertama ketika ia mengkeret dari radius R menjadi radius r, yaitu, ketika ia telah memancarkan panas itu ke angkasa sesuai dengan perbedaan suhu Tt. Suatu nebula yang lebih panas oleh karenanya berkondensasi lebih lambat/belakangan daripada nebula yang lebih dingin; Dan sebagai konsekuensinya, panas itu, yang dari pendirian Helmholtz dipandang sebagai suatu rintangan bagi kondensasi, bukanlah suiatu plus melainkan suatu minus dari “cadangan daya.” Helmholtz, dengan mengan daikan kemungkinan sejumlah gerak tolakan dalam bentuk panas menjadi ditambahkan pada bentuk-bentuk gerak tarikan, jelas-jelas melakukan suatu kesalahan perhitungan.

Sekarang, mari kita tempat keseluruhan dari “cadangan daya” ini, yang mungkin maupun yang dapat didemon strasikan, di bawah tanda matematikal yhang sama sehingga suatu tambahan menjadi mungkin. Karena sementara ini kita tidak dapat membalikkan panmas dan menggantikan tolakannya dengan t arikan setara, kita terpaksa melaksanakan pembalikan ini dengan kedua bentuk tarikan. Kemudian, gantinya daya tarikjan umum, gantinya afinitas kimiawi, dan gantinya panas, yang lagipula mungkin sudah ada sejak awal, kita cuma mesti menempatkan jumlah gerak tolakan atau yang disebut energi yang terdapat di dalam sfera serba-gas pada saat ia menjadi bebas. Dan dengan melakukan hal itu maka perhitungan Helmholtz juga menjadi sahih, dalam hal ia bermaksud memperhitungkan “pemanasan yang mesti lahir dari perkiraan kondensasi awal benda-benda langit dari sistem kita dari materi serba-nebula yang berserakan.” Dengan mereduksikan seluruh “cadangan daya” pada panas, tolakan, ia juga membuatnya mungkin untuk menambah pada perkiraan cadangan daya panas itu. Perhitungan itu kemudian menyatakan bahwa 453/454 dari semuya energi, yaitu tolakan, yang aslinya terdapat di dalam sfera serba-gas telah diradiasikan/dipancarkan ke angkasa dalam bentuk panas, atau, agar lebih tepatnya, bahwa jumlah dari semua tarikan dalam sistem matahari sekarang dalam hubungannya dengan jumlah semua tolakan, masih terdapat di dalam yang sama, yaitu 454:1. Tetapi ia dengan demikian secara langsung mengingkari teks ceramah yang kepadanya hal itu ditambahkan sebagai bukti.

Maka, apabila pengertian daya, bahkan dalam kasus seorang ahli fisika seperti Helmholtz, menimbulkan kekacauan gagasan seperti itu, ini merupakan bukti paling kuat bahwa ia sama sekali tidak mempan bagi penggunaan ilmiah di semua cabang penelitian yang melampaui ilmu mekanika matematikal. Dalam ilmu mekanika sebab-sebab gerak dianggap tertentu dan asal-usulnya tidak dipandang, hanya efek-efeknya yang diperhitungkan. Maka, apabila suatu sebab dari gerak diistilahkan suatu daya, ini tidak mengganggu ilmu mekanika sendiri; tetapi telah menjadi kebiasaan untuk mengalihkan istilah ini juga pada ilmu fisika, kimia, dan biologi, dan kemudian kekacauan itu menjadi tidak terelakkan. Kita sudah melihat hal ini dan kelak akan acapkali menyaksikannya lagi.

Untuk konsep mengenai kerja, lihat bab berikutnya.

Catatan:

*) Pada bagian tepi manuskrip itu tertulis catatan berikut ini dengan pensil: “Kant (mengatakan), halaman 22, bahwa ketiga dimensi ruang itu bergantung pada kenyataan bahwa tarikan atau tolakan ini terjadi dalam proporsi terbalik dengan kwadrat (hasil perkalian) jarak itu.”47)

**) Helmholtz, dalam Pop. Vortr., 50)_II, hal. 113, agaknya telah menjulukkan sebagian tertentu dari bukti ilmiah-alam dari azas Descartes mengenai kekekalan (immutability) gerak secara kuantitatif pada dirinya sendiri maupun pada Mayer dan Colding. “Aku sendiri, tanpa mengetahui sedikitpun akan Mayer dan Colding, dan hanya berkenalan dengan eksperimen-eksperimen Joule pada akhir karyaku, telah menempuh jalan yang sama; aku menyibukkan diriku terutama dengan menyelidiki semua hubungan antara berbagai proses alam yang dapat dideduksi dari gaya pertimbangan tertentu, dan aku mengumumkan penelitian-penelitianku pada tahun 1847 dalam sebuah karya kecil yang berjudul Über die Erhaltung der Kraft.”–Tetapi, dalam karya itu tidak dijumpai yang baru bagi posisi itu pada tahun 1847 kecuali perkembangan tersebut di atas, yang secara matematikal sangat berharga, bahwa “konservasi daya” dan aksi sentral dari kekuatan-kekuatan yang aktif di antara berbagai benda sesuatu sistem hanyalah dua ungkapan yang berbeda dari hal yang sama, dan lebih jauh suatu perumusan yang lebih cermat mengenai hukum bahwa jumlah dari tenaga-tenaga yang hidup dan tensional dalam sesuatu sistem mekanikal tertentu adalah konstan. Dalam semua hal lainnya ia sudah didahului sejak makalah kedua Mayer di tahun 1845. Pada tahun 1842 Mayer sudah menyatakan mengenai “tidak-dapat-hancurnya kekuatan/daya,” dan dari pendirian barunya pada tahun 1845 ia sudah berbicara tentang hal-hal yang jauh lebih cemerlang mengenai “hubungan-hubungan antara berbagai proses alam” daripada yang diungkapkan Helmholtz pada tahun 1847.

Alih bahasa: Ira Iramanto

UKURAN GERAK. — KERJA
oleh Friedrich Engels

“Di lain pihak, hingga kini aku selalu berpendapat, bahwa konsep-konsep dasar di bidang ini” (yaitu, “konsep-konsep fisikal yang mendasar mengenai kerja dan kemustahilan-perubahannya”) “tampak sangat sulit ditangkap bagi orang-orang yang tidak menempuh pendidikan dalam ilmu mekanika matematikal, walaupun adanya segala niat menyala-nyala, semua inteligensi, dan bahkan suatu tingkat pengetahuan ilmu-alam yang cukup tinggi. Lagi pula, tidak dapat disangkal bahwa semuanya itu adalah sejenis abstraksi-abstraksi yang ganjil. Tidaklah tanpa kesulitan, bahwa bahkan intelek dari seorang seperti I. Kant berhasil memahaminya, sebagaimana dibuktikan oleh polemiknya terhadap Leibniz mengenai masalah ini.”

Demikian kata Helmholtz. (Pop. wiss. Vortr., II, Kata Pendahuluan.)

Menurut ini, kita kini sedang memasuki suatu bidang yang sangat berbahaya, dan semakin bahaya karena kita tidak dapat dengan sekehendak hati memandu para pembaca “melalui pendidikan ilmu mekanika matematikal.” Namun, barangkali, akan ternyata–apabila masalahnya yalah masalah konsep-konsep–bahwa pemikiran dialektikal setidak-tidaknya akan membawa diri kita hingga sejauh perhitungan matematikal.

Galileo menemukan, di satu pihak, hukum mengenai kejatuhan, yang menyatakan bahwa jarak-jarak yang dilalui oleh benda-benda yang jatuh adalah proporsional dengan kuadrat-kuadrat waktu-waktu yang berlangsung dalam kejatuhan itu. Di lain pihak, seperti yang akan kita lihat, ia mengajukan proposisi yang tidak begitu cocok, bahwa kuantitas gerak sesuatu benda (impeto– atau momento-nya) ditentukan sedemikian rupa oleh massa dan kecepatan (velocity) hingga bagi massa konstan ia adalah proporsional dengan kecepatan itu. Descartes menggunakan proposisi terakhir ini dan secara umum sekali membuat produk dari massa dan kecepatan dari sebuah benda yang bergerak menjadi ukuran dari geraknya itu.

Huyghens sudah menemukan bahwa, pada impakt elastik, jumlah produk-produk massa-massa dan kuadrat-kuadrat kecepatan mereka tetap sama pada sebelum dan sesudah impakt, dan bahwa suatu hukum yang analog dengan itu berlaku pula dalam berbagai kasus gerak benda-benda lainnya yang disatukan ke dalam sebuah sistem.

Leibniz adalah orang pertama yang menyadari bahwa ukuran gerak Cartesian berkontradiksi dengan hukum kejatuhan. Di lain pihak, tidak dapat disangkal bahwa dalam banyak kasus, ukuran Cartesian itu benar adanya. Sesuai dengan itu, Leibniz membagi daya-daya gerak dalam daya-daya mati dan daya-daya hidup. Yang mati adalah “dorongan-dorongan” atau “tarikan-tarikan” benda-benda yang diam, dan ukuran mereka produk dari massa itu dan kecepatan yang dengannya benda itu akan bergerak jika ia beralih dari suatu keadaan diam pada suatu keadaan bergerak. Di lain pihak, ia mengemukakan sebagai ukuran vis viva, dari gerak real sesuatu benda, produk dari massa itu dan kuadrat kecepatan. Ukuran baru untuk gerak ini diambilnya langsung dari hukum kejatuhan.

“Daya yang sama diperlukan,” demikisan Leibniz menyimpulkan, “untuk mengangkat sebuah benda yang beratnya empat pon satu kaki, seperti mengangkat sebuah benda yang beratnya satu pon setinggi empat kaki; tetapi jarak-jarak itu proporsional dengan kuadrat kecepatan, karena apabila sebuah benda jatuh empat kaki, ia mencapai kecepatan yang dua-kali lipat kecepatan yang dicapai jika jatuhnya hanya satu kaki. Namun, benda-benda di waktu jatuh mencapat daya untuk naik ke ketinggian yang sama seperti ketinggian jatuhnya; maka itu daya-daya itu proporsional dengan kuadrat kecepatan itu.” (Suter, Geschichte der mathematischen Wissenschaften, II, hal. 367.)

Tetapi, seterusnya ia menunjukkan bahwa ukuran gerak mv adalah berkontradiksi dengan hukum Cartesian mengenai konstansi kuantitas gerak, karena jika ia benar-benar berlaku, maka daya (yaitu jumlah gerak) dalam alam akan senantiasa meningkat atau berkurrang. Ia bahkan menyarankan sebuah aparat (1690, Acta Eruditorum45)) yang, jika ukuran mv itu benar/tepat, mau-tidak mau mesti bertindak sebagai suatu perpetuum mobile dengan perolehan/penambahan daya secara terus-menerus, yang–namun–akan absurd adanya. Akhir-akhir ini, Helmholtz acapkali kembali menggunakan jenis argumen ini.

Para Cartesian dengan keras sekali memprotes dan berkembanglah suatu kontroversi terkenal yang berlangsung bertahun-tahun lamanya, yang di dalamnya Kant juga berpartisipasi dalam karyanya yang paling pertama (Gedanken von der wahren Schätzung der lebendigen Kräfte, 1746), namun tanpa memeriksa masalahnya secara mendalam. Para ahli matematika dewasa ini memicingkan mata dengan sikap-kecaman tertentu pada kontroversi “mandul” ini, yang

“berlarut-larut selama lebih dari empat-puluh tahun dan memecah para ahli matematika Eropa ke dalam dua kubu bermusuhan, hingga d’Alembert akhirnuya, dengan karyanya Traité de dynamique, (1743), seakan-akan lewat sebuah amanat raja, mengakhiri disput verbal yang sama sekali tidak berguna itu“. (Suter, loc.cit., hal. 366).

Namun, tidaklah mungkin sebuah kontroversi sepenuhnya berdasarkan suatu disput verbal yang tidak berguna, jika itu ditimbulkan oleh seorang Leibniz terhadap seorang Descartes, dan telah menyibukkan seseorang seperti Kant sedemikian rupa hingga ia mengabdikan pada soal itu, karyanya yang pertama, yaitu sejilid buku yang cukup besar.

Dan sebenarnya, bagaimanakah mesti diartikan bahwa gerak itu mempunyai dua ukuran yang saling berkontradiksi, yaitu, bahwa pada suatu kejadian ia proporsional dengan kecepatan, dan pada lain kejadian dengan kuadrat kecepatan itu?

Suter membuatnya sangat mudah bagi dirinya sendiri; ia menyatakan

kedua-dua pihak itu benar dan kedua-duanya salah: “bagaimanapun juga, ungkapan ‘vis viva’ telah bertahan hingga sekarang; hanya, ia tidak lagi berlaku sebagai ukuran daya, tetapi adalah sekedar sebuah istilah yang pernah dipakai bagi produk dari massa dan separoh kuadrat kecepatan, sebuah produk yang sedemikian penuh makna dalam ilmu-mekanika.” (hal.368)

Karena itu, mv telah merupakan ukuran gerak, dan vis viva hanyalah suatu ungkapan lain untuk mv²/2, dan mengenai perumusan itu kita memang telah diajarkan bahwa ia bermakna besar bagi ilmu mekanika, namun kini sama-sekali tidak mengetahui dengan jelas arti-penting apa yang dimilikinya itu.

Namun, marilah kita ambil Traité de dynamique (1743, yang juru-selamat itu dan lebih mencermati “amanat kerajaan” d’Alembert; ia dapat dijumpai dalam “Kata Pengantar”.

Dalam naskah itu, demikian dikatakan, seluruh persoalan tidaklah terjadi dikarenakan l’inutilité parfaite dont elle est pour la mécanique (Ia sama-sekali tak berguna bagi mekanika). [hal. XVII]

Ini sepenuhnya benar bagi mekanika yang semurninya matematikal, di mana, seperti dalam kasus Suter di atas, kata-kata yang dipakai sebagai petanda-petanda hanyalah merupakan ungkapan-ungkapan lain, atau nama-nama bagi formula aljabar, nama-nama yang sehubungan dengannya sebaiknya tak perlu dipikirkan sama sekali.

Namun begitu, karena orang-orang yang begitu penting telah mempersoalkan hal itu, ia berhasrat menelitinya secara singkat dalam Kata Pengantar itu. Kejernihan pikiran menuntut bahwa dengan daya benda-benda bergerak haruslah hanya difahami sifat mereka dalam mengatasi atau melawan rintangan-rintanan. Karenanya, daya semestinya tidak diukur dengan mv ataupun dengan mv², tetapi semata-mata dengan hambatan-hambatan dan perlawanan yang ditimbulkannya.

Nah, katanya, terdapat tiga jenis hambatan/rintangan: (1) hambatan-hambatan yang tidak dapat diatasi, yang sepenuhnya menghancurkan gerak itu, dan justru karena itu tidak dapat dimasukkan ke dalam perhitungan; (2) hambatan-hambatan yang perlawanannya cukup untuk menghentikan gerak itu dan melakukan itu secara seketika: yaitu kasus ekulibrium (keseimbangan); (3) hambatan-hambatan yang hanya secara berangsur-angsur menghentikan gerak itu: yaitu kasus gerak yang diperlambat. [hal. XVII-XVIII] “Semua orang akan sependapat bahwa dua benda berada dalam keseimbangan apabila produk-produk dari massa-massa dan kecepatan mereka yang sebetulnya, yaitu kecepatan-kecepatan yang dengannya mereka berkecenderungan untuk bergerak, adalah sama di sisi masing-masing. Karenanya, di dalam ekuilibrium (keseimbangan) maka produk dari massa dan kecepatan, atau, yang artinya sama, kuantitas gerak, dapat mewakili daya itu. Setiap orang juga akan sepakat, bahwa dalam gerak yang dilambatkan, jumlah hambatan-hambatan yang diatasi adalah sama dengan kuadrat kecepatan itu, sehingga, misalnya, sebuah benda yang mengempa (compress) sebuah per, dengan suatu kecepatan tertentu, dapat, dengan duakali lipat kecepatan, secara serempak mengempa atau secara berturut-turut bukan dua, melainkan empat buah per yang sama dengan yang pertama, atau sembilan buah dengan tiga-kali lipat kecepatan itu, dan begitu seterusnya. Dari situlah para partisan vis viva” (kaum Leibnizian) “menyimpulkan bahwa daya benda-benda yang nyata dalam gerak pada umumnya adalah proporsional dengan produk dari massa dan kuadrat kecepatan itu. Pada dasarnya, apakah kesulitannya dalam mengukur daya-daya yang berbeda dalam keseimbangan dan dalam gerak yang dilambatkan, karena, jika seseorang hanya bertujuan pandangan-pandangan yang jernih dalam penalaran, se-seorang mesti memahami dengan kata daya itu hanyalah efek yang dihasilkan dalam mengatasi atau melawan hambatan itu?” (Kata Pengantar, hal. XIX-XX, dari edisi aslinya.)

Namun, d’Alembert bukanlah sembarang filosof untuk tidak menyadari bahwa kontradiksi sebuah ukuran rangkap mengenai daya yang satu dan sama itu tidaklah mudah diatasi. Karenanya, setelah mengulangi yang pada dasarnya adalah hal yang sama sebagaimana sudah dikatakan oleh Leibniz–karena équilibre (keseimbangan)-nya adalah presis hal yang sama seperti “dorongan-dorongan mati” Leibniz–ia mendadak sontak beralih pada pihak kaum Cartesian dan mendapatkan jalan keluar berikut ini:

produk mv dari berguna sebagai sebuah ukuran daya, bahkan dalam kasus gerak yang diperlambat, “jika dalam hal terakhir ini, daya itu diukur, tidak dengan kebesaran (magnitude) mutlak dari hambatan-hambatan itu, tetapi dengan jumlah perlawanan-perlawanan dari hambatan-hambatan yang sama itu. Karena tidaklah dapat diragukan bahwa jumlah perlawanan ini akan proporsional dengan kuantitas gerak (mv), sebab, berdasarkan kesepakatan umum, kuantitas gerak yang terhilang oleh benda pada setiap saat adalah proporsional dengan produk dari perlawanan dan keberlangsungan saat (waktu) yang tak-terhingga kecilnya, dan jumlah produk-produk ini nyatanya merupakan jumlah perlawanan itu.” Gaya/cara kalkulasi terakhir ini tampaknya yang lebih wajar baginya, “sebab suatu hambatan hanyalah sejauh ia melakukan perlawanan, dan, sebenarnya, ia adalah jumlah dari perlawanan-perlawanan yang menjadikan hambatan- hambatan yang diatasi itu; lagi pula, dalam memperkirakan daya dengan cara ini orang mempunyai kelebihan karena adanya sebuah ukuran umum bagi ekuilibrium dan bagi gerak yang diperlambat itu._(hal.XX-XXI.)

Betapapun, orang dapat menilai/menggunakan ini menurut kesukaannya. Maka, yakin bahwa ia telah memecahkan per-soalan ini, dengan,–sebagaimana pengakuan Sutter sendiri,–suatu kesalahan (blunder) matematikal, disertai ungkapan-ungkapan miring mengenai kebingungan yang menguasai kalangan pendahulu-pendahulunya, ia menyimpulkan dan menegaskan bahwa sesudah pernyataan-pernyataan di atas itu, mungkin hanya terdapat suatu diskusi metafisikal yang sia-sia atau suatu disput yang semata- mata verbal dan lebih tak-berkualitas.

Saran D’Alembert untuk mencapai suatu perujukan mengandung perhitungan berikut ini:

Suatu massa 1, dengan kecepatan 1, mengempa (compress) 1 per (pegas) dalam unit waktu.

Suatu massa 1, dengan kecepatan 2, mengempa 4 per (pegas), tetapi memerlukan dua unit waktu; yaitu, hanya 2 per(pegas) per unit waktu.

Suatu massa 1, dengan kecepatan 3, mengempa 9 per (pegas) dalam tiga unit waktu, yaitu, hanya 3 per (pegas) per unit waktu.

Maka itu, bila kita membagi efek (hasil) dengan waktu yang diperlukan baginya, kita kembali sampai dari mv² pada mv.

Ini adalah argumen sama yang sudah digunakan oleh –khususnya– Catelan terhadap Leibniz; memang benar bahwa sebuah benda dengan kecepatan 2 naik terhadap gravitas 4 kali-lipat lebih tinggi daripada sebuah dengan kecepatan 1, tetapi ia memerlukan dua-kali lipat waktu untuk itu; konsekuenya, jumlah gerak (die Bewegungsmenge) mesti dibagi dengan waktu, dan =2, bukan 4. Ganjilnya, ini juga pendapat Suter, yang memang melucuti ungkapan “vis viva” dari segala makna logikal dan menjadikan sebuah makna matematikal saja. Tetapi hal ini wajar. Bagi Suter itu suatu masalah penyelamatan perumusan mv dalam maknanya sebagai satu-satunya ukuran jumlah gerak; karenanya secara logikal mv² dikorbankan untuk bangkit kembali ditransfigurasikan dalam sorganya ilmu matematika.

Namun, sejauh inilah ketepatannya: argumen Catelan memberikan salah-sebuah dari jembatan-jembatan yang menghubungkan mv dengan mv², dan dengan demikian memiliki arti-penting.

Para ahli mekanika sesudah d’Alembert sama sekali tidak menerima “amanat kerajaan”nya itu, karena ketentuan finalnya ini memang lebih memihak/memilih mv sebagai ukuran gerak. Mereka menganut ungkapannya mengenai perbedaan yang sudah dibuat Leibniz antara daya-daya mati dan daya-daya hidup: mv berlaku bagi ekuilibrium, yaitu bagi statika; mv² berlaku bagi gerak terhadap perlawanan, yaitu , bagi dinamika. Sekalipun, pada keseluruhannya tepat, namun, perbedaan dalam bentuk ini secara logikal tidak mempunyai leb ih banyak makna daripada keputusan terkenal dari N.C.O.: bertugas selalu “bagiku,” bebas-tugas selalu “aku.”56) Secara diam-diam ia diterima, ia sekedar ada saja. Kita tidak dapat mengubahnya, dan jika suatu kontradiksi bersembunyi dalam ukuran-rangkap ini, apa yang dapat kita perbuat terhadapnya?

Demikianlah, misalnya, Thomson dan Tait mengatakan (A Treatise on Natural Philosophy, Oxford, 1867, hal.162):

Kuantitas gerak, atau momentum, sebuah benda kaku yang bergerak tanpa rotasi adalah proporsional dengan massa dan kecepatannya secara bersama-sama. Demikianlah suatu massa rangkap, atau suatu kecepatan rangkap, akan bersesuaian dengan kuantitas gerak rangkap.”

Dan segera di bawahnya mereka mengatakan:

Vis viva atau energi kinetik sebuah benda yang bergerak adalah proporsional dengan massa dan kuadrat kecepatan secara bersama-sama.”

Kedua ukuran gerak yang bertentangan itu telah disejajarkan dalam bentuk yang sangat mencolok ini. Tidak dilakukan sedikitpun usaha untuk menjelaskan pertentangan (kontradiksi) itu, atau bahkan untuk menyamarkannya. Dalam buku kedua orang Skotlandia ini , berpikir dilarang, hanya perhitungan yang diizinkan. Tidak mengherankan bahwa sekurang-kurangnya seorang dari mereka, Tait, dianggap sebagai salah-seorang Kristiani yang paling saleh dari Skotlandia yang saleh.

Dalam Vorlesungen über mathematische Mechanik, Korchhoff, tidak terdapat formula mv dan mv² itu dalam bentuk ini. Berangkali Helmholtz akan membantu kita. Dalam karyanya, Erhaltung der Kraft57) ia menyarankan pengungkapan vis viva dengan

mv²

—- = a titik

2

Tentang ini kita kelak akan kembali. Kemudian di halaman 20 et.seq., ia dengan singkat menyebutkan kasus-kasus di mana sejauh ini azas mengenai konservasi vis viva (yaitu dari mv²/2) sudah digunakan dan diakui. Termasuk di situ di bawah No.2 adalah

“transferensi gerak-gerak oleh benda-benda beku dan cair yang tidak terkempa, sejauh tidak terjadi pergesekan (friksi) atau impakt materi-materi non-elastik. Untuk kasus-kasus ini azas umum kita lazimnya diungkapkan dalam ketentuan bahwa gerak yang disebarkan dan diubah oleh daya-daya mekanikal selalu berkurang dalam intensitas daya dalam proporsi sama dengan peningkatannya dalam kecepatan. Jika, karenanya, kita membayangkan sebuah bobot m diangkat dengan kecepatan c oleh sebuah mesin di mana suatu daya pelaksana kerja dihasilkan secara seragam oleh sesuatu proses, maka dengan suatu pengaturan mekanikal yang berbeda, bobot nm dapat diangkat, namun hanya dengan kecepatan c/n, sehingga dalam kedua kasus itu kuantitas daya tensil (renggang/rentang) yang dihasilkan oleh mesin dalam unit waktu diwakili oleh mgc, di mana g adalah intensitas dari daya gravitasional itu.” [hal. 21]58)

Demikianlah, juga di sini kita menjumpai kontradiksi bahwa suatu_ intensitas daya _yang berkurang dan bertambah dalam proporsi sederhana dengan kecepatan itu, mesti berlaku sebagai bukti bagi konservasi suatu intensitas daya yang berkurang dan bertambah dalam proporsi dengan kuadrat kecepatan itu.

Bagaimanapun, telah terbukti di sini, bahwa mv dan mv²/2 berlaku untuk menentukan dua proses yang sangat berbeda, tetapi kita jelas mengetahui bahwa lama berselang, bagi_ mv² tidak mungkin menyamai mv, kecuali jika v=1. Yang mesti dilakukan yalah membikin jelas mengapa gerak mesti mempunyai suatu ukuran rangkap, suatu hal yang jelas sama tidak-diperkenankan di dalam ilmu pengetahuan seperti dalam perdagangan. Maka, marilah kita mencobanya dengan cara lain.

Maka, dengan mv diukurlah “suatu gerak yang disebarkan dan diubah oleh daya-daya mekanikal”; karena itu ukuran ini berlaku bagi pengungkil dan semua bentuk derivatifnya, bagi roda-roda, sekrup, dsb., singkatnya, untuk semua perme-sinan bagi transferensi gerak. Tetapi, dari suatu pertimbangan sederhana namun sama sekali tidak baru, menjadilah jelas bahwa sejauh mv berlaku di sini, demikian pula keberlakuan mv². Mari kita ambil sesuatu penemuan mekanikal di mana jumlah-jumlah lengan-lengan pengungkil di kedua sisinya saling berhubungan pada 4:1, di mana, karenanya, suatu bobot dari 1 kg. menahan suatu bobot 4 kg. dalam keseimbangan. Maka, dengan suatu penambahan daya yang sangat tidak berarti pada satu lengan pengungkil itu, kita dapat mengangkat 1 kg. hingga 20 meter; daya tambahan yang sama itu, bila dikenakan pada lengan lainnya dari pengungkil itu, mengangkat 4 kg. sejarak 5 meter, dan bobot yang lebih memberati turun dalam waktu yang sama yang diperlukan bagi bobot yang lain untuk naik. Massa dan kecepatan secara terbalik proporsional satu sama lain; mv, 1 X 20 = m’v’, 4 X 5. Sebaliknya, jika kita biarkan masing-masing bobot itu, setelah terangkat, jatuh secara bebas pada jenjang aslinya, maka yang satu, 1 kg., setelah jatuh sejarak 20 meter (percepatan yang dikarenakan gravitas diberikan dalam angka-angka bulat = 10 meter gantinya 9,81 meter), mencapai suatu kecepatan 20 meter; yang satunya lagi, 4 kg., setelah jatuh sejarak 5 meter, mencapai suatu kecepatan 10 meter.59)

mv² = 1 X 20 X 20 = 400 = m’v’² = 4 X 10 X 10 = 400.

Di lain pihak waktu-waktu jatuh (turun) itu berbeda-beda: yang 4 kg. menempuh 5 meter mereka dalam 1 detik, yang 1 kg. menempuh 20 meternya dalam 2 detik. Gesekan dan perlawanan udara sudah tentu tidak/belum diperhitungkan di sini.

Tetapi, setelah kedua benda itu masing-masing jatuh dari ketinggiannya, geraknya berhenti. Maka itu, mv tampak di sini sebagai ukuran gerak mekanikal yang dialihkan secara sederhana, yaitu yang berarti kekal, dan mv² sebagai ukuran dari gerak mekanikal yang menghilang.

Selanjutnya, hal serupa berlaku bagi impakt benda-benda yang secara sempurna bersifat elastik: jumlah kedua-duanya, yaitu dari mv dan dari mv² tidak berubah sebelum dan sesudah impak. Kedua-dua ukuran memiliki kesahihan sama.

Tidak demikian halnya pada impakt benda-benda non-elastik. Juga di sini, buku-buku pelajaran elementer yang dipakai (ilmu mekanika lebih tinggi nyaris tidak berurusan/menghiraukan lagi hal-hal yang remeh seperti itu) mengajarkan bahwa pada sebelum dan sesudah impakt, jumlah mv itu tetap sama. Di lain pihak terjadilah kehilangan vis viva, karena jika jumlah mv² pada sesudah impakt dikurangkan dari jumlah mv² pada sebelum impak, maka dalam segala keadaan terdapatlah sisa/tinggalan positif. Dengan jumlah ini (atau separohnya,menurut sudut pandangan) vis viva itu berkurang disebabkan oleh saling-penyusupan maupun oleh perubahan bentuk benda-benda yang bertubrukan itu.–Yang tersebut belakangan itu kini jelas dan gamblang, namun tidak demikianlah anggapan/pernyataan bahwa jumlah mv tetap sama pada sebelum dan sesudah impak. Apapun yang dikatakan Suter, vis viva adalah gerak, dan apabila sebagian darinya hilang, gerak hilang pula. Sebagai konsekuensinya, mv itu di sini atau secara tidak tepat mengungkapkan/menyatakan/mengekspresikan jumlah gerak (die Bewegungsmenge), atau pernyataan di atas itu tidaklah benar adanya. Pada umumnya, seluruh teorem itu telah diwariskan dari suatu periode ketika masih belum ada persangkaan mengenai transformasi gerak; ketika, karenanya, menghilangnya gerak mekanikal hanya diakui jika tidak ada jalan keluar (jawaban/keterangan) lain. Demikianlah, di sini kesamaan jumlah mv pada sebelum dan sesudah impakt dianggap terbukti oleh kenyataan bahwa tidak terjadinya kehilangan atau perolehan pada jumlah ini, belum diintroduksikan. Namun, apabila benda-benda itu kehilangan vis viva dalam friksi (gesekan) internal sesuai ketidak-elastikan mereka, mereka juga kehilangan kecepatan, dan jumlah mv sesudah impak mesti lebih kecil daripada sebelumnya. Karena tidaklah mungkin mengabaikan pergesekan internal dalam memperhitungkan mv, apabila pergesekan itu menyatakan dirinya secara begitu jelas dalam memperhitungkan mv².

Tetapi ini tidaklah menjadi soal. Bahkan jika kita mengakui teorem itu, dan memperhitungkan kecepatan sesudah impak, berdasarkan anggapan bahwa jumlah mv masih tetap sama, pengurangan jumlah mv² itu tetap diketemukan. Karenanya, di sini, mv dan mv² berkonflik, dan itu disebabkan oleh perbedaan gerak mekanikal yang telah benar-benar (aktual) menghilang. Lagi pula, kalkulasi itu sendiri menunjukkan bahwa jumlah mv² menyatakan jumlah gerak itu secara tepat, sedangkan jumlah mv menyatakannya secara tidak tepat.

Demikian itulah nyaris semua kasus di mana mv dipergunakan dalam ilmu mekanika. Mari kita sekarang melihat beberapa kasus di mana mv² dipergunakan.

Apabila sebuah peluru meriam ditembakkan, lintasannya menghabiskan sejumlah gerak yang proporsional dengan mv², tak-peduli apakah ia menghadapi sebuah sasaran beku atau terhenti dikarenakan perlawanan udara dan gravitasi. Jika sebuah (serangkaian) kereta api menghantam serangkaian kereta api lain yang sedang berhenti (stasioner), maka kerasnya benturan itu dan kerusakan yang ditimbulkannya adalah proporsional dengan mv²nya. Demikian pula, mv² berguna setiap kali diperlukan untuk memperhitungkan daya mekanikal yang diperlukan untuk menanggulangi suatu perlawanan.

Tetapi, apakah maknanya kalimat yang memudahkan ini, yang begitu berlaku di dalam ilmu mekanika: menanggulangi perlawanan?

Apabila kita mengatasi perlawanan gravitasi dengan mengangkat sesuatu bobot, menghilanglah sejumlah gerak, sejumlah daya mekanikal, yang setara dengan yang dapat diproduksi kembali oleh jatuhnya secara langsung atau tidak langsung nbobot yang diangkat itu dari ketinggian yang dicapai kepada jenjang (tingkat) aslinya. Jumlah itu diukur dengan setengah produk massa dan kuadrat kecepatan final setelah jatuhnya itu,

mv²

2

Lalu apakah yang terjadi dengan diangkatnya bobot itu? Gerak mekanikal, atau daya, telah menghilang. Tetapi ia tidaklah dihapuskan/dilenyapkan; ia telah diubah menjadi daya tegangan mekanikal, dengan menggunakan ungkapan Helmholtz; menjadi energi potensial, sebagaimana dikatakan oleh golongan modern; menjadi ergal sebagaimana Clausius menamakannya; dan ini, setiap saat, dengan cara mekanikal apa saja yang sepadan, dapat diubah kembali menjadi jumlah gerak mekanikal yang sama sesuai yang diperlukan untuk memproduksinya. Energi potensial hanyalah ungkapan negatif dari vis viva, dan vice versa.

Sebuah peluru meriam seberat 24 lb. yang bergerak (meluncur/melesat) dengan suatu kecepatan 400 meter per detik, menghantam badan-berlapis-baja yang satu meter tebalnya dari sebuah kapal-perang dan dalam kondisi-kondisi ini tampaknya tidak mempunyai akibat pada lapisan-baja itu. Sebagai konsekuensinya, sejumlah gerak mekanikal telah menghilang yang sama dengan:

mv²

—-, yaitu (karena 24 lbs.=12 Kg.)_60)_ = 12X400X400X0,5 = 960.000 kg-m

2

Apakah yang terjadi dengannya? Setakaran kecil telah dihabiskan dalam benturan dan perubahan molekular lapisan-baja itu. Setakaran kedua hilang pula dalam hantaman-menghancurkan peluru meriam itu menjadi pecahan-pecahan yang tiada terhitung banyaknya. Tetapi bagian terbesar telah diubah menjadi panas dan menaikkan suhu peluru meriam itu menjadi panas yang menganga-merah. Pada waktu orang-orang Prussia, dalam melakukan penyeberangan ke Alsen pada tahun 1864, mengerahkan/menggunakan meriam-meriam berat mereka terhadap pertahanan berlapis-baja Rolf Krake,61) sesudah setiap tembakan yang mengena, dalam kegelapan malam itu mereka melihat nyala yang dihasilkan dadakan-pijar tembakan. Bahkan sebelumnya, Whitworth telah membuktikan berdasarkan eksperimen, bahwa peluru-peluru ledak tidak memerlukan detonator jika dipakai terhadap kapal-kapal perang berlapis baja; baja yang memijar itu sendiri yang menyalakan muatan itu. Dengan menetapkan ekuivalen (kesetaraan) mekanikal dari satuan panas itu 424 kg.- meter, maka jumlah panas sesuai jumlah gerak mekanikal tersebut di atas adalah 2,264 satuan (unit). Panas spesifik dari besi = 1/0.1140; artinya, jumlah panas yang menaikkan suhu 1 kg. air dengan 1°C.(yang berlaku sebagai satuan panas) cukup untuk mengangkat suhu dari 1/0.1140 = 8.772 kg. besi dengan 1°C. Karenanya, 2.264 satuan panas tersebut di atas mengangkat suhu 1 kg. besi dengan 8.772 X 2,264 = 19.860° atau 19.860 kg. besi dengan 1°C. Karena jumlah panas ini terbagi secara seragam di dalam lapisan-baja kdan tembakan itu, maka suhu yang tersebut belakangan telah dinaikkan suhunya dengan

19.860°

———————- = 828°

2 X 12

berarti mencapai suatu tinggi/derajat panas yang menganga. Tetapi, karena ujung penghantam yang paling depan dari tembakan itu bagaimanapun menerima bagian yang jauh lebih besar dari panas itu, pasti dua-kali lipat daripada dari separoh bagian belakangnya, maka yang tersebut terdahulu akan dinaikkan hingga suatu suhu 1.104°C. dan yang tersebut belakangan hingga 552°C., yang akan cukup sekali untuk menjelaskan efek pijaran-menganga itu, kalaupun kita membuat suatu deduksi besar bagi kerja mekanikal sebenarnya yang dihasilkan/diperagakan pada impak.

Gerak mekanikal juga menghilang dalam pergesekan (friksi), untuk muncul kembali sebagai panas; sudah sangat diketahui, dengan kemungkinan pengukuran yang paling cermat dari kedua proses yang saling bersesuaian, Joule di Manchester dan Colding di Kopenhagen adalah yang pertama membuat pengukuran yang kurang-lebih eksperimental atas kesetaraan panas mekanikal.

Hal yang sama berlaku dalam produksi suatu arus listrik dalam sebuah mesin magneto-elektrikal dengan jalan daya mekanikal, yaitu, dari sebuah mesin uap. Jumlah dari yang disebut daya elektro-motif yang diproduksi dalam suatu jangka waktu tertentu adalah proporsional dengan jumlah gerak mekanikal yang dihabiskan dalam periode yang sama, menjadi setara dengannya jika dinyatakan dalam satuan-satuan (units) yang sama. Kita dapat membayangkan gerak mekanikal ini diprodiuksi, bukan dengan sebuah mesin-uap, tetapi dengan suatu bobot yang tenggelam (jatuh/turun) di bawah tekanan gravitas. Daya mekanikal yang dapat disuplainya diukur dengan vis viva yang akan diperolehnya dengan jatuhnya secara bebas melalui jarak yang sama, atau dengan daya yang diperlukan untuk mengangkatnya kembali pada ketinggian aslinya; dalam kedua-dua kasus

mv²

2

Maka kita dapatkan bahwa gerak mekanikal memang benar mempunyai suatu ukuran rangkap, tetapi juga bahwa masing-masing dari ukuran-ukuran itu berlaku pula bagi serangkaian gejala yang didemarkasi secara sangat tertentu. Apabila gerak mekanikal yang sudah ada ditransfer sedemikian rupa sehingga ia tetap sebagai gerak mekanikal, maka transferensi itu terjadi secara proporsional dengan produk massa dan kecepatan (velocity). Namun, apabila ia ditransfer sedemikian rupa sehingga ia menghilang sebagai gerak mekanikal agar muncul kembali dalam bentuk energi potensial, panas, listrik, dsb., singkatnya, apabila ia diubah menjadi suatu bentuk gerak yang lain, maka jumlah dari gerak bentuk baru ini adalah proporsional dengan produk dari massa yang aslinya bergerak dan kuadrat dari kecepatan. Singkatnya, mv adalah gerak mekanikal yang diukur dengan gerak mekanikal;

mv²

2

adalah gerak mekanikal yang diukur dengan kapasitasnya untuksuatu jumlah tertentu dari bentuk gerak lain. Dan, sebagaimana telah kita lihat, kedua ukuran ini, karena berbeda, tidak berkontradiksi satu sama lain.

Dari sini menjadilah jelas, bahwa pertengkaran Leibniz dengan kaum Cartesian sama sekali bukanlah sekedar disput verbal, dan bahwa, sesungguhnya, “amanat kerajaan” d’Alembert sama sekali tidak menyelesaikan apapun. D’Alembert semestinya dapat membebaskan dirinya dari semburan kata-kata marah mengenai ketidak-jelasan pendahulu-pendahulunya, karena dirinya sendiri sama tidak- jelasnya seperti mereka itu. Sebenarnya, selama tidak diketahui apa yang terjadi dengan gerak mekanikal yang tampaknya dilenyapkan itu, ketiadaan kejelasan tidak dapat dihindarikan. Dan selama para ahli mekanik matematikal seperti Suter terus terkurung oleh ke empat dinding ilmu-pengetahuan istimewa mereka, tidak bisa tidak mereka mesti tetap tidak-jelas seperti d’Alembert dan untuk menyesatkan kita dengan kalimat-kalimat kosong dan kontradiktorik.

Tetapi, bagaimanakah ilmu mekanika modern mengungkapkan perubahan gerak mekanikal ini menjadi suatu bentuk gerak lain, yang proporsional dalam kuantitas dengan yang tersebut terlebih dulu?–Ia telah melaksanakan kerja, dan memang sejumlah kerja tertentu.

Tetapi ini tidak menguras habis konsep tentang kerja dalam makna fisikal kata itu. Jika, seperti dalam sebuah mesin-uap atau mesin panas, panas diubah menjadi gerak mekanikal, yaitu, gerak molekular diubah menjadi gerak massa, jika panas membongkar suatu majemuk kimiawi, jika ia berubah menjadi listrik dalam sebuah termopil (thermopile), jika suatu arus listrik membebaskan unsur-unsur air dari asam-sulfurik yang dicairkan/ditipiskan, atau, secara terbalik, jika gerak (alias energi) yang dibebaskan dalam proses kimiawi dari sebuah sel pembangkit (generating) mengambil bentuk listrik dan ini dalam sirkuit tertutup diubah kembali menjadi panas–dalam semua proses ini, bentuk gerak yang memulai proses itu, dan yang diubah olehnya menjadi suatu bentuk lain, pelaksanakan kerja, dan memang suatu jumlah kerja yang bersesuaian dengan kata-katanya sendiri.

Karenanya, kerja adalah perubahan bentuk gerak yang dipandang dalam aspek kuantitatifnya.

Tetapi bagaimana presisnya? Jika sebuahb bobot yang terangkat tetap terkatung dan diam, adakah energi potensialnya selama periode diam juga suatu bentuk dari gerak? Jelas. Bahkan Tait telah sampai pada keyakinan bahwa energi potensial selanjutnya dipecahkan menjadi suatu bentuk gerak-aktual (Nature)63). Dan, kecuali itu, Kirchhoff menyatakan lebih jauh lagi dengan mengatakan (Math. Mech. hal.32)63):

“Diam (rest) adalah suatu kasus khusus mengenai gerak,”

dan dengan demikian membuktikan bahwa ia tidak hanya bisa memperhitungan (calculate) melainkan juga dapat berpikir secara dialektikal.

Maka itu, dengan suatu pembahasan mengenai kedua ukuran gerak mekanikal, secara kebetulan, mudah, dan nyaris dengan sendirinya, kita telah sampai pada konsep mengenai kerja, yang digambarkan pada kita sebagai sesuatu yang begitu sulit untuk difahami tanpa mekanika matematikal. Betapapun, kita kini mengetahui lebih banyak mengenainya daripada dari ceramah Helmholtz Über die Erhaltung der Kraft (1862), yang justru dimaksudkan

“membuat sejelas mungkin konsep-konsep fisikal mendasar mengenai kerja dan kekekalannya.”

Segala yang kita ketahui di situ mengenai kerja yalah bahwa ia adalah sesuatu yang diungkapkan dalam pon-kaki (foot-pounds) atau dalam satuan-satuan panas, dan bahwa jumlah pon-kaki atau satuan panas itu tidak bervariasi untuk suatu kuantitas kerja tertentu; dan, selanjutnya, bahwa di samping daya-daya mekanikal dan panas, daya-daya kimiawi dan elektrik dapat melaksanakan kerja, tetapi bahwa semua daya ini menghabiskan kapasitas mereka untuk kerja hingga sejauh mereka benar-benar menghasilkan kerja. Kita juga mengetahui dari sini, bahwa jumlah semua kuantitas kerja yang efektif di dalam alam sebagai suatu keseluruhan tetap kekal dan tetap sama selama seluruh perubahan yang terjadi dalam alam. Konsep mengenai kerja itu tidak dikembangkan, ataupun bahkan ditentukan.*) Dan adalah justru ketetapan (invariability) kuantitatif kebesaran kerja yang menghalanginya untuk menyadari bahwa perubahan kualitatif, perubahan bentuk, adalah syarat dasar bagi semua kerja fisikal. Dengan begitu Helmholtz sampai sejauh menyatakan bahwa

“gesekan (friksi) dan impak tidak elastik adalah proses- proses di mana kerja mekanikal dihancurkan, dan panaslah yang diproduksi sebagai gantinya.” (Pop.Vortr., II, hal. 166)

Justru sebaliknya. Di sini kerja mekanikal tidak dihancurkan, di sini kerja mekanikal dilaksanakan. Adalah gerak mekanikal yang kelihatannya di hancurkan. Tetapi, gerak mekanikal tidak pernah dapat melaksanakan bahkan se-per-juta bagian dari se-kilogram-meter kerja, tanpa kelihatannya dihancurkan, tanpa berubah menjadi suatu bentuk gerak lain.

Tetapi, seperti telah kita ketahui, kapasitas untuk kerja yang dikandung dalam suatu jumlah gerak mekanikal tertentu adalah yang diketahui sebagai vis viva-nya, dan hingga tidak lama berselang diukur dengan mv². Namun, di sini timbul suatu kontradiksi baru. Mari kita mendengarkan Helmholtz. (Erhaltung der Kraft, hal.9) Di situ kita membaca bahwa kebesaran (magnitude) kerja dapat dinyatakan dengan suatu bobot m yang diangkat hingga suatu ketinggian h, ketika, apabila daya gravitas ditentukan sebagai g, maka kebesaran kerja =mgh. Bagi benda m untuk naik secara bebas pada ketinggian vertikal h, diperlukan suatu kecepatan v = Å 2gh, dan ia mencapai kecepatan yang sama pada waktu jatuh.

Konsekuensinya, mgh =

mv²

2

dan Helmholtz menyarankan

untukmenjadikan magnitude mv²/2 sebagai kuantitas vis viva, dan dengan begitu ia menjadi identikal dengan ukuran kebesaran kerja. Dari sudut pandang mengenai bagaimana konsep vis viva telah diterapkan hingga sekarang… perubahan ini tidak penting, tetapi ia akan menawarkan keuntungan-keuntungan (kemudahan-kemudahan) mendasar di masa mendatang.”

Sungguh sulit untuk dipercaya. Pada tahun 1847, Helmholtz begitu kabur mengenai saling hubungan vis viva dan kerja, sehingga ia bahkan gagal memperhatikan bagaimana ia mentransformasi ukuran vis viva yang sebelumnya proporsional menjadi ukuran mutlaknya, dan tetap tidak menyadari penemuan penting yang dilakukannya dengan pendekatannya yang berani, merekomendasikan mv²/2-nya hanya dikarenakan kemudahannya jika dibandingkan dengan mv²! Dan adalah karena masalah kemudahan itu para ahli mekanika secara umum memberlakukan mv²/2. Hanya secara berangsur-angsur mv²/2 juga dibuktikan secara matematikal Naumann (Allg. Chemie, hal.7) memberikan sebuah bukti aljabraik, Clausius (Mech. Wämetheorie, 2.Aufl., I, hal.18), sebuah bukti analitik, yang kemudian mesti dijumpai dengan suatu bentuk lain dan dengan suatu metode deduksi yang berbeda di dalam Kirchhoff (loc.cit., hal. 27). Clerk Maxwell (loc.cit.,hal.88) memberikan sebuah deduksi aljabraik yang canggih pada mv² dari mv. Ini tidak menghalangi kedua orang Skitlandia kita, Thomson dan Tait, untuk menyatakan (loc.cit., hal. 163):

Vis Viva itu, atau energi kinetik, dari sebuah benda yang bergerak adalah proporsional dengan massa dan kuadrat kecepatan secara bersama-sama. Apabila kita ambil satuan-satuan massa dan kecepatan yang sama seperti sebelumnya (yaitu, satuan massa yang bergerak dengan satuan kecepatan), terdapatlah keuntungan khusus dalam menentukan energi kinetik sebagai separuh produk massa dan kuadrat kecepatannya.”

Karenanya, di sini kita mendapati bahwa tidak hanya kemampuan untuk berpikir, melainkan juga untuk memperhitungkan, telah sampai pada suatu kemandegan bagi dua ahli mekanika yang paling terkemuka dari Skotlandia. Keuntungan khusus itu, kemudahan formula itu, telah menuntaskan segala sesuatu dengan cara yang paling indah.

Bagi kita, yang telah mengetahui bahwa vis viva tidak lain cuma kapasitas sejumlah gerak mekanikal tertentu–dalam istilah-istilah mekanikal–untuk melaksanakan kerja, jelaslah darinya, bahwa ungkapan mengenai kapasitas untuk kerja dan kerja yang benar-benar dilaksanakannya oleh yang tersebut belakangan mesti sama satu sama lainnya; dan bahwa, sebagai konsekuensinya, apabila mv²/2 mengukur kerja itu, maka vis viva mesti juga diukur dengan mv²/2. Tetapi, itulah yang terjadi dalam ilmu pengetahuan.

Ilmu mekanika teoretikal sampai pada konsep vis viva, mekanika praktikal para insinyur sampai pada konsep mengenai kerja dan memaksakan itu pada para ahli teori. Dan, tenggelam dalam perhitungan-perhitungan mereka, para ahli teori telah menjadi sedemikian terbiasa dalam berpikir bahwa selama bertahun-tahun mereka telah gagal mengenali hubungan antara kedua konsep itu, mengukur yang satu dengan mv², dan yang lainnya dengan mv²/2, dan akhirnya menerima mv²/2 untuk kedua-duanya, tidak karena pemahaman, melainkan demi kesederhanaan kalkulasi!**)

Catatan:

*) Kita tidak mencapai apapun dengan berkonsultasi pada Clerk Maxwell. Ia mengatakan (Theory of Heat, Edisi ke IV, London, 1875, hal.87): “kerja dilaksanakan ketika perlawanan ditanggulangi,” dan pada hal. 87, “Energi sebuah benda adalah kapasitasnya untuk melakukan kerja.” Itulah semuanya yang kita ketahui tentangnya.

**) Kata “work” dan ide yang sesuai dengannya diderivasi dari para insinyur Inggris. Tetapi dalam bahasa Inggris, kerja praktikal disebut “work,” sedangkan kerja dalam arti ekonomi disebut “labour.” Karena itu, kerja fisikal juga diistilahkan “work,” dan dengan begitu memustahilkan segala kekacauan dengan kerja dalam arti ekonomi. Tidak demikian halnya di Jerman; maka itu telah dimungkinkan dalam literatur semu-ilmiah membuat berbagai aplikasi kerja dalam arti fisikal pada kondisi-kondisi ekonomikal mengenai labour dan vica versa. Tetapi ada juga kata Werk yang, seperti kata Inggris work, secara bagus sekali diadaptasi untuk menandakan kerja fisikal. Ekonomi, namun, karena menjadi bidang yang terlampau jauh dari para ilmuwan alam kita, sehingga mereka nyaris tidak akan memperkenalkan itu untuk menggantikan kata Arbeit, yang sudah memperoleh keberlakuan umum — kecuali, barangkali, jika hal itu sudah terlambat sekali. Hanya Clausius yang telah mencoba mempertahankan ungkapan “Werk“, sekurang-kurangnya disamping ungkapan “Arbeit.”

By Abdi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s