Konsep Reformasi Dalam Perspektif Ikhwanul Muslimin~Penjelasan seputar Sikap Dakwah dan Politik Jamaah ~ Sikap Jamaah Terhadap Mazhab-mazhab dan Aliran-aliran


Sikap Jamaah terhadap mazhab-mazhab dan aliran-aliran:

Imam Syahid menghadapi slogan-slogan, aliaran dan mazhab-mazhab pemikiran yang tersebar di masyarakat, beliau tidak memandang remeh hal itu, atau hanya mengekor di belakangnya, namun ia menghadapinya dengan sangat jelas dan berpegang teguh dengan nilai-nilai Islam, dan menetapkan sikap jamaah dengan landasan ini, ia tidak terpedaya dengan ucapan-ucapan dan istilah yang menipu, ia bahkan mengetahui substansi dan muatannya, dimana ia mampu menyebutkan sisi positif dan sisi negatifnya, serta bersandar pada sisi kemanfaatan, dan menghindar dari sisi-sisi yang mengandung bahaya, bahkan ia sampai pada tahap menyadarkan umat terhadap apa yang sedang mengancam dan yang dihadapinya, termasuk menolak para penganut aliran-aliran tersebut dan berupaya memuaskan mereka dengan pemahaman dan manhaj Islam, dan ini merupakan asas dan titik tolak dalam setiap urusan atau pemikiran:

– Terhadap Nasionalisme dan Kesukuan:

Ikhwanul Muslimin adalah orang yang paling kuat menjaga negerinya, merasa bangga dengan kebangsaannya, dan hal itu dalam koridor ajaran Islam. Imam Syahid kadang-kadang membatasi dan kadang-kadang meluaskan makna kebangsaan dan makna bangsa. Beliau juga memaparkan sisi-sisi yang keliru dan menyimpang dari ajaran Islam dan memperingatkan dari hal itu:

1. Imam Syahid berkata, “Umat yang tengah bangkit membutuhkan rasa bangga terhadap bangsa-nya; bangga sebagai umat yang utama dan mulia, yang memiliki berbagai keistimewaan dan perjalanan sejarahnan indah, sehingga kebanggaan ini akan ternanam pula dalam jiwa generasi penerusnya. Dengan kebanggaan itu, mereka siap mempertahankan kehormatan bangsanya serta siap menebusnya meski dengan mengalirkan darah dan mengorbankan nyawa. Mereka siap berkarya nyata demi kejayaan tanah airnya, mempertahankan kehormatannya, serta menciptakan kebahagiaan masyarakatnya.

Doktrin ‘rasa bangga’ terhadap bangsa yang seperti ini –dengan keadilan, keutamaan, dan kelembutan perasaannya- tidak kita dapatkan pada ideologi manapun kecuali dalam Islam yang hanif ini. Kita (umat Islam) adalah bangsa yang mengetahui secara persis bahwa kehormatan dan kemuliaan kita disakralkan Allah melalui ilmu-Nya dan diabadikan dalam Al Quran dengan firman-Nya:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia”. (Ali Imron: 110)

Oleh karena itu, mestinya kita pula yang paling pantas untuk mempersembahkan pengorbanan –dengan dunia dan seisinya- dalam rangka mempertahankan kehormatan yang rabbani ini.

2. Adapun tentang perbedaan antara kebangsaan dalam Islam dengan yang lain, Imam Syahid menjelaskan, “Sebenarnya, bangsa-bangsa modern zaman ini telah pula berhasil menanamkan doktrin semacam ini kepada jiwa para pemuda, para tokoh, dan anggota masyarakatnya. Namun ada perbedaan yang mencolok antara masyarakat yang terpola oleh nilai-nilai Islam dengan masyarakat yang didoktrin oleh slogan-slogan seperti ini, yakni rasa kebanggaan orang muslim merupakan perasaan yang melambung tinggi sehingga menyatu dengan Allah Swt. Akan halnya rasa kebanggaan mereka, dia hanya sampai pada batas doktrin tersebut. Lebih dari itu Islam memberikan batasan bagi tujuan diciptakannya perasaan ini, sehingga mendorong kuatnya komitmen padanya dan menjelaskan bahwa ia bukan fanatisme buta atau kebanggaan yang semu. Ia adalah rasa bangga sebagai pemimpin dan pemandu dunia menuju kehidupan yang baik dan sejahtera.

Karena firman Allah Swt. berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali Imran: 110)

Ayat ini mengandung maksud: dukungan kita terhadap keutamaan, pernyataan perang terhadap setiap kehinaan, penghormatan terhadap nilai-nilai yang luhur, serta komitmen untuk selalu melakukan kontrol atas setiap aktivitas.

Karena itu, jiwa kepemimpinan bangsa muslim terdahulu berhasil menciptakan sikap adil dan kasih sayang yang sempurna dan paling ideal, yang pernah dilahirkan oleh sebuah umat.

Adapun prinsip-prinsip kepemimpinan yang tertanam di jiwa bangsa-bangsa Barat, ia tidak memiliki batasan tujuan yang jelas kecuali fanatisme yang rancu. Oleh karenanya, kebanggaan mereka justru membangkitkan sikap permusuhan dari bangsa-bangsa lain yang lemah.

3. Imam Syahid berkata, “Adapun pemahaman Ikhwanul Muslimin terhadap nasionlaisme, maka cukuplah anda mengetahuinya dengan membaca kalimat berikut: Bahwa mereka meyakini dengan seyakin-yakinya bahwa mengabaikan sejengkal tanah milik seorang muslim yang terjajah, merupakan kejahatan yang tak bisa dimaafkan, hingga kita mampu mengembalikannya atau binasa karena mempertahankannya. Dan mereka tidak akan mendapatkan keselamatan dari Allah, kecuali dengan menunaikan hal ini.”

Dan kita wajib “Memahamkan manusia bahwa politik, kebebasan, kebanggaan adalah bagian dari perintah Al Quran dan sesungguhnya mencintai tanah air adalah bagian dari keimanan.”

Mereka menebus tanah airnya dengan harta dan jiwa mereka, dan selalu menjaga kebebasan dan kemerdekaannya.

Imam Syahid berkata, “Jika kami dizalimi oleh Negara manapun –dan kami berada di negeri sendiri- maka setiap jengkal dari tanah Mesir yang mahal akan ditebus dengan darah, jiwa, harta dan putera-puteri negeri ini, dan pada saat itu Ikhwanul Muslimin telah mempersiapkan diri dengan sempurna untuk menambah persediaan negeri ini dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya, jiwa dan raga.”

4. Imam Syahid berkata, “Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin sangat menghormati kebangsaan sebagai landasan utama untuk mewujudkan kebangkitan yang dicita-citakan, dan mereka tidak melihat kecelaan bagi siapa saja yang bekerja untuk tanah airnya, dan mengutamakan negerinya dari yang lain.”

Merupakan kesalahan jika ada yang menyangka bahwa Ikhwanul Muslimin apatis terhadap masalah kenegaraan dan nasionalisme. Kaum muslimin adalah orang-orang yang paling ikhlas berkorban bagi Negara, mau berkhidmat kepadanya, dan menghormati siapa saja yang mau berjuang dengan ikhlas dalam membelanya.

Anda tahu sampai sebatas mana mereka paham tentang nasionalisme mereka dan kemuliaan macam apakah yang mereka inginkan untuk umatnya.

Namun, perbedaan prinsipil antara kaum muslimin dengan kaum yang lainnya dari para penyeru nasionalisme murni adalah asas bahwa asas nasionalisme Islam itu akidah islamiyah. Oleh karenanya, mereka pun beraktivitas untuk Negara seperti Mesir, berjuang dan berkorban demi eksistensinya, dan bahkan banyak dari mereka yang gugur dalam perjuangan ini, karena bagi mereka Mesir ini adalah bumi Islam dan pemimpin umat-umatnya.

Perasaan (anggapan) seperti ini tidak hanya terhadap Mesir saja, tapi juga untuk seluruh bumi Islam, untuk seluruh negeri kaum muslimin. Sementara penyeru nasionalisme murni berhenti hanya sebatas negaranya saja. Ia tidak pernah merasakan adanya kewajiban membela Negara sekedar taklid kepada pendahulu, atau ambisi ingin meraih popularitas, atau ingin mengejar prestise, atau kepentingan tertentu yang lain. Mereka berbuat bukan karena kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah atas hamba-hamba-Nya.

Imam Syahid menegaskan bahwa akidah Islam merupakan asas nasionalisme dan rasialisme, dan beliau menegaskannya secara berulang-ulang. Ia berkata, “Tidak dibolehkan di dalam Islam, faktor kebangsaan lebih kuat dari ikatan keimanan.”

“Ikatan akidah, bagi kami adalah ikatan yang paling suci dari ikatan darah dan ikatan se-tanah air.”

Kawasan dunia Islam sangat luas, yang menembus sekat wilayah dan batas-batas geografis, menuju prinsip-prinsip yang mulia dan akidah yang murni dan benar.”

Setiap muslim meyakini bahwa setiap jengkal tanah di bumi yang terdapat seorang akh yang memegang Al Quran di tangannya, merupakan bagian dari bumi Islam, yang setiap putera-puterinya diwajibkan oleh Islam untuk menjaga dan memakmurkannya.”

5. Imam Syahid menambahkan penjelasannya dengan mengatakan, “Islam telah memperluas batasan “tanar air Islam”, dan mewasiatkan kepada putera-puterinya agar berkarya demi kebaikannya serta siap berkorban demi mempertahankan kemerdekaan dan kehormatannya.

– Tanah air dalam pengertian Islam menyangkut hal-hal sebagai berikut:

* Wilayah geografis secara khusus

* Kemudian meluas ke berbagai negeri Islam, karena bagi setiap muslim negeri-negeri itu adalah tanah air dan kampung halamannya.

* Lalu melebar ke berbagai bekas wilayah daulah Islamiyah, yang pernah diperjuangkan dengan darah dan nyawa para pendahulu sehingga berhasil menegakkan panji-panji ilahiyah di sana. Peninggalan sejarah masih mencatat kejayaan dan kegelimangan yang pernah mereka raih pada masa lalu, sehingga setiap muslim akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan mahkamah ilahi tentang wilayah ini, mengapa tidak ada perjuangan untuk mengembalikannya?

* Meluas ke berbagai negeri kaum muslimin sehingga mencakup dunia seluruhnya. Tidakkah kalian mendengar ketika Allah Swt. berfirman:

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfal: 39)

Dengan demikian, Islam memadukan antara perasaan cinta tanah air secara khusus dan cinta tanah air secara umum, dengan segala puncak kebaikannya demi mewujudkan kesejahteraan umat manusia.

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S Al Hujurat: 13)

– Tentang persatuan Arab Islam:

Imam Syahid berkata, “Ikhwanul Muslimin sangat menghormati nasionalisme yang khusus bagi mereka, karena itu merupakan asas pertama untuk menuju kebangkitan yang didambakan. Tidak menjadi masalah jika setiap orang beraktivitas untuk kemaslahatan negaranya. Kemudian, Ikhwan juga mendukung kesatuan Arab, Karena dia merupakan mata rantai kedua dalam mewujudkan kesatuan Islam, karena ia merupakan rangkaian sempurna bagi munculnya Negara Islam yang integral.

“Setelah penjelasan ini, saya tidak segan-segan untuk mengatakan bahwa tidak ada yang bertentangan antara berbagai kesatuan di atas dengansudut pandang seperti ini. Setiap kesatuan itu memperkuat posisi kesatuan yang lain dan turut mewujudkan tujuannya.”

Imam Syahid berkata, “Kami meyakini bahwa sesungguhnya ketika kami bekerja untuk kemaslahatan Arab, maka sesungguhnya di waktu yang sama kami bekerja untuk kebaikan Islam dan dunia seluruhnya.”

“Di antara ungkapan yang paling menakjubkan dalam masalah ini adalah apa yang telah dikemukan oleh Rasulullah Saw. tentang makna Arab, dimana beliau memaknainya sebagai bahasa dan lisan. Maka barang siapa yang berbicara dengan bahasa Arab, maka dia adalah Arab.”

Imam Syahid mendukung persatuan dalam pelbagai bentuknya, mendukung keberadaan Liga Arab dan mengoptimalkannya, serta menjadikannya sebagai inti dan titik tolak persatuan Islam yang sempurna. Beliau berkata, “Sekarang, kita berada di depan berbagai situasi internasional yang baru, yang hampir sama dengan masalah yang sedang kita hadapi. Semua itu pada hakikatnya adalah satu masalah saja, yakni penyempurnaan kebebasan dan kemerdekaan, serta menghancurkan semua belenggu penindasan dan imperialisme. Kita harus kembali pada apa yang telah diwajibkan oleh Islam (kepada semua pengikutnya) sejak pertama diturunkan, yakni ketika Islam menjadikan wihdah sebagai salah satu makna dari sekian kandungan makna iman.

Kita harus bersekutu dan bersatu. Kita telah memulai dengan membentuk Liga Arab, kendati ia belum mapan dengan sempurna. Namun, bagaimana pun juga ia merupakan benih yang mulia dan penuh berkah. Oleh karena itu, kita harus membantunya, memperkuat, dan membebaskannya dari segala faktor kelemahan dan kerapuhan. Setelah itu, kita harus berusaha untuk memperluas wilayah cakupannya, sampai tercipta sebuah ikatan bangsa-bangsa muslim, baik Arab maupun non Arab. Saat itulah, dengan izin Allah akan terbebntuk perserikatan umat Islam.”

Beliau juga membatasi ikatan yang menghimpun umat Islam, yaitu ia adalah ikatan Islam saja dan bukan yang lain, “Sesungguhnya kami wahai Ikhwanul Muslimin bukanlah komunis, bukan demokratis dan bukan apapun seperti yang mereka kira, tetapi sesungguhnya kami adalah kaum muslimin.”

– Waspada dari pengaruh dakwah-dakwah yang merusak dan upaya memecah belah umat Islam:

Imam Syahid menolak menjadikan seruan-seruan ini sebagai sarana untuk memecah belah umat Islam, atau melemahkan ikatan antar umat Islam serta menjauhkannya dari manhaj Islam, beliau berkata, “JIka ada sekelompok kaum yang ingin menjadikan nasionalisme Negara sebagai senjata untuk mematikan nasionalisme yang lain, maka Ikhwan tidak akan sependapat dengan mereka. Inilah barangkali perbedaan antara kami dengan manusia-manusia yang lain.

“Tapi jika yang dimaksud dengan kebangsaan adalah menghidupkan tradisi jahiliyah, dan melepaskan diri dari ikatan Islam dan pertautannya dengan dalih nasionalisme, maka hal ini yang kami tolak.”

“Jika yang dimaksud dengan kebangsaan itu adalah membangga-banggakan etnis sampai pada tingkat melecehkan dan memusuhi etnis lain, maka hal ini tidak memiliki hakikat dan tidak memiliki arti sama sekali.”

“Ikhwanul Muslimin tidak percaya pada kebangsaan dalam makna-makna buruk di atas (kebangsaan permusuhan dan kebangsaan jahiliyah). Kami tidak pernah menyerukan Fir’aunisme, Arabisme, Feniqisme, Atau Siariaisme dan lain-lain semacamnya. Tidak juga kepada semua nama dan gelar yang selama ini digembar-gemborkan orang.”

Beliau juga berkata, “Adapun jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme itu adalah memilah umat menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan dan berseteru satu sama lain, atau hanya sebatas batas-batas wilayah geografi yang sempit, maka hal ini yang kami tolak.”

“Ada lagi virus jahat yang telah mengacaubalaukan pemikiran dan perasaan kaum muslimin, kemudian merusak bumi dan negeri mereka. Dia adalah nasionalisme dan rasialisme. Setiap bangsa dari mereka bangga dengan kebangsaannya dan lupa akan ajaran yang dibawa oleh Islam, bahwa Islam mengikis habis fanatisme kejahiliyahan dan kebanggaan yang berlebihan terhadap suku, warna kulit dan garis keturunan.”

Beliau berbicara tentang Fir’aunisme, “Di satu sisi kami tidak bisa menutup mata dari sejarah Mesir yang di dalamnya terdapat kejayaan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan. Di sisi lain, kami mempunyai komitmen untuk meluruskan penyimpangan. Bahkan kalau perlu kami akan memerangi segala warisan ideologi Firaun (Fir’aunisme) dengan seluruh kekuatan kami jika masih ada pihak-pihak yang meyakininya sebagai ideology bangsa Mesir dan mengajak menerapkannya. Padahal Allah telah memberikan hidayah kepada bangsa ini dengan ajaran Islam, melapangkan dadanya, menerangi bashirah-nya, menambah kemuliaan dan kejayaannya melebihi apa yang pernah diraihnya sebelum ini, serta membebaskannya dari apa saja yang mewarnai sejarahnya dari daki-daki Paganisme, noda-nida syirik, dan berbagai tradiri jahiliyah.

Imam Syahid juga menolak yang menjadikan nasionalisme dan kebangsaan sebagai pembenar untuk menjauhkan umat dari agamanya, “Salah satu alasan pembenar yang dipakai oleh orang-orang yang berpikir dengan kerangka piker model Barat –dalam rangka menyudutkan Islam- adalah mereka senantiasa mengembor-gemborkan prilaku para tokoh agama di kalangan kaum muslimin, dimana sikap mereka senantiasa kontraproduktif terhadap kebangkitan bangsa mereka sendiri. Mereka (para tokoh agama) senantiasa menindas warganya, bekerjasama dengan para perampas hak rakyat, memberikan kepada mereka (para perampas) perlakuan yang istimewa, serta membagi-bagikan kedudukan dan keuntungan materi, dengan mengabaikan kemaslahatan Negara dan masyarakat.

Tuduhan semacam itu, kalaupun benar, adalah karena bobroknya mentalitas para tokoh agama itu sendiri, bukan karena agamanya. Lagi pula apakah pantas agama ini memerintahkan demikian?

Tidakkah anda menyimak kisah, dimana mereka menghinakan para raja dan penguasa di pagar dan di pintu istana mereka? Mereka dengan sangat tegar dank eras menunjukkan sikapnya, berani memerintah, mencegah, bahkan menolak hadiah-hadiah dari para penguasa dan raja-raja itu. Mereka menjelaskan makna hakikat kepada para penguasa tersebut, menyampaikan tuntutan-tuntutan umat, bahkan lebih dari itu mereka senantiasa siap memanggul senjata jika menghadapi berbagai tindak kezhaliman.”

“Oleh karenanya, tuduhan-tuduhan itu di atas seharusnya menjadi alasan untuk memalingkan umat dari ajaran agamanya atas nama nasionalisme murni. Bukankah merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi umat jika anda memperbaiki para tokoh agama tersebut (sekiranya dia memang salah) atau menuntut kebaikan dari mereka, bukan malah menyikapinya dengan sikap yang membinasakan? Lagi pula, istilah ‘tokoh agama’ yang sudah demikian popular di masyarakat kita adalah istilah serapan dan taklid buta yang tidak sesuai dengan tradisi kita. Kalaupun hal ini dibenarkan dalam persepsi Barat dengan Aklerus, maka dalam tradisi Islam meliputi seluruh muslim. Baik orang muslim biasa maupun tokohnya, adalah tokoh agama.”

Adapun tentang beberapa pemahaman yang sesuai dengan Islalm, Imam Syahid menyebutkan, “Jika yang dimaksudkan oleh para tokohnya adalah bahwa generasi penerus harus mengikuti jejak para pendahulunya dalam mencapai kejayaan, kebesaran, dan kecemerlangan; atau jika yang dimaksud dengan kebangsaan adalah kebangsaan umat, dimana sebuah anggota keluarga seseorang dan umatnya adalah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan dan kebajikannya, dan yang paling berhak menerima perlakukan baiknya, dan ini merupakan kebenaran dan makna yang baik yang tidak dilupakan oleh Islam.”

Beliau juga berkata, “Jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme adalah adalah keharusan berjuang membebaskan tanah air dari cengkeraman imperialisme, menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putera-puteri bangsa, maka kamipun sepakat tentang itu.

“Jika yang mereka maksudkan adalah dengan nasionalisme adalah memperkuat ikatan kekeluargaan antar anggota masyarakat atau warga Negara serta menunjukkan kepada mereka cara-cara memanfaatkan ikatan itu untuk mencapai kepentingan bersama, maka disinipun kami sepakat dengan mereka. Islam bahkan menganggap itu sebagai kewajiban.”

– Sikap Imam Syahid terhadap gerakan-gerakan separatis di beberapa komunitas masyarakat Muslim:

Tentang sikap Imam Syahid terhadap gerakan-gerakan separatis di beberapa komunitas masyarakat muslim dengan dalil bahwa mereka terancam tindakan kezaliman dari pemerintah dan dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Kelompok separatis ini cenderung menggunakan senjata. Dalam menyikapi hal ini Imam Syahid memiliki sudut pandang politik yang dalam, ia menyerukan persatuan dunia Islam dan memproteksinya, namun di waktu yang sama ia juga melihat harus disertai dengan pemberian dan pengembalian hak kepada setiap orang, dan ia menolak melakukannya dengan menggunakan senjata dan pemukul, atau mengalirkan darah seorang muslim.

Pada pertengangan tahun 1945 M, sewaktu terjadi Revolusi Barzaniyah Kurdiyah melawan pemerintah Irak, Imam Syahid mengirimkan surat kilat kepada pemerintah Irak (yang dipublikasikan oleh majalah Ikhwanul Muslimin pada waktu itu), beliau menghimbau agar krisis Kurdi diselesaikan dengan jalan dialog, mewujudkan persamaan, menyingkirkan kezhaliman, bukan melalui senjata atau besi.

Hal ini berpijak dari pemahaman syari’I tentang urgensi persatuan umat dan dengan ketetapan pemberian hak; politik, bahasa, struktural, aset negeri untuk bangsa Kurdi, dan menetapkan bagian yang cocok dan seimbang.

Sikap Terhadap perdamaian internasional dan kemanusiaan

Seputar sikap terhadap perdamaian internasional dan kemanusiaan, maka ia juga memiliki tempat di dalam dakwah Ikhwanul Muslimin.

Imam Syahid berkata, “Kemanusiaan memiliki dua pondasi utama, kalau kemanusiaan ditegakkan di atas keduanya maka akan tinggilah nilai kemanusiaan hingga ke ketinggian langit:

1. Manusia itu dari Adam, maka mereka semua bersaudara dan wajib untuk saling tolong-menolong, berdamai dan berkasih sayang serta saling menasehati dalam kebaikan.

2. Adanya perbedaan di antara mereka adalah atas dasar amal. Maka setiap mereka harus berusaha keras mengangkat harkat kemanusiaan.

“Diantara bentuk dakwah kalian wahai ikhwah yang saya cintai, adalah kalian turut andil memberikan kontribusi untuk perdamaian dunia dan membangun kehidupan yang baru untuk manusia, dengan menunjukkan kepada mereka bentuk-bentuk riil kebaikan agama kalian, menjelaskan tentang prinsip-prinsip dan ajarannya, serta menyampaikannya kepada mereka.”

“Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin menginginkan kebaikan untuk seluruh dunia, dan mereka menyerukan persatuan internasional, karena hal ini merupakan tujuan Islam dan makna dari firman Allah Swt

“Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa. Maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”. (Al Anbiya: 108)

Beliau juga berkata, “Kemudian negeri muslim akan semakin mekar hingga menaungi seluruh dunia.”

“Ikhwanul Muslimin menyerukan perdamaian internasional yang tegak di atas asas dan prinsip-prinsip yang dibawa Islam, dan sesungguhnya bumi dan seluruh isinya adalah lapangan dakwah, dakwah kepada kebenaran dan cahaya, yang ditebar dengan hikmah dan nasehat kebenaran. Imam Syahid berkata, “Secara umum dapat dikatakan bahwa kita berhadapan dengan gelombang materialisme, yang berupa kebangkitan sector materi dan peradaban kelezatan serta syahwat, yang mana ia telah memerosotkan moral bangsa-bangsa Islam, menjauhkan mereka dari kepemimpinan Nabi Saw. dan hidayah Quran, menghalangi dunia dari bimbingannya, menarik mundur peradabannya ke masa ratusan tahun silam sehingga kita terbelenggu di negeri sendiri dan membiarkan masyarakat bergulat dengan derita.

Kita tak boleh tinggal diam di hadapan ini semua, namun harus kita hadapi mereka di tempatnya dan siap bertempur di bumi dimana ia bercokol, hingga dunia seluruhnya menyuarakan dakwah atas nama Nabi Saw.”

Imam Syahid berkata, “Kami meyakini bahwa semua bentuk kebangkitan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam dan berbenturan dengan hukum-hukum Al Quran adalah sebuah upaya yang rusak dan akan menemui kegagalan.”

“Kami meyakini bahwa di dalam manhaj Islam terdapat dasar-dasar yang diperlukan untuk kehidupan bangsa-bangsa, dan kebangkitannya serta bagaimana memperbantukannya untuk kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan Negara; dengan demikian maka kebangkitan dunia timur terkini harus menggunakan kaidh-kaidah Islam dan prinsip-prinsipnya dalam setiap lini kehidupan.”

Walaupun Islam telah menetapkan kaidah-kaidah umum, namun ia masih meninggalkan ruang yang sangat luas bagi seorang muslim dalam mengambil manfaat dari pelbagai syariat yang bermanfaat, yang tidak bertentangan dengan ushul-ushul Islam dan tujuan-tujuannya, dan ia memberikan ganjaran pahala terhadap setiap ijtihad yang disertai dengan syarat-syaratnya, menetapkan kaidah mashalihul mursalah, dan menganggap urf (kebiasaan), menghormati pendapat para imam, semua kaidah-kaidah ini menjadikan syariat Islam berada pada puncak kemuliaan di antara syariat-syariat, undang-undang dan hukum.”

Imam Syahid memandang perdamaian internasional, tidak akan terwujud secara benar dan sesuai dengan prinsip keadilan, kecuali dengan berdirinya umat Islam dan memimpin dunia secara keseluruhan (ustaziyatul Alam).

“Jika belum berdiri di dunia sebuah umat dakwah yang baru (umat Islam) yang akan mengemban risalah kebenaran dan perdamaian, yang akan mencurahkan kesehatan kepada dunia dan kedamaian kepada kemanusiaan, maka itu merupakan kewajiban kita, di tangan kita ada secercah cahaya dan botol obat penawar yang bisa kita gunakan untuk memperbaiki diri kita dan mengajak orang lain.”

“Ikhwanul Muslimin mendeklarasikan di setiap waktu-waktu mereka bahwa seorang muslim harus menjadi imam (pemimpin) dalam berbagai hal, dan ia tidak rela jika tidak mendapatkan kepemimpinan, aktivitas, jihad dan terdepan dalam segala hal.”

“Terbelakang dalam berbagai hal akan berpengaruh buruk terhadap pikiran kita dan bertentangan dengan agama kita.”

Seputar konflik internasional:

“Komunis sangat keras berupaya menyebarkan ajarannya kepada masyarakat, demokrasi imperialis yang hina juga berusaha melawan dari sisi yang lain, sedangkan ditengah mereka ada kelompok sosialis, dan di antara mereka semua ada umat Islam yang kokoh dan tegar di dalam hati selama 14 abad.”

Imam Syahid juga berkata, “Sesungguhnya dunia sekarang ini, berada pada posisi saling tarik-menarik antara Komunis Rusia dan Demokrasi Amerika, ia merasakan kegoncangan dan kebingungan serta tak satupun dari dua jalan itu yang dapat mengantarkannya kepada ketenangan dan keselamatan. Dan sekarang, di tangan kalian ada botol obat penawar yang berasal dari wahyu langit, maka kalian berkewajiban untuk mendeklarasikan hakikat (kebenaran dakwah) dengan jelas, kita harus mengajak kepada manhaj kita yang islami dengan penuh kekuatan, kita tidak perlu takut karena kita tidak memiliki negara atau kekuatan, karena sesungguhnya kekuatan dakwah terletak pada dakwah itu sendiri, lalu pada hati orang-orang yang meyakininya, lalu pada kebutuhan dunia padanya, kemudian pada pertolongan Allah, kapan saja ia berkenan menunjukkan kehendak dan kekuatannya.”

Membatasi dasar-dasar kerjasama bilateral:

Imam Syahid berkata, “Kami tidak lengah dan lemah pemahaman dengan meyakini bahwa kami mampu hidup menyendiri dari manusia, dan terpisah dari persatuan internasional, namun yang keluar dari kerongkongan kami –kami adalah umat Islam- suara pertama yang kami serukan, dan yang dilafalkan adalah kata kasih dan perdamaian:

“Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa. Maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)”. (Al Anbiya: 108)

Namun kami mengetahui bahwa dunia sangat membutuhkan kerjasama dan tolong-menolong serta saling memberikan maslahat dan manfaat. Kami telah bersiap untuk membantu kerjasama ini dan mewujudkannya di bawah naungan yang tinggi dan mulia yang menjamin hak-hak dan kebebasan, yang kuat membantu yang lemah hingga bisa bangkit.”

Beliau juga berkata, “Namun ketika Barat insaf dan meninggalkan cara-cara penindasan dan menahan dirinya maka akan sirnalah fanatisme yang membabi-buta dan digantikan oleh fikrah yang jernih, yaitu fikrah kerjasama antara bangsa dalam kebaikan dan kemajuan.”

Tentang organisasi-organisasi Negara dan optimalisasinya dalam perdamaian internasional:

Imam Syahid mengenal benar karakter kegiatan ini. Orang-orang yang memiliki kepentingan yang berada di belakangnya menutupi diri mereka dengan slogan-slogan dan seruan-seruan yang memukau. Kekuatan internasional ini hanya bekerja untuk kemaslahatannya saja dan berhimpun melawan hak-hak kita sebagai warga Negara dan menipu kita dalam pelbagai permasalahan penting.

Pengetahuan dan kesadaran ini, sebenarnya bisa dimanfaatkan sesuai dengan kemampuan, dengan tetap mawas diri dan jangan tertipu atau terlalu menggantungkan diri kepadanya, namun hendaknya bersandar kepada diri dan kemampuan kita sendiri. “Perang Dunia II telah usai. Perang inilah yang berhasil mengikis rasialisme di Eropa, kepongahan Nazi Jerman, Fasisme Italia. Setelah itu, kita melihat persatuan Negara-negara Eropa, yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bersatu dan bersekutu; yang ada kalanya dengan atas nama nasionalisme, dan pada saat yang lain atas nama kepentingan bersama. Rusia menghimpun Ras Sicilia dengan segenap bangsanya di bawah panji Uni Soviet. Inggris dan Amerika membentuk koalisi dengan mengatasnamakan suku bangsa dan bahasa. Kemudian, kedua Negara itu membagi-bagi berbagai bangsa didunia dengan dasar kemaslahatan bersama dan kepentingan hidup. Lalu, persaingan antar kedua Negara ini dibungkus dengan mendirikan PBB, untuk mengelabui masyarakat dunia dengan menganggap bahwa mereka bekerja untuk kemaslahatan seluruh umat manusia.

Sebagaimana kita saksikan bahwa Negara-negara itu ternyata bersatu padu jika menghadapi hak-hak kebangsaan kita. Mereka mengabaikan masalah-masalah esensial kita, baik yang diungkap di Dewan Keamanan maupun di Majelis umum PBB sendiri, sebagaimana persoalan yang berhubungan dengan Mesir, Palestina, dan Indonesia.

“Bahkan mereka hanya mencukupkan dengan keputusan-keputusan saja, dan tidak ada yang dilaksanakan kecuali yang mereka inginkan saja dan yang memberikan kemaslahatan kepada mereka.”

Imam Syahid juga menjelaskan tentang sikap organisasi-organisasi ini terhadap permasalahan Palestina:

“Dulu kita memiliki harapan kepada naruni dan simpati dunia, namun sayang kita harus kehilangan semua cita-cita itu dan kehilangan kepercayaan kepada pemerintah yang keras dan sesat itu, pemerintah Barat dan Negara-negaranya, dan kita Al hamdulillah, memiliki kekuatan materil dan spiritual untuk sampai kepada kemenangan –dengan izin Allah-.

Partner Negara dan sikap terhadap orang-orang asing:

Pertama: Partner Negara

Imam Syahid membatasi hubungan-hubungan ini dengan jelas dan terpusat pada syariat Islam dan manhaj Rasulullah Saw. Warga Negara non muslim, adalah partner kita di Negara, mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita. Persatuan nasional ini dibangun oleh Islam hingga ke tingkat kesuciaan agama, dan ia adalah ibadah yang akan diperhitungkan oleh Allah. Imam Syahid berkata, “Sesungguhnya Islam sangat mensucikan persatuan kemanusiaan sebagaimana dalam Al Quran:

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujurat: 13)

Kemudian, Islam mensakralkan kesatuan agama sehingga ia memotong akar-akar fanatisme buta dan mewajibkan kepada putera-puterinya untuk beriman kepada seluruh agama langit secara keseluruhan, sebagaimana firman Allah:

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (Al Hujurat: 10)

Ajaran Islam ini –yang membangun prinsipnya di atas keseimbangan dan keadilan yang sempurna- dan tidak mungkin mencetak pengikut menjadi biang perpecahan dan perselisihan. Sebaliknya, ia bahkan menganggap persatuan sebagai salah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh agam, ketika (selama ini) kekuatan persatuan hanya berlandaskan pada teks-teks kesepakatan belaka.

Banyak orang berprasangka bahwa komitmen terhadap Islam dan menjadikannya sebagai pondasi bagi bangunan kehidupan berarti menolak keberadaan kelompok minoritas non muslim dalam masyarakat Islam dan menolak adanya kesatuan berbagai kelompok masyarakat. padahal sesungguhnya ia merupakan pilar yang kokoh di antara pilar-pilar penyangga kebangkitan umat.

Prasangka tersebut jelas tidak benar, karena Islam yang diturunkan oleh Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui –yang memahami benar apa yang terjadi pada umat manusia, baik di masa lalu, masa kini, dan masa mendatang, yang pengetahuan-Nya menguasai berbagai persoalan umat masa lalu- tidak menciptakan sebuah sistem yang suci dan arif kecuali pasti mencakup perlindungan terhadap masyarakat minoritas di dalam teks-teks wahyu-Nya yang demikian jelas; tidak ada kerancuan dan campur aduk di dalamnya.

Jika orang ingin mengetahui lebih jelas, lihatlah ayat berikut ini:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (Mumtahanah: 8)

“Ayat ini tidak hanya berbicara mengenai perlindungan saja, melainkan juga berbicara mengenai anjuran agar berbuat baik kepada mereka.”

“Sesungguhnya Islam, adalah agama persatuan dan persamaan, yang menjamin ikatan di antara semua elemen selama kerjasama untuk kebaikan.”

Tidak benar jika ada yang menyangka bahwa Ikhwanul Muslimin adalah kumpulan para propagandis rasialisme yang membeda-bedakan status sosial di antara anggota masyarakat. kami menyatakan bahwa Islam adalah agama yang sangat menekankan kepada pemeluknya untuk menghormati kesatuan kemanusiaan secara umum.

Islam dating untuk mewujudkan kebaikan bagi sekalian manusia dan rahmatan lil ‘alamin. Dan agama yang demikian itu tentunya jauh dari membeda-bedakan hati dan membelah-belah dada.

Islam telah mengharamkan permusuhan, sampai-sampai dalam keadaan marah dan benci sekalipun. Maka Allah Swt. berfirman:

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa”. ( Al Maidah: 8)

“Islam juga memerintahkan kepada kita untuk berbuat dan bermuamalah secara baik kepada orang-orang kafir dzimmi. Kami memahami ini semua, maka kami tidak pernah mengajak kepada perselisihan antar kelompok ataupun fanatisme golongan.”

Minoritas non muslim di negeri ini sangat paham bagaimana mereka berhasil mendapatkan ketenangan, keamanan, keadilan serta emansipasi yang utuh pada setiap ajaran dan hukumnya yang ada pada agama ini.

Berbicara tentang hal ini sepertinya tidak akan ada habisnya. Sejarah panjang yang bercerita tentang hubungan baik antara penduduk negeri ini semuanya –baik yang muslim maupun non muslim- cukuplah untuk mengungkap secara jelas tentang hal di atas. Memang, sebaiknya kita mencatat penduduk negeri yang mulia ini, bahwa mereka mampu yang mengekspresikan makna-makna ajaran dalam berbagai kesempatan. Mereka menganggap bahwa Islam adalah satu di antara makna nasionalisme mereka, meski hukum dan ajarannya belum menjadi keyakinan mereka.

Namun Imam Syahid menjelaskan dan memperingatkan jangan sampai seruan persatuan nasional ini dijadikan benih untuk menghadang dakwah Islam dan penyebaran prinsip-prinsipnya serta pendirian masyarakat muslim, maka hal ini merupakan penyimpangan dan penindasan terhadap Islam.

Imam Syahid berkata, “Namun demikian kami juga tidak akan membeli kesatuan ini dengan iman kami, tidak akan melakukan tawar-menawar dalam masalah akidah untuk merealisasikannya, dan kami juga tidak akan pernah mengorbankan kemaslahatan kaum muslimin demi terwujudnya kesatuan yang semua. Kami hanya akan membeli kesatuan ini dengan kebenaran dan keadilan, dan cukuplah itu bagi kami. Maka barang siapa yang berusaha dengan yang selain itu, niscaya kami akan menghentikannya dan akan kami jelaskan mengenai kesalahan yang dilakukannya. Sungguh kemuliaan itu bagi Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”

Al Ustadz Musthafa Masyhur, menjelaskan bahwa persatuan nasional mencakup makna Islam itu sendiri, beliau katakan, “Negara Mesir menyatu bersama Islam dengan sepenuh dirinya; akidah, bahasa dan peradabannya, yang kemudian membelanya, semakin luas jangkauannya, menolak setiap penindasan, dan melakukan jihad dengan harta dan jiwanya.”

Idenitas Islam ini, tidak berhenti hanya pada orang-orang yang komitmen terhadap agama Islam di dunia Islam, namun juga mencakup seluruh kelompok minoritas non muslim yang telah hidup bersama komunitas muslim, baik ras, peradaban dan kebangsaan. Dengan demikian, identitas Islam tercermin dalam diri seorang muslim yang berupa: akidah, syariah, kemuliaan, peradaban, ras, kebangsaan, budaya, sejarah dan warisan turats di bidang pemikiran dan undang-undang, sama halnya dengan warga Negara muslim dalam aspek-aspek tersebut secara sama.

Kedua: Sikap Islam terhadao orang-orang asing:

Imam Syahid juga menjelaskan tentang hal ini dengan mengatakan, “Saya ingin menegaskan kepada kalian wahai tuan-tuan sekalian dengan ketegasan yang pasti bahwa politik Islam, baik dalam maupun luar negeri menjamin kesempurnahan pemenuhan hak non muslim, baik hak kenegaraan, atau hak kewarganegaraan yang minoritas non muslim; hal itu karena kemuliaan Islam –di tingkat internasional- kemuliaan yang paling suci sepanjang sejarah.

“Inilah sikap Islam terhadap kelompok minoritas non muslim, sangat jelas dan sama sekali tidak aniaya. Prinsip Islam dalam menyikapi umat lain adalah prinsip perdamaian dan persahabatan, sepanjang mereka berprilaku lurus dan berhati bersih. Namun, jika hati mereka rusak dan kejahatan mereka merajalela, Al Quran pun menggariskan sikap tegas dengan firmannya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh Telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. apabila mereka menjumpai kamu, mereka Berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu Karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati”. (Ali Imran: 118-119)

Islam telah menentukan secara cermat tentang siapa saja yang harus kita boikot, berlepas diri darinya dan tidak berhubungan dengan mereka:

“Sesungguhnya Allah Hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu Karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Mumtahanah: 9)

Tidak ada satu pun orang bijak yang dapat memaksakan kepada suatu bangsa untuk rela di dalam tubuhnya ada orang yang sifatnya seperti tersebut pada ayat di atas, yang hanya akan menciptakan kerusakan dan mengacaukan sistem hidupnya (bangsa itu).

Kami tidak memusuhi bangsa Barat di belahan dunia manapun. Sesunguhnya manusia dengan statusnya sebagai manusia dihimpun oleh pertautan kemanusiaan. Adapun perhitungan kita adalah terhadap pemerintah Barat yang memperbudak Negara-negara Islam, merampas tanahnya dan membantu penindas untuk melakukan penindasan.

Imam Syahid menolak orang-orang yang menjadikan orang-orang asing sebagai hujjah dan kendala utama dalam menerapkan syariat Islam di masyarakat, “Ada sebagian orang menuduh bahwa sistem Islam (dalam alam kehidupan modern) menjauhkan kita dari Negara-negara Barat dan mengeruhkan hubungan politik antara kita dengan mereka, yang sebelumnya berjalan harmonis. Tuduhan itu tentu saja tanpa dasar dan merupakan lamunan belaka.

Akan halnya Negara-negara itu, kalau mereka tetap berburuk sangka kepada kita, memang begitulah jalan pikiran mereka, baik kita mengikuti Islam maupun tidak. Namun, jika saja mereka dengan tulus mau memberikan kepercayaannya kepada kita, sebenarnya para juru bicara dan para politisi mereka jga sering berkata lantang bahwa setiap Negara itu bebas menentukan sistem ideologi yang akan dijadikan pijakannya, sepanjang tidak merampas hak-hak bangsa lain.

Para pemimpin politik Negara-negara itu seharusnya paham bahwa Islam sebagai sistem kenegaraan adalah sistem paling mulia lagi sakral yang pernah dikenal oleh sejarah. Sedangkan dasar-dasar ideology yang diletakkan oleh Islam yang bertujuan untuk melindungi dan menjaga kemuliaannya, adalah dasar-dasar ideology paling kokoh yang pernah dikenal manusia.

 

Posted By : Abdi

Sumber :

http://www.al-ikhwan.net/konsep-reformasi-dalam-perspektif-ikhwanul-muslimin-13-bab-xi-penjelasan-seputar-sikap-dakwah-dan-politik-jamaah-5-sikap-jamaah-terhadap-mazhab-mazhab-dan-aliran-aliran-4199/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s